Senin, 20 Maret 2017

Payakumbuh III Kabupaten Lima Puluh Kota

Payakumbuh III

Kabupaten Lima Puluh Kota


Masih di sini, Kabupaten Lima Puluh Kota. Jika sebelumnya kunjungan penulis selalu bertema alam, maka sekarang ke arena budaya dan teknologi.

Yang pertama yang akan di ungkap adalah Rumah Gadang Sungai Beringin. Rumah Gadang Sungai Beringin merupakan sebuah komplek bangunan rumah gadang yang sangat gagah dengan pemandangan alam yang amat menenangkan. Rumah gadang ini terletak di Nagari Sungai Beringin.

Rumah Gadang Sungai Beringin
Rumah Gadang Sungai Beringin yang mempesona. Maafkanlah gaya kami

Komplek rumah gadang ini juga dilengkapi taman-taman yang menambah kesan ciamik, hijau dan asri. Kiri kanan adalah sawah yang menghijau serta diselingi oleh kenampakan bukit barisan yang menambah indah pemandangan sekitar komplek Rumah Gadang Sungai Beringin ini.




        Rumah Gadang Sungai Beringin dapat menjadi pilihan bagi anda yang berkunjung ke Payakumbuh atau Kabupaten Lima Puluh Kota. Rumah Gadang ini tak kalah dengan Istana Pagaruyung di Batu Sangkar. 

Berikut kenampakan lain Rumah Gadang Sungai Beringin

Penampakan salah satu taman, dengan pohon yang rindang


Minggu, 26 Februari 2017

Rindu dalam Logika


Seanggun  rindu di deret jemarimu itu
Selembut angkuh didadamu kini

Menutupi perasaan menipu diri
Menjadikan rindu imaji tak hingga

Jarak
Adalah meter-meter persegi yang membatasi
Ruang-ruang waktu yang kita tempuhi
Bukankah temu adalah do’a-do’a ditiap malammu?
Akan ganjil-ganjil yang mesti kita genapi

Dan kini, pertemuan menjadi paradoks
Rindu dalam genggammu tak lagi rasional
Katamu ”Rindu ini nikmat bila ia tetap merindu”,
“dan pengkhianatan atas nama temu”,
menjadikan gebu-gebu itu tak lagi bernilai”.

Katamu “Cinta tak dinilai atas kuantitas temu”.
Cinta dimatamu ialah kualitas atas tahun-tahun sesak penuh rindu,
Dan dua hati tetap bertahan
Meski bilangan-bilangan rayu radikal menjamu
Ia kokoh pada satu cinta
Aku dihatimu, kamu dihatiku

Aku benci aksiomamu
Rindumu adalah cinta tak terdefinisikan
Dan pertemuan menjadi statistik-statistik atas angka-angka yang tak akan menjelaskan apa-apa
Aku gagal memahami realitas logikamu

Sebelum rindu menjadi elegi
Aku pergi
Biar kau puas menghitung nikmat-nikmat
Dan aku puas mengumpat

Minggu, 29 Januari 2017

Sananglah uda di tangan urang


by : Dessy Santhia

Uda kanduang pautan sayang
Denai lengahkan
Takuik batamu pandang
Den tahan hati
Den gumam isak
Den gumam mato jan balinang
Buliah jan cangguang uda basandiang duo di palaminan

Cinto indak denai sasali
Alah biaso ganiah urang jauhi
Yo untuang cinto lai amuah singgah di hati
Walau sakali
Bialah den ganggam-ganggam surang diri
Yo sampai mati

Bialah sayang
Bialah sayang
Hilang si dagang malang
Bialah sayang
Bialah sayang
Luko den tangguang surang

Dalam langang
Den do’akan

Sananglah uda di tangan urang

Minggu, 22 Januari 2017

Payakumbuh II


Payakumbuh II Kabupaten 50 Kota

Masih di sini, Kabupaten 50 Kota dan sekitarnya. Kali ini penulis akan sedikit membahas dua lokasi wisata yang satu masih tersembunyi dan satunya lagi sempat hits di IG.

Air terjun Jaro atau Lubuk Jaro. Ini yang pertama akan dibahas. Air Terjun Jaro adalah salah satu dari banyak air terjun yang ada di Payakumbuh maupun Kabupaten 50 Kota. Lokasi tepatnya berada di Kecamatan Mungka. Untuk mencapai air terjun ini, butuh waktu kira-kira 45 menit dari simpang 3 Mungka. Dari simpang 3 Mungka perjalan bisa ditempuh dengan kendaraan, namun menjelang sampai, sisa perjalanan akan diteruskan dengan berjalan kaki.


Ini adalah penulis bersama rekan-rekan


Berbicara tentang track yang mesti dilalui, tidaklah sulit. Gambar di atas merupakan rupa dari track menuju air terjun Jaro. Selama perjalan penulis melalui dua sungai kecil yang airnya jernih, tidak pula dalam. Menyegarkan untuk sekedar mencuci muka.

air terjun jaro
Air terjun telah mulai terlihat. Dari kejauhan saja kita sudah bisa mendengar debur suara air terjun.


lubuak jaro
Dan inilah air terjun Jara. Yang tersembunyi dan masih belum begitu ter-ekspose.









       


















Selanjutnya, Bukit Batu Manda. Jika tadi adalah air terjun, kali ini adalah sebuah bukit yang cukup tinggi dengan sebuah batu besar yang mendiami puncaknya.

batu manda

Sabtu, 14 Januari 2017

Kita Hanya Terlambat Bertemu


Kita hanya terlambat bertemu
Sebelum perasaan satu sama lain menjadi haru
Ia dulunya adalah tatapan malu-malu
Dan senyum senyum tersipu

Kita hanya terlambat bertemu
Yang membiarkan perasaan tumbuh terus menerus
Yang membiarkan perjumpaan-perjumpaan meng-akrabkan
Yang membiarkan hangat menenangkan hati masing-masing
Yang membiarkan nyaman satu sama lain

Kita hanya terlambat bertemu
Hingga akhirnya keadaan menyadarkan kemesraan
Kau miliknya, dan aku milik yang lain
Kita hanya terlambat bertemu

Untuk waktu-waktu yang telah melahirkan rindu-rindu
Untuk masa-masa yang telah meminjamkan kebersamaan
Perpisahan kini akan mengembalikan kita
Memulangkan yang hilang ke asalnya
Mengembalikan perasaan kepada sang empunya

Untuk perasaan yang tak sampai
Untuk cinta yang tak tergapai


Kita hanya terlambat bertemu

kita hanya terlambat bertemu, rindu

Jumat, 30 Desember 2016

Ameh Loyang

Adiak ameh denai loyang
Dimalah mungkin basatu
Adiak nan di rumah gadang
Lah biaso sanang
Hiduik kayo rayo
Denai nan banasib malang
Usah rumah gadang
Pondok pun ndak punyo

Minyak bacampua jo aia
Jaleh garih pambatehnyo
Adiak nio kawin lari
Denai nan bapikia
Indak takao
Mangko denai nan basuruik
Hati denai takuik
Isuak kok sansaro

Ameh loyang jikok basatu
Loyang nan lain tantu cimburu
Lah ka nasib cinto ka putuih
Rang tuo adiak indak satuju

ameh loyang

Jumat, 16 Desember 2016

4.8

Step by step

Malam itu temaram, mendung lagi-lagi mengunjungi langit malam “Kota Ini” seakan ia enggan berpisah lama dengannya. Suasana sunyi ikut meramaikan pesta hening malam itu. Pada sebuah kamar dalam sebuah rumah, Adi tengah menatap lekat jauh dari kursi tempatnya terpaku. Ia menatap jauh melewati jendela kamarnya. Sebenarnya ia baru saja menyelesaikan PR, meja belajarnya yang diposisikan pas pada jendela kaca kamar membuatnya sesaat tertawan akan hitam pekat malam itu. Tiba-tiba rintik hujan mulai terjun satu persatu, perlahan menggores jendela kaca kamarnya. Alunan rintik perlahan memati-kan pesta sunyi malam dipikiran Adi. Adi menghela napas panjang, mula-mula ia mulai menikmati aroma hujan yang hanya sekejap telah bergemuruh dan lebat.

Menatap hujan yang kian mengguyur membuat Adi mengingat kembali peristiwa pagi tadi disekolah, ketika ia disapa oleh seorang gadis manis dengan kaca mata yang membingkai diwajahnya. Ia masih ingat akan senyum indah seindah bulan merekah keemasan dimalam hari, ia masih ingat akan gelap hitam bola mata dari sebalik optik yang memagarinya, seindah kilapan mutiara hitam. Ia masih mengingat jelas kilau hitam rambut gadis itu ketika ia memperhatikannya ketika perlahan menghilang dari tatapan. Wajah gadis itu, baginya amat lekat dalam lensa matanya, terekam jelas dalam benaknya, akan amat sulit bagi Adi melupakan wajah gadis itu, indah senyumnya, kilau dua bola matanya, amat susah untuk dilupakan. Sembari mengagumi keindahan, Adi pun diliputi keheranan akan siapa agaknya gadis itu. Seingatnya, tak pernah ia kenal dengan perempuan itu sebelumnya, pun demikian, perempuan itu tahu namanya. Semakin Adi mengingat, semakin ia tidak menemukan jawaban. Teman SD? Entahlah, rasanya bukan. Teman SMP? Ia ragu, ia tak banyak bergaul, jadi dia akan tahu siapa saja orang yang kenal dengannya. Ia masih bingung dan juga penasaran.
Hujan tetap keras, hingga larut. Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak Adi akan anak gadis tadi pagi berakhir dengan rasa penasaran yang amat sangat.

...

Di lain tempat, ketika hujan masih begitu lebatnya tampaklah sebuah sepeda motor terparkir pada sebuah kedai kaki lima yang menjual gorengan di tepi jalan. Sepeda motor Ninja berbadan hitam yang tak lain adalah milik Adri semakin mengkilat akibat air hujan serta kerlap-kerlip lampu jalanan. Adri yang terlambat pulang ketika hujan terpaksa ‘berteduh’ di kedai gorengan. Meski terpaksa, gorengan-gorengan itu dapat juga menghangatkan ketika dingin mengaliri udara malam. Sehabis mengunjungi Red Stars di Rumah Sakit, Adri sibuk dengan berbagai urusannya sehingga pulang malam adalah kebiasaan baginya. Dan malam ini, hanyalah malam kesekian kalinya ia pulang malam.

...

Jarum jam menunjukkan tepat di angka 10:00 WIB. Erika telah terlelap dalam mimpinya. Setelah mengerjakan beberapa PR, lelah karena menghabiskan sore bersama Adi dan Andra di pantai membuatnya cepat melelapkan diri.


Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...