Tampilkan postingan dengan label 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 4. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 September 2017

4.12.

 Introduce of Me

Pada sebuah tempat yang penuh dengan intrik. Redstars sedang berkumpul bersama Arainan. “Aku tak bisa memaksanya, dan bukan prinsipku untuk menyerang dari belakang” ucap Arainan. “Si mesum ini juga punya harga diri rupanya” balas Anwar. Arainan nampak kesal mendengarnya.
“Begini saja, kau ikuti strategi ku, strategi ini cocok dengan jiwa mesummu itu”.
“Sial, tapi kalau cocok boleh deh, apa ide mu?
Dan tak lama setelah itu, dua pertarungan besar akan meramaikan SMA 4 yang damai ini.
***

Malam itu Adi sangat sibuk dengan game Playstation 1 nya. “Di, makan dulu nak, kamu belum makan sejak sore tadi” seru ibu yang sampai mendatangi kamar Adi. Adi masih asyik saja dengan permainannya, suara alunan radio menjadi hiburannya malam itu. alunan lagu sendu membuat suasana bermain Adi jadi kusyuk. Tiba-tiba suasana jadi hening, alunan lagu dari radio hilang. “Di, makan dulu, kamu masih belum makan sejak tadi sore!” kali ini Ibu masuk kamar Adi dan langsung mematikan radio. “Eh Ibu, iya bu, nanggung dikit lagi” seru Adi sambil tetap melanjutkan pekerjaan. “Sekarang, Adi!!!” bentak Ibu. Kali ini tanpa ba bi bu Adi langsung meloncat dari arena bermainnya. “Iya bu”. Adi tak berani melawan kalau Ibu sudah membentak seperti itu. “Dasar anak jaman sekarang harus di bentak dulu baru jalan” keluh ibu.
Ibu menghampiri Adi di meja makan.
“Di, kapan rapor semester satu ini dibagikan?.
“Sabtu depan bu, sekarang sekolah lagi classmeeeting, ibu bisa datang kan?”
“Hmmm, tentu, ibu akan datang tapi mungkin ibu mesti ke toko sebelum itu, tidak apa-apa kan?”
“Iya bu, lagipula bagi rapornya paling cepat jam 09.00”
“Iya Di” jawab ibu sambil tersenyum. Sebagai orang tua tunggal, ibu hanya malam hari saja bertemu dengan Adi di rumah, karena sejak pagi hingga sore ibu harus ke toko di pasar. Pagi-pagi sekali ibu sudah mesti bangun untuk memasak. Untungnya Adi sudah terbiasa mandiri sejak ayah dan ibunya bercerai sejak ia di Sekolah Dasar. Bagi ibu, menyediakan sedikit waktu untuk putranya adalah sebuah kebahagiaan.
“Libur nanti, Aji ingin kesini katanya Di” ucap ibu lagi. Adi tertahan sejenak. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
“Ayah juga bu?” tanya Adi. Ibu menggeleng, raut wajahnya menampakkan kesedihan. Adi yang menyadari itu menyesali pertanyaannya. Tanpa sengaja ia telah melukai perasaan ibunya.
“Maaf bu, Adi tidak bermasud menyakiti hati Ibu”. Ibu menggeleng, ibu mencoba tersenyum.
“Tak apa nak, ibu senang karena Aji akan kesini, mungkin ibu akan mengajak kalian bertamasya saat Aji kesini”.
“Iya bu?”
“Iya nak”
“Yess! Makasih bu”
“Iya, habiskan makananmu dulu”

Ibu tersenyum melihat kebahagiaan putranya itu, meski terselip duka dari mata ibu. Ibu masih harus menahan hati, ia sadar, Adi tentu rindu ayahnya. Namun ibu masih belum bisa memaafkan kesalahan mantan suaminya. Sakit masih menaungi hati Ibu. Perselingkuhan ayah dengan sekretarisnya waktu itu benar-benar membuat ibu terpukul. Ibu tak punya pilihan selain jalan berpisah, perpisahan yang juga memisahkannya dengan satu putranya lagi yang ikut dengan ayahnya. Ayah menikah dengan sekretarisnya meski tak lama ayah bercerai lagi dengan sekretaris tersebut. saat ini ayah pun sama seperti ibu, hanya berdua dengan Aji, adik Adi.
***

Adri menikmati makan malam bersama dengan Bu Darmi, pembantu sekaligus orang yang telah menjaga Adri sedari kecil. Bu Darmi selalu menemani makan malam Adri jika Adri sedang makan malam di rumah, karena biasanya Adri selalu makan malam di luar. Meski begitu, Adri selalu membawakan Bu Darmi makanan. Tapi kali ini Adri telah meminta Bu Darmi untuk memasak makanan kesukaannya. Adri melahap makanan yang ada semuanya. Ia sengaja tak jajan hari ini.
“Ayah dan Ibu, kapan katanya akan pulang Mbok?”
Bu Darmi terdiam, ia tak ingin merusak suasana makan Adri dengan jawabannya.
“Makan dulu Mas, nanti saja ceritanya. Mbok buatin jus dulu ya”. Sambil Bu Darmi beranjak menuju dapur. Bu Darmi lah orang yang menjaga rumah besar ini, rumah besar yang terlalu besar untuk keluarga kecil ini. Kedua orang tua Adri selalu sibuk dan pulang ke rumah adalah hal yang jarang. Kalaupun pulang, paling malam dan pagi harus berangkat lagi. Hal demikian akhirnya membuat Adri enggan di rumah. Rumah tak senyaman itu untuk Adri.
“Mbok, aku udah nih, udah habis semua”
“Iya Mas, ini minumnya”
“Makasih Mbok”
“Mas, kenapa tanya Bapak sama Ibu? Bapak sama Ibu tadi siang menelpon kalau mereka akan ke Itali untuk seminggu ke depan”.
Adri menghembuskan nafas panjang, ia maklum, ia menghabiskan minumnya. “Nggak apa-apa Buk, nanya aja kok, hehehe”. Bu Darmi memperhatikan Adri. Ia tahu ada yang disembunyikan Adri, Bu Darmi sangat tahu akan Adri karena baginya Adri sudah seperti anaknya sendiri. “Mas, kalau ada apa-apa, bilang sama Mbok, mungkin Mbok bisa bantu”. Adri terdiam, senyumnya masam. “Nggak apa-apa mbok, aku Cuma rindu mereka” Ucap Adri sambil berdiri. “Mbok, aku ke kamar dulu ya”. Kemudian Adri berlalu menuju kamarnya. “Iya Mas”. Bu Darmi selalu merasa kasihan akan tuan mudanya itu, tapi setidaknya Adri tak keluar malam ini, karena biasanya jika permasalahan orang tuanya, Adri akan keluar malam dan pulang entah jam berapa. Bu Darmi-lah yang setia menanti kepulangan tuan mudanya meski kadang tak pulang sama sekali. Dalam kamar Adri hanya menatap keluar, ke jalanan dari jendela kamarnya di lantai dua. Jalanan amat ramai saat itu, dan Adri hanya menatap dalam kediaman. Maaf Mbok, kebutuhan anak akan orang tua adalah hal yang tak tergantiakan, suara Adri lirih.
***

Rumah Andra, malam. Suasana hangat terpancar dari rumah sederhana ditepi gang kecil itu. Andra beserta ayah dan ibunya tengah menikmati makan malam keluarga. Sudah jadi kebiasaan di rumah Andra untuk makan malam bersama ketika semua orang telah berkumpul, suasana yang tidak setiap hari bisa mereka rasakan terutama jika Andra harus kerja malam hari menjaga mini market tempatnya bekerja. Pembahasan malam itu adalah tentang liburan dan rencana-rencana ke-depannya. “Bu, nanti yang pergi ambil rapor Andra siapa?”. Ibu Andra membuka suara. “Biar Ibu yang menjemputnya Ndra, kalau bapakmu dia kan kerja dari pagi”. “Sekalian ibu juga ingin bertemu dengan teman-teman yang sering kau ceritakan pada Ibu itu, siapa namanya? Adi dan Heri, bukan?”. Andra menahan tawa mendengar ucapan Ibunya. “Hahaha, bukan Heri bu, tapi Eri, Erika, dia cewek bu, anaknya cantik dan baik”. Ujar Andra sambil tersenyum. “Oh iya itu, jadi nggak sabar ketemu teman-temanmu Ndra”. Andra tersenyum-senyum saja mendengarnya. “Oh ya, libur nanti kamu jadi kerja dari siang sampai malam?” tanya Bapak sambil mengambil nasi tambah. Ibu refleks menahan Bapak yang mau mengambil nasi tambah. “Jangan makan banyak Pak, ingat gula darahnya”. “Dikit aja bu, Bapak masih lapar”. Bapak masih berusaha mengambil nasinya.
“Jadi Pak, dan kalau tidak ada halangan, mulai sekolah nanti tabungan Andra akan cukup untuk membeli sebuah sepeda motor baru” ucap Andra sambil tersenyum.
“Bagus itu Ndra, Bapak bangga sama kamu”. Balas Bapak sambil masih mengunyah makanannya.
“Makannya di rem dong Pak”. Ibu kembali mengingatkan
“Hehe, santai Bu, Bapak lagi senang nih”
Dan keributan-keributan kecil yang menghangatkan selalu mewarnai meja makan keluarga ini hingga malam menjelang dan lelap menina-bobo-kan.
***

Hari ke-3 Class Meeting, suasana yang menyenangkan karena beberapa perlombaan sudah mulai memasuki babak terakhir. Suasana yang akan amat dinanti-nanti bagi yang suka olahraga dan seni dalam menampilkan keahliannya. Bagi yang tidak berminat terhadap Class Meeting, bisa dipastikan berada di kantin, di dalam kelas berkumpul dan bercerita, atau tempat-tempat lainnya yang bisa saja melakukan hal-hal yang melanggar, toh saat-saat seperti ini keaman dan pengawasan dari pihak sekolah sudah berkurang. Kebebasan Class Meeting juga dimanfaatkan oleh Red Stars dan Arainan dalam mencapai tujuan. Arainan mendatangi gerombolan siswi kelas satu tempat dimana Lara, teman dekat Randi sedang berkumpul bersama teman-temannya. Dengan senyum penuh percaya diri Arainan mendatangi Lara, ia berdiri tepat dihadapan gadis itu. khalayak waktu itu terhening sesaat, waktu ter-jeda karenanya, tak terkecuali Lara. Ia terkejut akan kedatangan Arainan yang mengabaikan siapapun selain dia. Arainan menghadapkan wajahnya ke wajah Lara, batas wajah antara keduanya hanya sepersekian senti saja. Lara menahan napas sesaat ketika ia menghirup aroma rokok dari hembusan napas Arainan. Lara panik, ia pucat, keringatnya membasahi wajah ayu-nya. Arainan tersenyum dan tanpa sepatah kata hanya menatap tajam ke arah Lara. Saat-saat yang mendebarkan bagi Lara sebelum akhirnya ia menghentakkan tubuhnya berdiri, dan berlari meninggalkan Arainan. Semuanya terjadi begitu cepat dan semesta sekitar mereka tetap membisu, Arainan menatap kepergian gadis itu, yang ia sendiri tak tahu namanya. Senyum kemenangan tampil di wajah Arainan ketika arah lari yang di tuju oleh Lara justru memunculkan sosok yang amat ia cari, Randi.

Randi yang saat itu tengah berjalan menuju kelas tersenyum melihat Lara berlari kearahnya. Senyum Randi perlahan berubah ketika ia jelas melihat air mata mengaliri wajah gadis itu. “Lara” panggil Randi, meski saat itu Lara tak menghiraukan panggilan Randi, ia terus berlari sambil menutupi mulutnya, menahan isak menuju kamar mandi. Randi tersengat, emosinya naik, ia cari arah datangnya Lara tadi. Di antara gerombolan siswi teman sekelasnya, Randi menemukan sosok Arainan, yang tersenyum puas. Kini Randi dan Arainan telah bertemu muka, saling bertatapan, raut kebencian tampak jelas dari wajah Randi ketika senyum licik Arainan menghiasi wajahnya. “Jangan salah paham ya, aku hanya menyukai senyuman gadis tadi dan ingin menikmatinya sejenak, hehehe” ucap Arainan penuh kemenangan. Randi masih diam, tatapan matanya tajam menatap Randi. “Ayolah bung, dia hanya teman mu kan? Tak perlu marah begitu, lagipula ...” belum sempat Arainan menyelesaikan kata-katanya, sebuah tinju mengarah kewajahnya, refleks yang bagus, Arainan menghindarinya. Arainan mundur selangkah, dan siswi-siswi yang tadi hanya melihat mulai berteriak tak tentu melihat perkelahian itu. “Kau, aku akan membuatmu menyesal kribo sialan” tatap Randi sambil menunjuk Arainan. “Hehe, bagus kalau begitu, aku tunggu kau di Hutan Kota sore ini” Kemudia Arainan berlalu pergi. Randi menatap kepergian Arainan. Bagi orang-orang yang terbiasa berkelahi seperti mereka, sekolah memang bukan tempat yang nyaman untuk melakukannya.
“Hei Ran, itu Lara sudah kembali” tunjuk salah satu siswi tadi. Randi menoleh kebelakang, ia berlari ke arah Lara. Ia hampiri gadis itu, ia pegang dua tangannya, ia tatap wajahnya, wajah yang telah basah oleh air, tapi ketakutan masih tampak dari mata itu. Randi menggandeng tangan Lara, mengajaknya pergi. “Kita pergi Lara”. Lara hanya menurut, bagi Lara, Randi adalah teman yang bisa ia percaya lebih dari apapun, pun bagi Randi, Lara adalah segalanya untuk hatinya.
***

Lapangan sepak bola. Sedang ada pertandingan antara kelas X.1 dan XII IPA 2. Siswi-siswi kelas X.1 oleh siswa-siswa yang bertanding diminta untuk memberi dukungan, memberikan semangat. Tidak hanya itu, siswa kelas X.1 yang tidak ikut main pun disuruh memberi dukungan. Jadilah suasana pertandingan itu ramai akan suporter dari siswa kelas X.1, berbanding terbalik dengan kelas XII IPA 2 yang minim pendukung. Bahkan Adi pun ada disana, sebagai suporter bersama Andra yang memaksa Adi untuk menonton pertandingan. Suasana amat riuh pada pertandingan itu. Serangan dari kedua tim silih berganti mengancam masing-masing lawan, sebuah pertandingan yang penuh semangat dan sangat menghibur. Ini pertandingan semifinal di cabang sepak bola dalam kegiatan Class Meeting ini. Empat tim yang lolos ke semifinal ini terdiri dari kelas X.1, XII IPA 2, XII IPS 3, dan XI IPS 2. Kelas X 1 adalah satu-satunya kelas X yang lolos ke semifinal karena ternyata banyak pemain-pemain yang bagus saat masih di SMP, calon-calon penerus tim sepakbola sekolah, begitulah kata khalayak si SMA N 4 ini.

“Liat tu Di, si Joko Udin, dia memang hebat sekali mainnya”. “Tim sepak bola SMP ku saja dikalahkan oleh dia dulunya”. Ucap Andra sambil menunjuk-nunjuk Joko Udin yang dengan lincahnya melewati lawan-lawannya. Adi hanya menyaksikannya. Meski kurang suka olahraga dan tak paham sepakbola, namun ia paham bahwa permainan teman-teman sekelasnya sungguh bagus untuk dilihat. Hanya saja, lawan juga merupakan tim yang bagus. “Iya iya, dia memang hebat, Sutrisna juga bagus mainnya, tapi lawan juga kuat, susah nih buat menang”. Sahut Adi. Andra reflek menoleh ke Adi, tatapan tajam. “Itulah gunanya kau ada disini, keluarkan suaramu! Dukung mereka biar lebih bersemangat! Ucap Andra penuh semangat sambil menarik-narik tangan Adi keatas untuk membentuk yel-yel. “Ngajak berantem ya?” seru Adi ketus menarik paksa tangannya sambil berjalan pergi. “Yah dia kabur, ngambekan nih” sambil Andra menyusul dari belakang.
***

Disebuah sudut sekolah, Redstars dan Arainan masih merencanakan hal-hal buruk untuk keberhasilan tujuan mereka.
“Gimana tadi? Sudah lumayan bagus kan buat mancing si Randi biar dia keluar dari kandang dan melawan ku?”
“Itu lebih dari cukup Nan, gimana menurutmu Ron?”
Baron yang ditanya masih diam. Baron masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Arainan tadi. Ia merasa bersalah pada Lara karena ialah yang memberi informasi pada Anwar Faisal soal Lara dan Randi. Ia masih tertegun hingga Choki menepuk pundaknya. Baron gelagapan saat itu. Semua orang saat itu disana memperhatikan sikap Baron. Mereka sama-sama paham bahwa Baron adalah laki-laki yang amat menghormati perempuan. Dan apa yang terjadi tadi, adalah pukulan buatnya. Arainan berjalan menghampiri Baron.

                “Nak, aku berterima kasih atas info darimu, aku tadi itu tidak serius, jika bisa aku tidak ingin melakukan cara itu”. Baron masih terdiam. Dia menatap Arainan. Tatapan Arainan jelas dan tajam, tak ada kebohongan dalam tatapannya. Baron menarik nafasnya dalam-dalam. “Maaf, aku terlalu terbawa perasaan” seru Baron lagi. “Aku keluar dulu” Dan Baron pun melangkah keluar dari tempat itu, gudang kosong dibelakang sekolah. Anwar Faisal dan yang lain membiarkan saja, mereka fokus pada rencana selanjutnya, target selanjutnya Anwar Faisal, Adri Ramdhan.
***
4

Minggu, 20 Agustus 2017

4.11

Counting Stars

Adri berlarian menuju bangku tempat ia duduk, menunduk dan bersembunyi. Ia tampak menghindari sesuatu. “Kalau ada yang nyari aku, bilang aku gak ada” pinta Adri. Adi yang heran cuek saja. Adi malah melangkahkan kakinya ke luar kelas, perutnya lapar dan harus segera di isi. “Bilang saja pada yang lain, aku mau keluar”. “Kau mau kemana? Mau ke tempat itu?” tanya Adri. “Nggak, mau ke warung, nggak ada janji ke sana hari ini”. “Yaaaah”. Adri ber”yah” panjang. Ia tetap menunduk dan bersembunyi entah dari apa dan siapa. “Hei Ketua Kelas, nanti kalau ada yang mencariku, bilang aku tak ada”. Adri masih melanjutkan permintaannya. Ketua Kelas X.I, Amran melirik Adri, sesaat kemudian ia melenguh panjang, “Iyaaaaa” jawabnya malas.

Dalam perjalanan menuju warung makan, Adi melewati kelas X.5. Saat tengah mengencangkan kecepatannya, terdengar suara perempuan memanggil, suara yang tak asing. “Hai Adi” suara lembut dari gadis manis berkacamata yang menyapanya tempo hari. Gadis itu berdiri tepat didepan pintu kelas X.5, ia tersenyum manis dan penuh kehangatan kepada Adi. Dan Adi, saat itu hampir mati berdiri jika saja gadis itu tak memalingkan wajahnya saat itu. Perasaan aneh dan debar-debar itu terasa lagi pada Adi. “Aya, kita ke perpus yuk” sahut suara perempuan yang muncul dari dalam kelas. Perempuan itu cukup manis, meski tak semanis gadis berkacamata yang menyapa Adi. “Ah iya, ayo Nina”. Balas gadis berkacamata itu. “Adi, aku duluan ya” ucap gadis berkacamata itu sambil berlalu dan meninggalkan senyumnya yang amat manis. Adi hanya membalas dengan senyuman, senyum yang kacau balau dan debar-debar yang tak beraturan. Senyum gadis itu masih tertinggal dipikiran Adi meski gadis itu telah tak lagi terlihat. “Manis sekali gadis itu kan?” tiba-tiba suara Andra muncul begitu saja, entah darimana?

Adi yang salah tingkah jadi kehilangan senyum indah itu oleh kehadiran Andra. “Hahaha, ketahuan kau Di, kau telah memulai sebuah perjalanan cinta yang panjang dengan gadis itu”. Tatap Andra tajam. “Sok tahu kau Ndra, tadi itu tak sengaja ketemu, lagipula aku masih tak tahu apa-apa tentangnya”. Mendengar itu Andra jadi ingat akan sesuatu yang hampir ia lupakan dalam beberapa minggu ini. “Oh iya Di, aku baru ingat, aku akan ceritakan padamu semua tentang gadis manis tadi”. “Oh”. Jawab Adi singkat dan penuh ketidaktertarikan, meski sebenarnya tidak begitu. “Aku serius lo, tapi traktir aku makan ya, hehhe” dan mereka terus berjalan menuju warung.

***

Di sebuah kedai yang cukup jauh dari sekolah, tampak dua orang siswa lawas bertemu, bertemu tanpa sengaja tepatnya. “Jauh juga tempat makanmu sekarang War” ucap suara itu yang melihat Anwar Faisal tengah melahap makanannya. “Ngapain orang yang sudah tidak bisa apa-apa lagi di sekolah kemari, sudah bosan sekolah?” sahut Anwar kesal. “Hahaha, selera humormu tetap saja buruk War”. “Aku dengar lo kabar soal kau dan Redstar kena hajar ulah anak kelas satu, hahhaha” balas Arainan. “Jangan rusak nafsu makanku deh, jangan habiskan jatah peringatanku hanya karena menghajarmu Nan”. “Hahaha, kau masih tetap emosional saja, aku hanya ingin duduk-duduk dan bercerita saja denganmu”. “Kalau tentang pacar-pacarmu, sebaiknya enyah saja kau Nan”. “Bukan, ini soal anak-anak baru yang menyebalkan”. “Hmmm??? Kau juga kena ya Nan? Ahaha, si kribo ini kena juga” dan pecahlah tawa Anwar dan Arainan waktu itu.

***

“Jadi namanya Cahya Rona dan ia siswa pindahan dari kota lain sewaktu kelas tiga SMP?”. Ucap Adi. “Iya Di, dia primadona SMP 3 sejak saat itu, tapi sampai saat ini ia masih tetap sendiri tanpa pasangan” jawab Andra. “Pasti info-mu Ndra?”. “Pastilah Di”. Adi mengangguk-angguk saja, yang menjadi pertanyaannya kenapa gadis itu kenal dengannya masih belum juga terjawab, bahkan oleh Andra. “Aku masih belum tahu Di kenapa dia bisa kenal denganmu, awalnya aku pikir kau se SMP dengannya, ternyata tidak”. Adi memang tak banyak bergaul saat SMP selain karena selama SMP sering pindah-pindah sekolah karena berbagai alasan, ia tak pernah sekolah di SMP 3. SMP terakhir tempatnya lulus adalah SMP 13 yang terletak di perbatasan kota serta batas provinsi dengan provinsi sebelah. SMA 4 sendiri terletak jauh dari perbatasan dengan jarak tempuh satu setengah jam perjalanan dengan mobil. Setidaknya saat ini Adi belum ada tanda akan pindah lagi setelah terakhir pindah ke daerah pertengahan ini setelah tamat SMP lalu. “Ini misteri yang harus aku pecahkan!” sahut Andra penuh percaya diri. “Udah ah, balik ke kelas yuk, nggak penting” ujar Adi sambil bergegas ke kelas setelah membayar makanannya. “Tunggu oi”. Andra bergegas menyusul. “Ngomong aja nggak penting, dalam hati senang tuh karena udah tahu siapa namanya” gerutu Andra sambil berlari menyusul Adi.

***

“Bagaimana Ran? Kau mau kan duel dengan ku sore ini?” Tantangan Baron waktu itu masih mengganggu pikiran Randi. Ia sudah lama tidak berkelahi, kelas dua SMP adalah terakhir kali Randi berkelahi, saat ia dan geng-nya dikalahkan. Randi masih mencari-cari cara untuk menghindari perkelahian itu. Waktu itu jam pulang sekolah tinggal setengah jam lagi, Baron menanti dengan was-was. Tantangan yang ia layangkan pada Randi masih belum beroleh kata pasti. “Aku tidak tertarik, lagi pula seharusnya Adri yang mestinya kau lawan, bukan aku”. Demikian jawaban Randi waktu ia menolak. Tapi Baron tetap ingin menantang Randi, soal Adri, ia tak ingin melangkahi Anwar yang sudah lebih dahulu ingin membalas dendam dengan Adri.  Tiga puluh menit yang terasa amat panjang untuk Baron dan terasa singkat bagi Randi.

Lain tempat. Arainan dan Anwar justru sedang memikirkan strategi untuk melampiaskan kekesalannya terhadap anak-anak kelas satu yang bandel. “Jadi War, target kau anak kelas satu yang bernama Adri itu? Kalau aku, bocah yang rambutnya runcing-runcing itu, dia sudah tidak sopan dengan seniornya, dia harus diajari sopan santun!” Arainan amat gemas saat itu, ia benar-benar tak lagi sanggup menahan diri. “Kau ini, kalau sekali lagi bikin masalah di sekolah, kau bisa dikeluarkan, sudah bosan sekolah?” balas Anwar. “Aku akan melakukannya di luar sekolah, cepat atau lambat!”. Anwar sepakat dengan Arainan saat itu. Tekad dalam hatinya untuk balas dendam telah memuncak, lagipula kondisinya kini telah benar-benar fit karena lebih satu bulan ia kesulitan mencari Adri yang seakan hilang. “Nan, kau bantu aku mencari bocah itu, dia selalu lolos dari mata ku!”. “Pasti!”. Dan kedua senior SMA 4 memulai pergerakannya.

***

Suasana pulang amat riuh, seperti pasar. Adi masih menanti angkutan umum. Ia ingin ke pasar, ke toko ibunya. Karena malas untuk pulang ke rumah, sepulang sekolah Adi memutuskan untuk langsung ke pasar. “Adi, kebetulan banget” Eri sangat senang saat itu, matanya berbinar-binar, senyumnya memancar. “Kenapa Ri?”. Dengan senyum penuh kejahilan, Eri mulai merayu-rayu Adi “Aku mau ke toko buku Di, tapi nggak ada yang nemenin, si Andra udah kabur, si Adri gak keliatan dari tadi, temenin ke toko buku yaaa” sambil dengan gaya memohon manja Eri memaksa Adi. Adi yang salah tingkah dan serba salah tak tahu bagaimana hendak menolak. Dan tak lama Adi telah naik angkutan umum bersama Eri menuju toko buku, dengan penuh keterpaksaan.

***

Baron dengan setia menanti Randi di gerbang sekolah. Setelah amat lama menanti, Randi berjalan keluar melewati gerbang, tidak sendirian, ia berjalan bersama dengan seorang gadis. Mereka terus saja berjalan tanpa peduli dengan sekelilingnya, termasuk Baron. Baron yang merasa diabaikan mengikuti dari belakang, sesekali ia berdehem, “Ehem ehem”, tapi Randi cuek saja. Cukup ampuh memang, Baron tak bisa berbuat banyak. Randi tahu jika Baron adalah seorang lelaki yang tidak suka mengganggu perempuan. Meski begitu, karena kesal, Baron yang sedari tadi mengikuti Randi menendang pantat Randi hingga Randi tersungkur. Bisa kau bayangkan bukan bagaimana rasanya tersungkur saat kau sedang berjalan berdua dengan wanita? Dan saat itu cukup ramai. Ini bukan soal rasa sakit, tapi lebih ke malu. Emosi Randi naik, ia menoleh ke belakang, dan Baron telah jauh berlari, sambil mengejek-ngejek Randi dari jauh. Ingin Randi mengejar Baron, tapi ia telah lebih dahulu di tahan oleh Lara, gadis yang bersamanya. Wajah Randi saat itu memerah, iya memerah karena masih terbayang olehnya saat jatuh tersungkur tadi, saat ia asyik bercerita dengan Lara, tiba-tiba ia tersungkur, di tengah keramaian. Randi jadi salah tingkah, tapi hatinya penuh amarah : ku hajar kau Baron!

***
4

Minggu, 11 Juni 2017

4.10


The People

Hutan Kota, Minggu, Pukul 5.30 WIB

Pagi yang tidak terlalu gelap itu, Hutan Kota telah ramai oleh remaja-remaja tanggung yang hendak menyaksikan salah satu duel terbaik tahun ini. Duel besar beda generasi, namun akan sangat membara. Berduyun-duyun manusia datang satu per satu atau kelompok demi kelompok. Tidak hanya anak SMA, anak SMP pun turut meramaikan duel itu. Duel pergantian generasi ini juga dihadiri oleh orang-orang kuat baik yang akan habis masa atau yang akan segera mengambil alih kedudukan suatu era, sangat ramai hingga akan sangat mudah memicu tawuran antar geng. Namun demikian, pertarungan semacam ini tak pernah berakhir dengan tawuran, “Di Kota Ini” telah ada semacam perjanjian tak tertulis yang telah dipahami bersama bahwa setiap ada duel maka jangan sampai ada keributan karena sanksi yang menimpa adalah bagi kelompok yang menjadi pemicu akan dimusuhi oleh seluruh kota. Entahlah, namun yang demikian pernah terjadi sehingga tak ada yang berani melanggarnya.

“Aku tidak menyangka, di pagi yang indah untuk tidur ini kau memaksaku untuk keluar Ndra” gumam Adi yang tengah mengikuti langkah cepat Andra. Andra memaksa untuk menginap di rumah Adi kemarin. Andra ternyata penasaran dengan duel ARG dan Ryo Anggara, dan karena rumah Adi hanya berjarak setengah jam perjalanan dengan berjalan kaki dari Hutan Kota, maka jadilah rumah Adi tempat persinggahan Andra. Adi sendiri masih tak tahu kemana tujuan mereka, ia hanya terpaksa mengikuti Andra yang katanya ingin joging. Ketika akan sampai di Hutan Kota, Adi terhenti, dari kejauhan ia lihat ramai-ramai anak-anak SMA. “Kau lihat kan Di? Itu tujuan kita”. Seraya Andra menambah cepat langkahnya. “Oi pelan dikit napa!” seru Adi sambil berlari mengejar Andra.

Sesampainya di Hutan Kota mereka telah melihat puluhan remaja tanggung menatap ke satu tempat, tempat dimana ARG telah duduk menanti Ryo Anggara yang belum hadir saat itu. “Di, ayo kita cari tempat yang cukup tinggi biar bisa melihat semuanya dengan jelas”. “Tempat tinggi?” tanya Adi. “Iya di”. “Pohon yang tinggi”. Mendengar jawaban itu dengan mengerinyitkan dahi Andra menatap Adi “Hmmm ... Ide mu boleh juga”. Selang beberapa saat mereka telah asik menatap sekeliling dari sebuah pohon yang cukup tinggi. “Posisi yang bagus kan Di?”. “Lumayan, tapi ini ada apa?”. “Ada pertarungan besar Di”. Seru Andra bersemangat. “Kau lihat orang yang tengah berdiri ditengah-tengah itu?”. Adi menatap ke arah telunjuk Andra. “Dia itu Ari Rahman Gunaryo, calon ketua baru dari geng motor terbesar “Kota Ini” akan bertarung dengan Ryo Anggara, ketua-nya sendiri yang akan pensiun”. “Ryo Anggara?. “Iya, Ryo Anggara, kenapa, kau kenal?”. “Ah tidak Ndra”. “Ramai sekali ya, jadi ingat masa lalu” sahut Adi tanpa sadar. “Iya, eh kau ngomong apa barusan Di?”. “Enggak, nggak ada. Eh ada yang datang Ndra!”. “Ryo datang!”.

Ryo Anggara datang. Ia melangkah pasti menuju “panggung” tempat dia akan beraksi. Suasana hening, aura dan wibawa seorang ketua meliputi suasana sekitarnya. “Kau datang, ketua”. Sahut ARG. “Tidak usah basa basi Ri, kita langsung saja”. “Sebentar deh, kalian jangan terlalu bernafsu” seseorang muncul dari tengah kerumunan. “Sebuah duel harus ada wasitnya, dan wasit mesti dari pihak netral kan? Bagaimana menurut kalian semua penonton?” seru orang itu. Semua orang berteriak mengiyakan. “Boleh juga Ndan, bagaimana menurutmu Ri?. “Baiklah ketua, itu tidak masalah”. “Bagus kalau begitu, aku Hamdan Dullah akan memimpin duel ini”. Hamdan mencoba menjadi saksi dari era-nya yang akan berakhir. “Baiklah, siap, mulai!!!”. Batas telah dilepaskan, duel telah dimulaikan. “Jangan menahan diri ketua”. “Kau juga Ri”. Dan keduanya mulai saling serang satu sama lain. Pukulan demi pukulan telah beberapa kali dilayangkan, silih berganti menyentuh sasaran dan tak sedikit pula yang hanya menyentuh angin.

4


“Dari sekian banyak manusia di tempat ini, ternyata ada dua ekor monyet yang ikut nonton ya?” sebuah suara yang tak asing mengusik kesenangan Adi dan Andra. Dengan kesal Andra yang terbawa suasana panas menghardik suara itu “Bacot oi!”. Dan seketika itu juga Andra justru kaget bercampur takut ketika suara itu adalah suara Adri. “Eh, Adri, ha ha hai Dri”. Andra melunak. “Oi Dri, naik yok, ada tempat kosong nih”. Tanpa menunggu jawaban Adri telah naik dan ikut menikmati pertarungan dari ketinggian. Sebuah pukulan keras mendarat di wajah ARG, pukulan yang amat keras. ARG roboh, ia terlentang dengan nafas tersengal. Duel telah berjalan sekitar 10 menit, dan ARG akhirnya terkena pukulan keras. Penonton riuh dan suasana bertambah panas, ARG kembali berdiri, ia menyeka darah diwajahnya. Dan suara penonton bertambah riuh lagi, dan lagi.

“Hei Dri, mumpung kau disini, aku akan memberimu info soal orang-orang kuat yang akan memulai era baru, mereka semua berkumpul disini lo”. Seperti biasa, Andra muncul dengan informasi-informasi dunia hitamnya. “Heh, sepertinya menarik, tunjukkan Ndra”. Adi hanya geleng-geleng kepala, cuma ini yang membuat dia bersemangat ternyata gumam Adi. “Dengarkan dan ingat baik-baik Dri:

Saat itu hutan kota amat ramai, yang datang tak sekedar orang-orang biasa. Banyak anak-anak yang tergolong kuat di generasi mereka yang ikut menonton duel tersebut. Hampir semua sosok potensial dari “Kota Ini” hadir menyaksikan duel, hampir semua dari sudut kota mereka berdatangan. “Kota Ini” terdiri dari sembilan SMA Negeri, dua STM dan satu SMA Swasta, artinya ada 12 kekuatan dan kekuasaan di “Kota Ini”, itu belum termasuk dengan geng-geng yang dibentuk bukan karena latar belakang pendidikan seperti Sevenars, Black City, dan banyak lagi geng yang tidak diketahui. Kali ini, aku hanya akan menjelaskan orang-orang kuat yang aku kenal saja, susah untuk menunjukkan siapa mereka karena mereka tidak memakai seragam sekolah. Oke, kita mulai, pertama-tama dari Sevenars, ARG adalah ketua mereka setelah ini tidak peduli kalah atau menang dia dalam duel ini.”

Sabtu, 15 April 2017

4.9

Introduce, for more

Tiga hari menjelang ujian semester SMA 4 dan SMA Negeri lainnya di “Kota Ini” tersiar kabar tentang pertarungan besar. Iya, pertarungan besar. Pertarungan yang mempertemukan antara Ryo Anggara dan sang penantang ialah Ari Rahman Gunaryo atau yang lebih terkenal dengan ARG. Baiklah, sebelum jauh membahas pertarungan besar ini ada baiknya kita perkenalkan terlebih dahulu siapa sebenarnya dua orang ini. Ryo Anggara tak lain adalah salah satu orang terkuat bagian dari best ten “Kota Ini” yang satu era dengan Diandra Denis dan Tomi Andika. Dia adalah pemimpin dari geng motor Sevenars, salah satu geng terkuat “Kota Ini”. Geng yang telah kokoh berdiri sampai lima generasi ini muncul sebagai geng motor yang menjaga stabilitas “Kota Ini” dari penjahat-penjahat bermotor yang berusaha merusak keamanan. Ryo Anggara sendiri merupakan ketua generasi kelima dan Ari Rahman tak lain ada calon penerus dari Ryo Anggara.

Sevenars merupakan sebuah geng motor yang telah berdiri selama lima generasi dan tengah menuju generasi keenam. Merupakan organisasi motor yang cukup disegani oleh organisasi sejenis dan merupakan gambaran positif dari geng motor. Sevenars adalah geng motor yang tak segan membantu mengamankan situasi “Kota Ini” dengan membantu pihak kepolisian. Operasi malam yang menjadi agenda rutin Sevenars telah memperoleh izin dari pihak kepolisian dan bagi kepolisian “Kota Ini” keberadaan Sevenars telah turut membantu kerja mereka dalam mengamankan kota ketika malam. Sebuah geng dengan prestasi membanggakan dan penuh citra positif.
Ari Rahman (ARG) sendiri adalah rising star di Sevenars, kekuatannya tak diragukan. Ia satu generasi dengan Anwar Faisal dan sekolah di SMK swasta “Kota Ini”. Apa yang dilakukan ARG, menantang ketua adalah hal yang baru bagi tradisi pengangkatan ketua di Sevenars. Tindakan ARG mulanya menimbulkan kontroversi, para senior yang merupakan anggota inti menentang cara ARG. Hiruk pikuk internal Sevenars yang mulai menimbulkan konflik diselesaikan oleh Ryo Anggara dengan menerima tantangan ARG. “Tidak masalah bagaimana cara pemilihan ketua, yang penting dia punya kemampuan dan dia tahu apa yang dia lakukan. Apapun hasil pertarungan nanti, kita semua harus mendukungnya karena selanjutnya dialah yang akan mengibarkan bendera Sevenars di “Kota Ini””. Demikianlah jalan yang ditempuh Ryo Anggara dalam menyelesaikan konflik internal gengnya.

Minggu, jam 06.00 WIB di Hutan Kota. Demikianlah bunyi pesan singkat yang beredar lewat Nokia generasi pertama. Seisi dunia hitam kota heboh dengan berita ini. Berita yang menyebar dengan amat cepat juga terdengar ke telinga para generasi baru dunia hitam kota hingga ke telinga Adri. Ada Hamdan saat itu bersama Adri, mereka sedang nongkrong bareng di salah satu kedai kopi malam itu.
“Ndan, generasimu sudah hampir berakhir tuh, sana cari pengganti yang bisa memimpin SMA 07”. Hamdan sejatinya dua tahun lebih tua dari Adri. Baginya pertarungan antara Ryo Anggara dan ARG adalah permulaan dari tergerusnya masa jaya mereka, dirinya, Tomi Andika, Diandra Denis, Ryo Anggara dan mereka yang selama ini telah berjuang bersama baik kawan maupun lawan. Hamdan yang mendengar pernyataan Adri menyedot rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya panjang. Sambil bersandar dia memperhatikan langit malam. Selintas kenangan-kenangan selama sekolah muncul dalam kepalanya seperti cuplikan kilas balik yang muncul sepotong demi sepotong. Mengenang itu semua, Hamdan menyunggingkan senyum. Ia seruput kopinya. “Jamanku sudah hampir selesai rupanya. Sudah waktunya Yazid yang mengambil alih kepemimpinan”. Adri hanya diam mendengarkan.

Adri hanya tersenyum, jika SMA 7 punya Yazid, lalu SMA 4 punya siapa? Redstars? Adri geli sendiri memikirkannya. “Aku rasa Yazid akan menjadi best ten dari generasi selanjutnya, dia tak akan kalah dari Arainan yang kuat dari SMA mu Dri”. Kembali Hamdan melanjutkan ucapanya.
“Arainan?”. Nama itu asing bagi Adri. Yang ia tahu SMA 4 hanya punya Diandra Denis dan Tomi Andika. Ia malas untuk menyebut Redstars. Andra pun tidak menyebutkan nama itu saat ia menjelaskan tentang kekuatan SMA 4. “Kenapa? Jangan bilang kau tak mengenalnya Dri?”. Adri Cuma mengerinyitkan dahinya. “Ternyata benar kau tak mengenalnya, wajar sih, si mesum itu lebih layak di sebut playboy kampung dibanding orang kuat, tapi meski begitu, harus di akui dia itu kuat”. “Aku rasa dia jauh di atas Anwar Faisal kuatnya”. Adri semakin bingung, masih ada yang sekuat itu digenerasi seniornya tapi tak pernah terdengar. Ia semakin penasaran tapi juga senang, SMA 4 punya orang kuat lagi setelah generasi hebat diatasnya pergi. Dia menyunggingkan senyumnya. “Kalau begitu SMA 4 masih akan bersaing dalam posisi best ten kota ini kan”. “Itu saja yang kau pikirkan ternyata, tapi aku ragu karena meski Arainan kuat, dia tak fokus kesana, ia lebih peduli pada pacar-pacarnya yang entah ada berapa”. “Sial”. Umpat Hamdan keras. “Hahaha, tidak masalah Ndan, yang penting SMA 4 masih punya harapan, dan di era ku nanti, SMA 4 akan merajai kota ini”. Dengan penuh percaya diri Adri mengepalkan tangannya. Hamdan hanya menatapnya senyum, semangat yang bagus, siapa yang bisa menghentikanmu di generasimu? Pikir Hamdan diam. Sembari mereka berbincang soal-soal apa saja, malam terus melarut.
***
“Di, ada berita bagus buatmu”. Ucap Andra ketika mereka bertiga berjalan menuju surga kami. “Apa?”. Andra tersenyum lebar sebelum memberitahukan kabar yang ia bawa. “Hehe”. Itu senyum jahat yang amat menyebalkan. “Kau kenapa Ndra? Kau terlihat sedang menyimpan rencana busuk”. “Kasar sekali mulutmu Di”. “Hehe, Di, sebenarnya aku sudah tahu ...”. Tiba-tiba saja perkataan Andra terpotong oleh suara panggilan seseorang. “Hei, boleh aku ikut?”. Adi, Erika, dan Andra kaget setelah melihat kearah suara itu. Adri ternyata yang memanggil mereka. Adri mendekati mereka bertiga yang terpaku. Adi dan Andra tetap heran, Erika justru menyambut hangat. “Ayo Dri, jangan sungkan”. Mereka berempat berjalan beriringan, suasana menjadi hening dan kaku.

“Tumben sekali kamu mau ikut kami Adri”. Sapa Eri sesampainya di surga kami. “Ah tidak, sedang malas sendirian”. Jawab Adri sekenanya. Minggu nanti kami mau ke pantai lagi loh, kami mau bakar-bakar gitu, ikut ya Dri”. “Aku, hmmm, aku ada urusan sepertinya”. “Ikut saja Dri, lebih ramai kan lebih asik”. Adi menambahkan. “Iya Dri, kamu kan sudah janji mau ikut kami”. Kali ini Eri semakin semangat mengajak Adri. Adri yang tidak tertarik mulai kebingungan mencari alasan untuk menolak. Dia mengerinyitkan dahinya, kapan aku berjanji akan ikut mereka pikir Adri dalam hati. Adri akhirnya tidak menyahut namun mengalihkan pembicaraan kepada Adi dan Andra. “Kalian bawa bekal?”. “Yaaa!!! Jawab Adi dan Andra serentak. “Aku juga bawa kok Dri. “Eri mengeluarkan bekalnya dari tas kecil bekalnya. Adri manyun, sejenak ia hendak beranjak. Namun belum sempat ia berdiri, Eri menawarkan bekalnya pada Adri, bekal yang ternyata telah ia pisahkan menjadi dua bagian. Adri yang pada akhirnya tak bisa menolak menerima juga bekal itu dengan wajah yang memerah. Adi menahan tawa melihat ekspresi tak biasa Adri, sedang Andra masam saja mukanya melihat hal itu. Namun istirahat hari itu, mereka berempat makan bersama dan permulaan tentang keempat anak tersebut telah selangkah lebih maju.

“Terima Kasih bekalnya tadi, Ery, ucap Adri saat mereka berempat akan kembali ke kelas masing-masing”. Ery tersenyum saja saat itu. Sedang Adi dan Andra bersamaan tersenyum-senyum saja melihat ekspresi Adri yang terlihat seperti orang yang malu-malu, mukanya masih merah saja. “Apa kalian lihat-lihat?”. Sergap Adri pada Adi dan Andra. Serentak Adri dan Andra menggeleng, namun dalam hati menahan tawa. “Aku ke kelas dulu” sambil Adri memalingkan wajahnya menuju kelas. “Jangan lupa Dri, minggu jam 3 di Pantai dekat batu karang besar yaaa, bawa bahan bagianmu jangan lupa juga”. Ucap Ery yang dijawab Adri “yaaaaaaaa” sambil melambaikan tangannya dengan posisi membelakangi. “Dia manis sekali dengan wajah memerah seperti itu, hehe”. Ery bahagia sekali karena merasa telah bisa membuat Adri malu-malu demikian. Adi dan Andra tersenyum senyum saja. “Kalian berdua juga jangan lupa bawa bahan bagian kalian”. Setelah sepakat ini itu mereka kembali ke kelas masing-masing. Singkatnya hari minggu nanti mereka berempat akan ke pantai dan membakar jagung bersama-sama. Adapun Adri, ia tak kuasa menolak ajakan Ery. Adri seperti tak bisa berkutik jika berhadapan dengan Ery.

***

Jumat, 16 Desember 2016

4.8

Step by step

Malam itu temaram, mendung lagi-lagi mengunjungi langit malam “Kota Ini” seakan ia enggan berpisah lama dengannya. Suasana sunyi ikut meramaikan pesta hening malam itu. Pada sebuah kamar dalam sebuah rumah, Adi tengah menatap lekat jauh dari kursi tempatnya terpaku. Ia menatap jauh melewati jendela kamarnya. Sebenarnya ia baru saja menyelesaikan PR, meja belajarnya yang diposisikan pas pada jendela kaca kamar membuatnya sesaat tertawan akan hitam pekat malam itu. Tiba-tiba rintik hujan mulai terjun satu persatu, perlahan menggores jendela kaca kamarnya. Alunan rintik perlahan memati-kan pesta sunyi malam dipikiran Adi. Adi menghela napas panjang, mula-mula ia mulai menikmati aroma hujan yang hanya sekejap telah bergemuruh dan lebat.

Menatap hujan yang kian mengguyur membuat Adi mengingat kembali peristiwa pagi tadi disekolah, ketika ia disapa oleh seorang gadis manis dengan kaca mata yang membingkai diwajahnya. Ia masih ingat akan senyum indah seindah bulan merekah keemasan dimalam hari, ia masih ingat akan gelap hitam bola mata dari sebalik optik yang memagarinya, seindah kilapan mutiara hitam. Ia masih mengingat jelas kilau hitam rambut gadis itu ketika ia memperhatikannya ketika perlahan menghilang dari tatapan. Wajah gadis itu, baginya amat lekat dalam lensa matanya, terekam jelas dalam benaknya, akan amat sulit bagi Adi melupakan wajah gadis itu, indah senyumnya, kilau dua bola matanya, amat susah untuk dilupakan. Sembari mengagumi keindahan, Adi pun diliputi keheranan akan siapa agaknya gadis itu. Seingatnya, tak pernah ia kenal dengan perempuan itu sebelumnya, pun demikian, perempuan itu tahu namanya. Semakin Adi mengingat, semakin ia tidak menemukan jawaban. Teman SD? Entahlah, rasanya bukan. Teman SMP? Ia ragu, ia tak banyak bergaul, jadi dia akan tahu siapa saja orang yang kenal dengannya. Ia masih bingung dan juga penasaran.
Hujan tetap keras, hingga larut. Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak Adi akan anak gadis tadi pagi berakhir dengan rasa penasaran yang amat sangat.

...

Di lain tempat, ketika hujan masih begitu lebatnya tampaklah sebuah sepeda motor terparkir pada sebuah kedai kaki lima yang menjual gorengan di tepi jalan. Sepeda motor Ninja berbadan hitam yang tak lain adalah milik Adri semakin mengkilat akibat air hujan serta kerlap-kerlip lampu jalanan. Adri yang terlambat pulang ketika hujan terpaksa ‘berteduh’ di kedai gorengan. Meski terpaksa, gorengan-gorengan itu dapat juga menghangatkan ketika dingin mengaliri udara malam. Sehabis mengunjungi Red Stars di Rumah Sakit, Adri sibuk dengan berbagai urusannya sehingga pulang malam adalah kebiasaan baginya. Dan malam ini, hanyalah malam kesekian kalinya ia pulang malam.

...

Jarum jam menunjukkan tepat di angka 10:00 WIB. Erika telah terlelap dalam mimpinya. Setelah mengerjakan beberapa PR, lelah karena menghabiskan sore bersama Adi dan Andra di pantai membuatnya cepat melelapkan diri.


Selasa, 01 November 2016

4.7



Meet

Pagi itu hujan amat lebat. Suasana sekolah yang mestinya ramai, menjadi amat sepi dan hanya satu dua anak yang baru terlihat ketika jam telah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Hujan telah mengguyur “kota ini” sejak subuh, sempat berhenti beberapa saat, namun kembali lebat dan terus seperti itu hingga saat ini. Adi yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah berhasil memanfaatkan momen jeda hujan untuk berangkat ke sekolah dengan sepeda barunya, sepeda pemberian ibunya. Hujan membuat sepeda baru Adi terlihat tak lagi baru.

Hujan lebat yang terus mengguyur membuat kegiatan belajar mengajar menjadi tidak seperti biasanya. Guru-guru pun belum banyak yang datang. Hujan yang lebat dan suasana yang lengang membuat Adi lebih memilih untuk berdiri diluar kelas. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kelas sambil memandangi hujan yang turun. Tatapannya memandang kosong ke depan, menghanyutkan perasaannya hingga jauh.

“Pagi Adi”

Lamunan Adi tiba-tiba saja dikejutkan oleh kehadiran seseorang, seorang anak perempuan manis dengan kaca mata yang membingkai matanya. Ia menyapa Adi, pandangan mata dan senyum yang dilihat Adi membuatnya terdiam. Perempuan itu tetap berjalan menuju kelasnya dengan senyum yang kian indah, dan Adi hanya melepasnya dengan tatapan. Sementara mata tak kunjung usai memandangi anak perempuan itu, dilain tempat, jantung Adi bergetar keras, seakan menggedor-gedor dinding kulitnya.

“Hei, liatin apa kau?”

Kali ini suara lain memecahkan tatapan terpana Adi yang belum lagi selesai, suara yang tidak asing baginya. Adi menoleh, dan nyatalah bahwa itu adalah Andra dan seorang perempuan disampingnya yang tak lain adalah Ery. Adi heran melihat Andra dan Ery berjalan bersama, yang membuatnya lebih heran adalah mereka sepayung berdua.

“Liatin apa kau Di? Hmmm, aku liat looo”

“Bukan apa-apa, kenapa kalian bisa satu payung berdua?”. “Ndra, itu payung Ery kan? Kau pasti memaksa Ery untuk nebeng, iya kan?

“Jangan mengalihkan fokus Di, siapa cewek tadi? Kelihatannya manis juga, ayo siapaaa?”

Ery hanya tertawa melihat Adi dan Andra saling mengejek.

“Itu payung Andra kok Di, aku yang nebeng, soalnya aku gak bawa payung”. 
Ery menjelaskan kebenarannya. Adi jadi terdiam, hanya “oh” yang terucap dari bibirnya.

“Menang banyak kau yaaa, Andra”.

“Hhahaha, kau belum jawab pertanyaanku Adi Satryo, siapa cewek tadi? Jangan nge-les mulu”.

“Bukan siapa-siapa, aku juga tidak tahu, tapi dia tadi masuk ke kelas X.4”. Adi menjawab sekenanya.
“Tapi dia tahu namaku”.

“Mungkin dia fans-mu Di”. 
 Kali ini Ery menimpali sambil tersenyum bersama Andra, senyum mengejek maksudnya. Ery dan Adri tertawa melihat ekspresi bodoh Adri karena ternyata mereka melihat semua peristiwa Adi disapa oleh anak perempuan siswa X.4 itu.

“Permisi nona manis, kau menghalangi jalan kakanda”

Tiba-tiba saja suara seorang laki-laki memecah cerita kami. Seorang laki-laki dengan rambut keriting yang elegan dan cocok dengan wajahnya. Dia memegang bunga ditangannya, dan sapaannya ternyata ditujukan kepada Ery yang berdiri tepat dijalan tempat laki-laki itu lewat. Senyum lebar terukir dari wajah cerianya.

“eeeeh, maaf maaf”. Ery segera menyingkir dari posisi ia berdiri, menepi ke dinding. 

“Santai saja nona, kakanda tak akan marah pada gadis cantik”.

Begitulah kata terakhir yang lontarkannya pada Ery sambil ia terus berjalan sembari mengangkat tangannya yang menggenggam bunga sebagai tanda salam perpisahan. Andra yang melihat pria dengan rambut kriting elegan tersebut cukup terkejut, karena ia tahu pasti siapa orang itu.

“Ngapain bengong Ndra liatin laki-laki tadi?”. “Kau nggak jatuh cinta sama dia kan?”

Kali ini Adi yang coba mengejek Andra. Dan Andra, dia justru menatap Adi, sambil menghirup napas dan menenangkan diri atas keterkejutannya akan sosok tadi, dia mengambil posisi jongkok sembari mengajak Adi dan Ery untuk juga duduk jongkok.

“Ngapain kalian berdiri terus, capek oi, mending duduk”. “Aku akan ksih tahu soal laki-laki tadi, jadi semuanya duduk ya”. Ujar Andra lagi. Aku dan Ery akhirnya ikut saja.

“Siapa orang tadi Ndra?”. Ery memulai pertanyaannya. 

Ery yang merasa paling ingin tahu dengan laki-laki tadi sebab selain masih terkejut, ia juga belum pernah dipuji oleh laki-laki asing meskipun hanya sekedar bercanda.

“Ry, Di, yang tadi itu senior kita, dia anak kelas dua IPS, namanya Adrian Arainan. Dia itu terkenal sebagai si mesum yang suka mengoleksi film-film dewasa. Suka mengejar-ngejar cewek, pacarnya banyak, disetiap sekolah ada minimal satu. Dia itu, laki-laki yang tidak boleh dicontoh! Karena dia bisa mendapatkan banyak cewek, sedangkan aku satupun tidak.” Andra menceritakan tentang Adrian dengan berapi-api dan rasa iri yang terlihat jelas.

“Kau iri ya Ndra?” celetuk Ery

Andra menoleh ke arah Ery, “tidak!” “Aku tidak suka dengan orang seperti itu”

“Jangan cari alasan, kau pasti iri padanya kan?” Adi menambahkan pernyataan Ery. Andra melenguh kesal.

“Terserahlah”

Kemudian Andra berdiri. Baru akan berdiri, Andra kembali duduk. Kali ini ia menundukkan wajahnya. Adi merasa heran dengan hal tersebut dan mecoba berdiri. Tampak olehnya seseorang baru saja datang, seseorang yang tak asing dengan jaket anti hujannya yakni Adri.

“Hei, Dri, datang juga kau ya”.

Adri membalas dengan menatap, lalu ia tersenyum seperti biasa.
“Tentu, hari ini sekolah kan?”

“Hehehe, kau ingin pindah tempat tidur ke sekolah lagi ya?”

Adri tidak menjawab, ia membuka jaket anti airnya dan melipatnya. Ery yang sedari tadi duduk, telah berdiri. Ia penasaran dengan Adri yang ia lihat sering tidur dibawah pohon didekat “surga kami”. Ery memandangi Adri, Adri yang asik melipat-lipat jaketnya kaget ketika tahu ia dipandangi Ery, ia palingkan wajahnya ketika itu juga. Tiba-tiba jantungnya berdebar, ini tak biasa buat Adri.

“Hei, kamu Adri kan? Aku Ery, temannya Adi dan Andra”. Ery memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya kearah Adri. Adri yang masih terkejut dan dada yang berdebar, melihat kearah Ery dengan ragu-ragu. “Aku Adri”, sembari memandang Ery Adri menjawab pertanyaan dan dengan cepat ia berlalu menuju kelas tanpa membalas uluran tangan Ery. Ery merasa heran, tapi ia memastikan bahwa Adri sangat gugup saat itu, bukannya merasa kesal, Ery justru tertawa-tawa sendiri melihat ekspresi Adri tadi. Ya, Ery memperhatikan setiap detail ekpresi Adri ketika ia mulai menyapanya hingaa saat Adri berlalu. Ery tersenyum-senyum sendiri karenanya.

“Aku tidak menyangka ia akan segugup itu”. Kali ini Adi yang menambahkan.

“Hahaha, ia benar-benar gugup, bahkan lebih lucu daripada kamu ketika disapa oleh cewek X.4 tadi Di”. Balas Ery sambil tertawa-tawa. 

Adi hanya manyun ketika peristiwa itu dibahas kembali. Andra yang kembali berdiri hanya heran melihat Ery tertawa-tawa, sebab ia tak tahu akan peristiwa tadi.

“Di, aku akan bantu kamu untuk cari tahu siapa nama anak X.4 itu, pasti!”

Adi terkejut mendengar pernyataan Andra barusan. Meski begitu, ia tak peduli. Hujan ternyata telah reda, dan guru yang mengajar hari ini juga sudah terlihat oleh mata sedang menuju kekelas.

“Aku masuk dulu Ndra, Ry, bu Puji sudah datang”.

“Oke Ndra, kami juga akan masuk kelas”

Ery dan Andra berlalu menuju kelas masing-masing.



...

Rabu, 03 Agustus 2016

4.6




Process

“Kita putus!”
Kata putus keempat dalam kurun empat bulan yang dilayangkan Adri kepada empat wanita berbeda sejak memulai masa SMA-nya. Dan seperti biasa, kata putus yang terucap selalu diiringi dengan kepergian tanpa penjelasan terhadap yang ditinggalkan. Dan gadis manis asal SMA 09 itu hanya bisa shock seakan tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ditambah dengan langkah kilat Adri, ia tak sedikitpun mendapatkan kata penjelas yang sekadar memuaskan hasrat penasarannya, sedikit pun tidak. Bagi Adri, cinta tak demikian pentingnya, amat mudah baginya untuk mendapatkan sekedar gadis cantik, iya, wajahnya mendukung untuk menjadi seorang pangeran gagah idaman wanita. Di tambah sikap cool dan misterius yang alami membuatnya secara spontan menarik perhatian wanita dengan cepat. Dia adalah incaran senior-senior perempuan yang suka darah muda, tapi Adri tak pernah menghiraukan, hanya yang tertentu yang akan ia jadikan pacar, dan akhirnya ditinggalkan.
            Adri memacu kuda besi miliknya dengan kencang menuju sebuah tempat, tempat duel dirinya dengan Red Stars, gedung tua bekas pabrik tahu. Sesampainya di lokasi, Adri memarkir motornya di tempat aman. Gedung bekas pabrik tahu merupakan bangunan lama yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya akibat telah sukses di Provinsi lain. Pabrik dengan lahan yang cukup luas itu berada di lokasi yang cukup jauh dari pemukiman, di tambah dengan banyaknya semak yang cukup tinggi, ini jadi tempat yang cocok untuk berkelahi bagi anak-anak nakal. Adri menanti kedatangan Red Stars, dengan sangat yakin.
Tak lama kemudian, terdengar deru mesin motor mengarah ke tempat Adri berada. Red Stars telah datang dan full team, termasuk anggota baru yang sedang dalam masa orientasi. Red Stars dengan langkah gontai menuju ke dalam gedung
“Hei Baron, sebagai anggota baru, kau hanya boleh melihat saja, biar kau liat kami menyelesaikan ini” sahut Anwar Faisal kepada Baron, si anggota baru.
“Siap komandan!” jawaban Baron lantang berkumandang.
“Semangat sekali Ron” sahut Choki.
“Harus begitu, Chok, biar kita semakin kuat” respon anggota Red Stars lainnya. Sebuah tim yang kompak nampaknya.
Akhirnya kini Adri telah berhadap-hadapan dengan Red Stars. Adri menyambut para seniornya dengan senyum seringai yang menjadi khas-nya. Adri berjalan menuju Anwar dengan langkah pasti.
“Red Stars, hebat”. Adri bertepuk tangan.
“Aku tidak tahu kalian itu hebat atau polos, atau ... bodoh!” Dengan lantang sambil berucap demikian Adri tetap menatap tajam ke arah Anwar Faisal.
Anwar mengerinyitkan dahinya, Ia ingin marah, ingin sekali menyarangkan tinjunya ke wajah Adri, tapi ia merasa ada sesuatu yang ganjil.
“Jangan basa basi murid baru! Jika ingin duel ayo pilihlah siapa yang ingin kau lawan duluan atau kau ingin kami semua langsung maju, hah?” Hardik Joko.
“Hahaha, bukan aku yang akan jadi lawan kalian, tapi mereka”.
Perlahan-lahan orang-orang muncul dari berbagai penjuru ruangan gedung itu. Mereka muncul dan seakan membuat lingkaran kemudian mengelilingi Red Stars. Anwar terkejut, semua anggota Red Stars panik.
“Oi bocah, apa-apaan ini! Kau menjebak kami ya?” Hardik Joko kepada Adri.  Anwar Faisal masih tetap diam, tapi ekspresinya amat tenang, namun itu tidak bisa menutupi amarahnya. Ia menatap tajam Adri.
“Aku hanya mengantarkan kalian ke lawan kalian yang sebenarnya, itu semua anak-anak SMA 07 loh”.
“Terima kasih kawan lama, sudah mengantarkan tamu kami”. Seseorang muncul tiba-tiba dengan sebatang rokok ditangannya.
“Bukan apa-apa, aku hanya membayarkan hutang sekolah ku, dan setelah ini jangan mengganggu SMA 04 lagi, Hamdan!”
Orang yang muncul tersebut ialah Hamdan, Leader SMA 07. Kedatangannya diikuit oleh beberapa petinggi geng lain di SMA 07, salah satunya Yazid. Hanya saja Doni, korban pemukulan dan pemerasan masih belum bisa sekolah, hingga ia tidak datang untuk bertemu kembali dengan Red Star.
“Heh, kau masih saja seperti itu kawan lama”. “Tidak masalah, sekarang ini urusan kami”.
“Baiklah Ndan, aku cabut”. Adri pun berlalu.
“Tunggu bocah!”. Suara Anwar menggema berwibawa.
“Terima Kasih telah menyiapkan hidangan yang menyenangkan”. “Setelah selesai dari sini, kau lah hidangan utamanya”. Anwar dengan percaya diri melontarkan tantangan kepada Adri. Adri yang semula meremehkan Anwar mendadak berubah pikiran.
“Baiklah senior, aku menunggu mu kapan saja, hahahah”. Kemudian Adri berlalu meninggalkan kerumunan itu.

...
 
Sore itu Andra sibuk membereskan kamarnya yang telah lama tidak ia bersihkan. Ia membongkar setiap sisi kamarnya, memilah-milah barang-barang yang masih bisa ia pakai dan sisanya akan ia jual ke tukang loak. Ketika asyik memilah barang-barang, selembar kertas tiba-tiba terjatuh ke kaki Andra. Ia mengambil kertas yang ternyata adalah sebuah foto. Foto yang telah berdebu itu perlahan ia bersihkan dan tampaklah dua sosok manusia didalam foto tersebut. Melihat sosok tersebut, suasana hati Andra tiba-tiba berubah muram, matanya yang terbiasa ceria menjelma sayu, semangatnya yang membara sejak tadi perlahan meleleh. Ia terus mengamati sesosok wanita yang berdiri disampingnya di dalam foto tersebut. Andra akhirnya menyimpan foto tersebut didalam bukunya dan dengan semangat yang telah jauh berkurang Andra memaksa dirinya menyelesaikan ritual bersih kamarnya. Penemuan foto lama itu telah membuat suasana sore Andra gelap lebih awal.


4.6

...

Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...