Tampilkan postingan dengan label my words. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my words. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Agustus 2018

Dalam Rumah-Mu Aku Ditenangkan

Kerinduan
Mampu mengantar mu pada kesunyian
Kediaman yang menuntun batin pada pertanyaan-pertanyaan
Kerinduan menjadi langkah ketika kehampaan menjelang

Kecintaan melahirkan kerinduan
Namun semua bertitik dari temu pada temu
Lalu bagaimana aku kan merindukan?
Sedang yang aku tahu hanya sebatas dari yang aku dengar
Referensi ku ialah bacaan-bacaan yang logika ku tak mampu memahami setiap aksara maupun makna
Engkau tersirat dalam surat-surat
Terucap dalam do'a-do'a

Mencinta yang tak kasat mata
Merindu yang tak berwujud
Aku tak sepantasnya mereka yang mampu merasakan perasaan itu
Mereka yang selalu ada ketika panggilan itu menggema

Aku percaya, cinta itu ada untukku
Aku saja yang terlalu angkuh 'tuk memyadari
Meski begitu, aku tak pernah ditinggalkan

Ketika keadaan tak memihak
Dunia pun seakan menjauh
Engkau tetap menenangkan
Betapa baru ku sadari bahwa hanya di saat terendah dalam kisahku
Engkau ada

Kejatuhan membimbingku pada banyak luka
Ketika itu pula aku membimbing diriku pada kesendirian
Namun, aku tak pernah benar-benar dibiarkan pergi
Dalam kesunyian aku tak sepi
Dalam kesunyian aku tidak sendiri
Dalam kesunyian aku ditenangkan
Dalam kesunyian aku menyadari
Bahwa Engkau, ada!
Dan rumah-Mu akan selalu menantiku

Dalam rumah-Mu
Aku ditenangkan ...




Senin, 09 April 2018

Jarak




Tentang jarak, tentang rindu yang akan terus memuncak, tentang perasaan yang kian bergejolak, tentang suara-suara dalam diri yang bersorak-sorak, namun tersekap dalam dekap dan menguap dalam gelap.
Tentang jarak, ruang yang membatasi temu.
Bagaimana menyebut rindu yang amat sangat? Jika rasa itu tak pernah bisa dirangkai dengan aksara, tak kalimat yang bisa mewujudkan, tak kata-kata yang dapat mengungkapkan, aku rindu!
Perihal jarak ini memang pelik. Ia bisa memancing khawatir dalam diri, kegelisahan-kegelisahan. Mengertilah, dua orang dengan perasaan yang sama paham betul hal ini. Jarak tak hanya ujian akan rindu dan kasih, ia juga ujian kepercayaan. Siapa yang menunggu siapa, siapa yang mempercayai siapa, siapa yang menjaga siapa, siapa yang mengharap siapa?
Jarak ini, adalah caramu mengusahakan seseorang dengan do.a setelah berbagai upaya dan tindakanmu dahulu, sisanya kepercayaan. Untukmu juga, akan didoakan dan mesti menjaga kepercayaan. Karena jarak adalah ujian untuk dua orang dengan perasaan yang sama.
Jarak ini, caraku menjagamu dari kejauhan, memintamu dalam do’a-do’a.

jarak


Sabtu, 16 September 2017

Tentang Perpisahan, tentang Kepergian dan yang Ditinggalkan


Aku pernah terhenti pada satu titik terlalu lama
Kemudian Dia datang dan membuat garis waktu ku kembali berjalan meski pelan
Lalu Kau hadir dan membuat duniaku menjadi lebih dinamis
Dan tak lama lagi mungkin Kau juga akan pergi
Sama seperti Dia ...

Aku pernah benar-benar terhenti amat lama pada sebuah titik, dimana waktu didalam hatiku berhenti dan tak berjalan kemanapun. Waktu itu, aku terbiasa dengan kesendirian dan menghabiskan waktu bersama hobi dan teman-teman. Dunia yang jauh dari hiruk-pikuk konflik perasaan.

            Namun, setenang apapun kehidupan, rasanya akan membosankan jika dilalui dengan melakukan hal-hal yang itu-itu saja. Akan sangat membosankan jika yang kamu lakukan setiap harinya hal yang itu-itu saja, bangun pagi, sekolah, pulang, makan, main, pulang, tidur dan selalu begitu. Jadi, aku mulai mencari-cari hal baru dan ...

Yah, anggap saja aku menemukanmu, entah menemukan, dipertemukan, atau saling menemukan, yang pasti aku mengenalmu, meski aku telah mengenal Dia.
Saat bertemu denganmu, waktu ku sebenarnya sudah berjalan meski pelan, Dia menggerakkannya perlahan. Setidaknya saat itu aku sedikit punya arah.

Ada banyak hal setelah pertemuan itu, aku perlahan mulai sedikit menemukan alur waktu ku. Hal-hal yang dulu berjalan dengan amat tenang, mulai bergerak tak beraturan, kadang waktu itu bisa berjalan amat kencang, terkadang pula ia bisa amat pelan dan kadang bisa amat diam. Maksudku, aku tak lagi menjalani hari yang seperti itu-seperti itu saja. Hanya satu pertemuan mampu menghadirkan banyak hal, kadang memang begitu kan? Banyak hal-hal besar dimulai dari hal-hal sederhana? Jika tidak bagimu, mungkin kamu kurang memaknai dan mensyukuri hal-hal kecil yang kamu terima. Bukan berarti aku ini orang yang selalu bersyukur kok, hanya aku selalu berusaha untuk melakukannya.

Aku tak akan ceritakan apa saja yang sudah aku lalui bersamamu. Itu cukup jadi milik ku, namun jika kau juga menganggap itu penting untukmu, kau juga boleh menyimpannya. Jujur saja, setelah banyak hal yang aku lalui bersamamu, aku masih tak berani untuk menganggapmu milikku, itu berlebihan, atau bisa saja sikap dan perasaan yang terlalu memiliki akan melukaimu, toh sampai hari ini aku tak pernah tahu apa yang ada dalam hati mu? Meski aku sangat ingin tahu, biarlah, aku tak ingin terlalu memikirkannya, aku takut jika nanti isi hatimu tak sesuai dengan yang aku inginkan. Aku masih belum siap terluka lagi, meski telah bertahun terakhir kali aku kehilangan, rasanya masih akan sama saja kan? Sebenarnya bukan hanya soal rasa sakit, tapi soal kehilangan orang yang penting bagimu, itu jauh lebih menyakitkan.

Dan setelah banyak waktu-waktu yang menyenangkan bersamamu. Waktu-waktu yang terlalu menyenangkan sampai aku lupa, selalu ada akhir dari sebuah awal, selalu ada perpisahan setelah pertemuan entah cepat entah lambat. Waktu dalam kepalaku sempat terhenti saat kau menyampaikan kata pergi, percayalah, aku selalu takut dengan kata-kata itu, setidaknya akhir-akhir ini. Pergi, hal yang sering aku lakukan dulunya karena aku memang sering berpindah-pindah tempat dari dulunya. Ternyata kata itu kini menjadi momok untuk ku, yang saat ini terlalu lama menetap di satu titik. Aku jadi mulai berpikir, mungkin aku perlu mempersiapkan diri untuk mendengar kata-kata “Pergi”.

Saat kata “pergi” itu terdengar, otakku sesaat berhenti bekerja, dan semesta disekelilingku diam, hening. Hanya helaan nafas panjang yang membuat waktu ku kembali berjalan, semesta disekelilingku kembali berotasi. Ternyata mengalami tak pernah mudah meski kau sudah mempersiapkan diri. Yah, merasakan selalu lebih dari sekedar memahami.

Sambil aku masih memikirkan kepergianmu, aku mulai merasa waktu ku mulai mengalami penurunan percepatan, meski belum terlalu signifikan. Aku dan kau itu cuma bersama, menghabiskan waktu bersama namun tak sesering itu, temu itu jarang. Namun tak sesedarhana itu kan? Biarlah aku dan kau saja yang tahu.

Aku berterima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan itu. Aku menulis kata-kata ini dengan sambil tersenyum, aku bersyukur diberi kesempatan untuk mengenalmu.

Jadi, ketika kau pergi, aku tak punya kuasa untuk menahannya. Juga tak punya hak untuk melarang, sama sekali tak punya. Yang aku bisa cuma berharap, lain dari itu mendoakan. Sisanya menjalani hidupku yang masih punya banyak hutang kepada orang tua.

Aku berharap waktu ku tak kembali terhenti seperti dulu, semoga. Dan kau, semoga baik-baik saja dimanapun berada. Jangan terlalu memikirkan perasaanku, kau lebih perlu memikirkan masa depanmu. Aku akan baik-baik saja, sendiri itu temanku, meski ditinggalkan itu sulit, aku pasti bangkit.

Maaf untuk waktu-waktu yang sempat melukaimu tanpa sengaja, semoga kau bahagia. Jika tempat baru mu terlalu kejam, kau selalu punya rumah untuk kembali, tanpa peduli seberapa lama kau meninggalkannya, tanpa peduli sejauh apa dunia yang telah kau jelang. Jika orang-orang disana terlalu melukai, kau selalu punya keluarga untuk berbagi dan menguatkan meski kau jarang menemui, atau sulit untuk sekedar berkabar.

Dan aku, jangan sungkan jika kau rindu...




Minggu, 06 Agustus 2017

Tentang Mengira-ngira


Sudah lumrah manusia mengira-ngira akan suatu hal, menerka-nerka apa yang akan terjadi. Dalam matematika pun kita belajar tentang peluang, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bermuara dari memperkirakan tapi memiliki hitung-hitungan tersendiri. Ada banyak hal yang bisa dikira-kira oleh manusia entah itu perihal nasib, masa depan, maupun hasil suatu pertandingan. Bahasa kerennya adalah prediksi. Lalu bagaimana tentang mengira-ngira kepribadian atau perilaku seseorang? Entahlah, aku tak berani mengira-ngira atau merasa tahu tentang perilaku seseorang. Aku menyebutnya menilai perilaku orang lain.

Berbicara tentang mengira perilaku orang lain akan memunculkan dua pandangan tentang orang tersebut, pandangan positif atau negatif. Jika pandangan positif yang muncul, syukurlah, setidaknya itu turut menjaga nama baik orang tersebut. Namun, jika pandangan negatif yang muncul, bisa jadi kita sedang memfitnah orang lain, atau pastinya kita sedang menggunjingkan orang lain. Perkara tentang mengira-ngira perilaku orang ini, sebelum kita melakukannya, sudahkah kita mengenal baik orang itu? Sudahkah kita bergaul banyak dengannya? Sudahkah kita menghabiskan waktu barang sejam dua jam dengannya selama satu hari setiap harinya? Sudahkah kita melakukan perjalanan panjang dengannya? Sebenarnya masih banyak indikator lain untuk menilai dan menerka-nerka perilaku orang lain.

Jika kita bahkan sangat jarang bergaul dengannya, janganlah coba untuk menerka tentang sikapnya. Melakukan itu membuat kita menjadi orang yang sok tahu. Sedang kita sendiri pun tak suka dengan orang yang sok tahu. Semisal ini, kita kenal seseorang, orang itu kenal dengan kita, tapi pergaulan biasa saja dan tak terlalu intens. Pada suatu ketika dia mengira-ngira soal sikap kita seperti ini, seperti itu dan seterusnya yang banyak sekali tak sesuai. Penilaiannya tentang kita justru membuat kita heran sehingga kita berpikir “siapa dia? Akrab tidak, bergaul juga biasa-biasa saja, tapi seakan tahu apapun tentang ku, sok tahu”. Tentu kita tak senang dengan penilaian semacam itu apalagi dari orang yang tak terlalu akrab. Tapi periksa dulu, kamu tak senang karena yang dia katakan tentangmu memang tidak sesuai atau karena kamu tak terima padahal yang ia katakan benar tentangmu?

Jika pun yang ia katakan tentangmu benar, kamu pun belum tentu bisa menerimanya kan? Lalu bagaimana bisa kamu membicarakan kejelekan seseorang pada orang lain? Karenanya, jawablah yang baik-baik saja jika pertanyaan seputar perilaku seseorang jika itu bukan perkara besar. Apabila pertanyaan mengenai perilaku berkaitan tentang hal besar seumpama pernikahan, perniagaan, jawablah setahu mu. Misalkan seorang wanita bertanya kepadamu tentang bagaimana perilaku laki-laki yang hendak melamarnya karena laki-laki itu ialah temanmu, kenalanmu, sahabatmu, maka jawablah semampumu baik buruknya ia karena perkara nikah tak lah main-main. Jangan pula kamu memberi jawaban palsu karena ternyata kamu juga menyukai wanita yang sama. Jikalau kamu tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan, rekomendasikanlah orang lain yang berkompeten.

Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang mata lihat tanpa mencoba terlibat dengannya. Karena jika tak bergaul dengannya, tak akan bisa kamu memastikan bagaimana ia. Kadang ia tak seburuk yang kau duga. Jangan pula menilai seseorang hanya dari apa yang kamu dengar dari orang lain, karena yang kamu dengar kadang hanya ujaran kebencian atau pujian dari fanatisme. Kenalilah lebih dalam, maka kamu akan tahu, mungkin karena itu ada pepatah "Tak kenal maka tak sayang". 

Setahu apa kita terhadap perilaku orang lain, kita tak berhak menghakiminya karena sejatinya kita tak benar-benar tahu bagaimana seseorang itu. Karena tak semua orang menampilkan total dirinya pada orang lain. Kita tidak bisa menilai seberapa kuat seseorang, juga tak bisa mengatakan seberapa lemah dia. Manusia itu keterbatasan yang tak pernah bisa kita pahami batasnya. Jadi, janganlah merasa sangat tahu tentang teman-temanmu, kenalanmu maupun sahabatmu. Bisa jadi sikapmu yang seolah tahu itu dapat menyinggung orang-orang terdekatmu. Ucapkan saja yang baik-baik tentang kenalanmu, temanmu, sahabatmu. Jika kau benar-benar tak tahu, katakan saja tak tahu daripada menerka-nerka yang tak meiliki dasar.

Kata penutup, mengutip, lupa dari siapa dan kata-kata tepatnya, yang jelas maknanya demikian. Ketika kita bermasalah dengan satu orang, itu maklum dan wajar. Tapi jika kita bermasalah dengan hampir setiap orang, coba cek diri kita, sudah benarkah kita? Curigailah diri kita terlebih dahulu sebelum mencurigai orang lain. Kita jarang menyadari bahwa kadang pemikiran kita sendiri yang menjebak kita dalam menolak kebenaran dari luar. Intropeksi diri, kita tak selalu benar, jangan sampai ego membutakan diri.

Bahkan aku pun belum tentu suci dari dosa ketika menulis ini.




Senin, 25 Januari 2016

Seperti itulah rasanya

Pada sebuah kata perpisahan
Bukan tentang cinta dua sejoli
Ini tentang orang-orang yang sangat berharga
Tentang teman, sahabat, saudara, keluarga

Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...