Kerinduan
Mampu mengantar mu pada kesunyian
Kediaman yang menuntun batin pada pertanyaan-pertanyaan
Kerinduan menjadi langkah ketika kehampaan menjelang
Kecintaan melahirkan kerinduan
Namun semua bertitik dari temu pada temu
Lalu bagaimana aku kan merindukan?
Sedang yang aku tahu hanya sebatas dari yang aku dengar
Referensi ku ialah bacaan-bacaan yang logika ku tak mampu memahami setiap aksara maupun makna
Engkau tersirat dalam surat-surat
Terucap dalam do'a-do'a
Mencinta yang tak kasat mata
Merindu yang tak berwujud
Aku tak sepantasnya mereka yang mampu merasakan perasaan itu
Mereka yang selalu ada ketika panggilan itu menggema
Aku percaya, cinta itu ada untukku
Aku saja yang terlalu angkuh 'tuk memyadari
Meski begitu, aku tak pernah ditinggalkan
Ketika keadaan tak memihak
Dunia pun seakan menjauh
Engkau tetap menenangkan
Betapa baru ku sadari bahwa hanya di saat terendah dalam kisahku
Engkau ada
Kejatuhan membimbingku pada banyak luka
Ketika itu pula aku membimbing diriku pada kesendirian
Namun, aku tak pernah benar-benar dibiarkan pergi
Dalam kesunyian aku tak sepi
Dalam kesunyian aku tidak sendiri
Dalam kesunyian aku ditenangkan
Dalam kesunyian aku menyadari
Bahwa Engkau, ada!
Dan rumah-Mu akan selalu menantiku
Dalam rumah-Mu
Aku ditenangkan ...
It's me and myworld!!! WELCOME ....... Mengisahkan siapapun sebagai aku. Karena dunia ini tidak hanya tentang aku seorang, namun akan lebih mudah memahami dan menuliskannya sebagai aku
Tampilkan postingan dengan label my words. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my words. Tampilkan semua postingan
Selasa, 07 Agustus 2018
Senin, 09 April 2018
Jarak
Tentang jarak, tentang rindu yang akan terus memuncak, tentang
perasaan yang kian bergejolak, tentang suara-suara dalam diri yang
bersorak-sorak, namun tersekap dalam dekap dan menguap dalam gelap.
Tentang jarak, ruang yang membatasi temu.
Bagaimana menyebut rindu yang amat sangat? Jika rasa itu tak
pernah bisa dirangkai dengan aksara, tak kalimat yang bisa mewujudkan, tak
kata-kata yang dapat mengungkapkan, aku rindu!
Perihal jarak ini memang pelik. Ia bisa memancing khawatir dalam
diri, kegelisahan-kegelisahan. Mengertilah, dua orang dengan perasaan yang sama
paham betul hal ini. Jarak tak hanya ujian akan rindu dan kasih, ia juga ujian
kepercayaan. Siapa yang menunggu siapa, siapa yang mempercayai siapa, siapa
yang menjaga siapa, siapa yang mengharap siapa?
Jarak ini, adalah caramu mengusahakan seseorang dengan do.a
setelah berbagai upaya dan tindakanmu dahulu, sisanya kepercayaan. Untukmu juga,
akan didoakan dan mesti menjaga kepercayaan. Karena jarak adalah ujian untuk
dua orang dengan perasaan yang sama.
Jarak ini, caraku menjagamu dari kejauhan, memintamu dalam do’a-do’a.
Sabtu, 16 September 2017
Tentang Perpisahan, tentang Kepergian dan yang Ditinggalkan
Aku
pernah terhenti pada satu titik terlalu lama
Kemudian
Dia datang dan membuat garis waktu ku kembali berjalan meski pelan
Lalu
Kau hadir dan membuat duniaku menjadi lebih dinamis
Dan
tak lama lagi mungkin Kau juga akan pergi
Sama
seperti Dia ...
Aku
pernah benar-benar terhenti amat lama pada sebuah titik, dimana waktu didalam
hatiku berhenti dan tak berjalan kemanapun. Waktu itu, aku terbiasa dengan
kesendirian dan menghabiskan waktu bersama hobi dan teman-teman. Dunia yang
jauh dari hiruk-pikuk konflik perasaan.
Namun, setenang apapun kehidupan, rasanya akan
membosankan jika dilalui dengan melakukan hal-hal yang itu-itu saja. Akan
sangat membosankan jika yang kamu lakukan setiap harinya hal yang itu-itu saja,
bangun pagi, sekolah, pulang, makan, main, pulang, tidur dan selalu begitu. Jadi,
aku mulai mencari-cari hal baru dan ...
Yah,
anggap saja aku menemukanmu, entah menemukan, dipertemukan, atau saling
menemukan, yang pasti aku mengenalmu, meski aku telah mengenal Dia.
Saat
bertemu denganmu, waktu ku sebenarnya sudah berjalan meski pelan, Dia
menggerakkannya perlahan. Setidaknya saat itu aku sedikit punya arah.
Ada
banyak hal setelah pertemuan itu, aku perlahan mulai sedikit menemukan alur
waktu ku. Hal-hal yang dulu berjalan dengan amat tenang, mulai bergerak tak
beraturan, kadang waktu itu bisa berjalan amat kencang, terkadang pula ia bisa
amat pelan dan kadang bisa amat diam. Maksudku, aku tak lagi menjalani hari
yang seperti itu-seperti itu saja. Hanya satu pertemuan mampu menghadirkan
banyak hal, kadang memang begitu kan? Banyak hal-hal besar dimulai dari hal-hal
sederhana? Jika tidak bagimu, mungkin kamu kurang memaknai dan mensyukuri
hal-hal kecil yang kamu terima. Bukan berarti aku ini orang yang selalu
bersyukur kok, hanya aku selalu berusaha untuk melakukannya.
Aku
tak akan ceritakan apa saja yang sudah aku lalui bersamamu. Itu cukup jadi
milik ku, namun jika kau juga menganggap itu penting untukmu, kau juga boleh
menyimpannya. Jujur saja, setelah banyak hal yang aku lalui bersamamu, aku
masih tak berani untuk menganggapmu milikku, itu berlebihan, atau bisa saja
sikap dan perasaan yang terlalu memiliki akan melukaimu, toh sampai hari ini
aku tak pernah tahu apa yang ada dalam hati mu? Meski aku sangat ingin tahu,
biarlah, aku tak ingin terlalu memikirkannya, aku takut jika nanti isi hatimu
tak sesuai dengan yang aku inginkan. Aku masih belum siap terluka lagi, meski
telah bertahun terakhir kali aku kehilangan, rasanya masih akan sama saja kan?
Sebenarnya bukan hanya soal rasa sakit, tapi soal kehilangan orang yang penting
bagimu, itu jauh lebih menyakitkan.
Dan
setelah banyak waktu-waktu yang menyenangkan bersamamu. Waktu-waktu yang
terlalu menyenangkan sampai aku lupa, selalu ada akhir dari sebuah awal, selalu
ada perpisahan setelah pertemuan entah cepat entah lambat. Waktu dalam kepalaku
sempat terhenti saat kau menyampaikan kata pergi, percayalah, aku selalu takut
dengan kata-kata itu, setidaknya akhir-akhir ini. Pergi, hal yang sering aku lakukan
dulunya karena aku memang sering berpindah-pindah tempat dari dulunya. Ternyata
kata itu kini menjadi momok untuk ku, yang saat ini terlalu lama menetap di
satu titik. Aku jadi mulai berpikir, mungkin aku perlu mempersiapkan diri untuk
mendengar kata-kata “Pergi”.
Saat
kata “pergi” itu terdengar, otakku sesaat berhenti bekerja, dan semesta
disekelilingku diam, hening. Hanya helaan nafas panjang yang membuat waktu ku
kembali berjalan, semesta disekelilingku kembali berotasi. Ternyata mengalami
tak pernah mudah meski kau sudah mempersiapkan diri. Yah, merasakan selalu
lebih dari sekedar memahami.
Sambil
aku masih memikirkan kepergianmu, aku mulai merasa waktu ku mulai mengalami
penurunan percepatan, meski belum terlalu signifikan. Aku dan kau itu cuma
bersama, menghabiskan waktu bersama namun tak sesering itu, temu itu jarang.
Namun tak sesedarhana itu kan? Biarlah aku dan kau saja yang tahu.
Aku
berterima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan itu. Aku menulis kata-kata
ini dengan sambil tersenyum, aku bersyukur diberi kesempatan untuk mengenalmu.
Jadi,
ketika kau pergi, aku tak punya kuasa untuk menahannya. Juga tak punya hak
untuk melarang, sama sekali tak punya. Yang aku bisa cuma berharap, lain dari
itu mendoakan. Sisanya menjalani hidupku yang masih punya banyak hutang kepada
orang tua.
Aku berharap
waktu ku tak kembali terhenti seperti dulu, semoga. Dan kau, semoga baik-baik
saja dimanapun berada. Jangan terlalu memikirkan perasaanku, kau lebih perlu
memikirkan masa depanmu. Aku akan baik-baik saja, sendiri itu temanku, meski
ditinggalkan itu sulit, aku pasti bangkit.
Maaf
untuk waktu-waktu yang sempat melukaimu tanpa sengaja, semoga kau bahagia. Jika
tempat baru mu terlalu kejam, kau selalu punya rumah untuk kembali, tanpa
peduli seberapa lama kau meninggalkannya, tanpa peduli sejauh apa dunia yang
telah kau jelang. Jika orang-orang disana terlalu melukai, kau selalu punya
keluarga untuk berbagi dan menguatkan meski kau jarang menemui, atau sulit
untuk sekedar berkabar.
Dan
aku, jangan sungkan jika kau rindu...
Minggu, 06 Agustus 2017
Tentang Mengira-ngira
Sudah lumrah
manusia mengira-ngira akan suatu hal, menerka-nerka apa yang akan terjadi. Dalam
matematika pun kita belajar tentang peluang, tentang kemungkinan-kemungkinan
yang bermuara dari memperkirakan tapi memiliki hitung-hitungan tersendiri. Ada
banyak hal yang bisa dikira-kira oleh manusia entah itu perihal nasib, masa
depan, maupun hasil suatu pertandingan. Bahasa kerennya adalah prediksi. Lalu bagaimana
tentang mengira-ngira kepribadian atau perilaku seseorang? Entahlah, aku tak
berani mengira-ngira atau merasa tahu tentang perilaku seseorang. Aku menyebutnya
menilai perilaku orang lain.
Berbicara
tentang mengira perilaku orang lain akan memunculkan dua pandangan tentang
orang tersebut, pandangan positif atau negatif. Jika pandangan positif yang
muncul, syukurlah, setidaknya itu turut menjaga nama baik orang tersebut. Namun,
jika pandangan negatif yang muncul, bisa jadi kita sedang memfitnah orang lain,
atau pastinya kita sedang menggunjingkan orang lain. Perkara tentang
mengira-ngira perilaku orang ini, sebelum kita melakukannya, sudahkah kita
mengenal baik orang itu? Sudahkah kita bergaul banyak dengannya? Sudahkah kita
menghabiskan waktu barang sejam dua jam dengannya selama satu hari setiap
harinya? Sudahkah kita melakukan perjalanan panjang dengannya? Sebenarnya masih
banyak indikator lain untuk menilai dan menerka-nerka perilaku orang lain.
Jika kita
bahkan sangat jarang bergaul dengannya, janganlah coba untuk menerka tentang
sikapnya. Melakukan itu membuat kita menjadi orang yang sok tahu. Sedang kita
sendiri pun tak suka dengan orang yang sok tahu. Semisal ini, kita kenal
seseorang, orang itu kenal dengan kita, tapi pergaulan biasa saja dan tak
terlalu intens. Pada suatu ketika dia mengira-ngira soal sikap kita seperti
ini, seperti itu dan seterusnya yang banyak sekali tak sesuai. Penilaiannya tentang
kita justru membuat kita heran sehingga kita berpikir “siapa dia? Akrab tidak,
bergaul juga biasa-biasa saja, tapi seakan tahu apapun tentang ku, sok tahu”. Tentu
kita tak senang dengan penilaian semacam itu apalagi dari orang yang tak
terlalu akrab. Tapi periksa dulu, kamu tak senang karena yang dia katakan
tentangmu memang tidak sesuai atau karena kamu tak terima padahal yang ia
katakan benar tentangmu?
Jika pun
yang ia katakan tentangmu benar, kamu pun belum tentu bisa menerimanya kan? Lalu
bagaimana bisa kamu membicarakan kejelekan seseorang pada orang lain? Karenanya,
jawablah yang baik-baik saja jika pertanyaan seputar perilaku seseorang jika itu
bukan perkara besar. Apabila pertanyaan mengenai perilaku berkaitan tentang hal
besar seumpama pernikahan, perniagaan, jawablah setahu mu. Misalkan seorang
wanita bertanya kepadamu tentang bagaimana perilaku laki-laki yang hendak
melamarnya karena laki-laki itu ialah temanmu, kenalanmu, sahabatmu, maka
jawablah semampumu baik buruknya ia karena perkara nikah tak lah main-main. Jangan
pula kamu memberi jawaban palsu karena ternyata kamu juga menyukai wanita yang
sama. Jikalau kamu tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan,
rekomendasikanlah orang lain yang berkompeten.
Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang mata lihat tanpa mencoba terlibat dengannya. Karena jika tak bergaul dengannya, tak akan bisa kamu memastikan bagaimana ia. Kadang ia tak seburuk yang kau duga. Jangan pula menilai seseorang hanya dari apa yang kamu dengar dari orang lain, karena yang kamu dengar kadang hanya ujaran kebencian atau pujian dari fanatisme. Kenalilah lebih dalam, maka kamu akan tahu, mungkin karena itu ada pepatah "Tak kenal maka tak sayang".
Setahu apa
kita terhadap perilaku orang lain, kita tak berhak menghakiminya karena
sejatinya kita tak benar-benar tahu bagaimana seseorang itu. Karena tak semua
orang menampilkan total dirinya pada orang lain. Kita tidak bisa menilai
seberapa kuat seseorang, juga tak bisa mengatakan seberapa lemah dia. Manusia itu
keterbatasan yang tak pernah bisa kita pahami batasnya. Jadi, janganlah merasa
sangat tahu tentang teman-temanmu, kenalanmu maupun sahabatmu. Bisa jadi
sikapmu yang seolah tahu itu dapat menyinggung orang-orang terdekatmu. Ucapkan saja
yang baik-baik tentang kenalanmu, temanmu, sahabatmu. Jika kau benar-benar tak
tahu, katakan saja tak tahu daripada menerka-nerka yang tak meiliki dasar.
Kata penutup,
mengutip, lupa dari siapa dan kata-kata tepatnya, yang jelas maknanya demikian.
Ketika kita bermasalah dengan satu orang, itu maklum dan wajar. Tapi jika kita
bermasalah dengan hampir setiap orang, coba cek diri kita, sudah benarkah kita?
Curigailah diri kita terlebih dahulu sebelum mencurigai orang lain. Kita jarang menyadari bahwa kadang pemikiran kita sendiri yang menjebak kita dalam menolak kebenaran dari luar. Intropeksi diri,
kita tak selalu benar, jangan sampai ego membutakan diri.
Bahkan
aku pun belum tentu suci dari dosa ketika menulis ini.
Senin, 25 Januari 2016
Seperti itulah rasanya
Pada sebuah kata
perpisahan
Bukan tentang cinta dua
sejoli
Ini tentang orang-orang
yang sangat berharga
Tentang teman, sahabat,
saudara, keluarga
Langganan:
Komentar (Atom)
Negeri di Awan
Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...
-
Lah den ukia Cincin suaso Raso ka elok Ikek parmato Cincin den harok pamenan diri Mangko tak lapeh disalo jari, di salo jari Ulah kile...
-
Tugu Perbatasan dan Sarasah Ambun Masih Sumatera Barat, provinsi dengan jutaan pesona alam yang akan menggugah jiwa akan keindahannya...
-
Masih dari Kabupaten Pesisir Selatan, wilayah bagian selatan Provinsi Sumatera Barat. Kali ini yang akan dibahas adalah bukit bendera dan a...


