Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2019

Seribu Tahun



Saat itu adalah sore yang cerah, ada festival seni dan budaya waktu itu dan suasana amat ramai. Festival seni yang luar biasa indah, di isi oleh berbagai pertunjukan seperti musik dan tari daerah, pameran lukisan beraneka gaya, stand berisi aneka karya, serta stand kuliner. Aku bukanlah fanatik seni, namun sedikit tertarik dengan hal-hal yang bertema budaya. Keberadaanku ditempat ini, panggil saja Jo dari nama lengkap Joni Adrian dan teman seperjuangan di kampus Antoni Anwar atau Toni adalah semata mencari hiburan dan sejenak melupakan kegiatan belajar di kampus. Waktu itu sore semakin menjelang, dan manusia semakin bertambah ramai, sesak juga semakin menjadi-jadi. Aku dan Toni yang telah mengelilingi berbagai stand dan telah menyaksikan banyak hal, takjub juga akan estetika karya manusia. Manusia juga bisa menciptakan karya yang indah dan unik, meski keindahan ciptaan-Nya adalah tiada tandingan siapapun seluruh semesta ini.

Tengah asyik mendudukan badan pada sebuah tempat duduk, sebenarnya bukan tempat duduk, melainkan sebuah pagar pembatas rendah sekali yang memagari sebuah pohon, pandangan ku tertuju pada sebuah karya indah ciptaan-Nya. Mata ku tertuju pada seorang gadis yang amat elok rupanya, anggun busananya. Mata ku tertahan pada karya Tuhan nan indah itu, hingga tak sadar mata gadis itu telah pula menatap kepada ku, kepada mata ku. Terkejut karena tatapan baliknya, aku mengalihkan pandangan, tersipu malu, salah tingkah, namun keinginan hati tetap memaksa untuk kembali menatapnya. Tatapan kedua kalinya, ketika tatapan ku telah sampai padanya, dia telah lebih dahulu menatap ku, dan saat itu, dia tersenyum ke arah ku. Sebuah senyum indah, seindah lazuardi senja kala itu, seumpama cahaya mentari terbit diufuk barat, seumpama sejuk embun pelepas dahaga. Masya Allah!

Hoi Jo, ngapain bengong? Panggilan Toni sesaat menghentikan ketakjuban ku akan keindahan master piece milik-Nya. Aku hanya tersenyum sembari menatap Toni. Toni yang melihat reaksiku hanya garuk-garuk kepala sambil mengerinyitkan dahinya, heran! Entah berapa lama kami duduk-duduk di bawah rindangnya pohon besar itu, senja sudah hilang saja, sama hilangnya dengan gadis yang tadi menggetarkan jantung hatiku. Kami pulang. Ketika berjalan menuju tempat parkir, senyum dari bibirku terbit kembali karena di sana aku kembali melihat gadis tadi. Dia tidak sendirian, dia bersama seorang teman yang juga indah dirinya. Kembali seperti tadi, aku mematung menatapnya. Dan Toni, yang ikut terperangah melihat indah ke-dua gadis itu paham akan hal yang terjadi kepada diriku. Toni tersenyum, ia merangkulkan tangannya kepundakku dan menyeretku perlahan.

“Ayo kawan, kita temui mereka”. Saat itu aku seperti kerbau yang di cokok hidungnya, nurut saja. Singkat cerita, Toni telah berhasil membuat kami saling mengenal. Namanya Cahya Farizka Badi’ah dan temannya Allyra Rahma. Kala itu, meski telah beberapa kali sempat meliriknya sedari jauh, memandanginya dari jarak dekat membuat ku mendebarkan jantung dengan sangat hebat. Jantung dalam tubuhku seakan ingin meledak. Keanggunannya tetap mempesona ku, wajah ovalnya yang terbungkus jilbab panjang dan pakaian muslimah beserta rok panjang yang membingkai dirinya, ah betapa anggunnya dirimu Cahya. Demikianlah kata yang terucap keras di dalam hatiku. Ketika saat itu Toni telah dapat berbicara santai dengan Allyra, aku dan Cahya lebih banyak diam. Kami hanya saling melempar senyum sesekali dan kemudian dia menundukkan wajahnya. Aku mulai paham, bahwa ini tidak biasa untuknya. Percakapan kami kala itu adalah percakapan hati, kami paham bahwa sejak tatapan pertama tadi, ada sebuah perasaan yang tidak biasa, yang mengatakan pada kami bahwa “meski baru bertemu, namun seakan telah lama saling mengenal satu sama lain”.

Percakapan sebentar itu berakhir dengan aku mendapatkan kontak HP Cahya yang bisa dipanggil “Aya”, demikianlah ia berkata. Toni pun berhasil memperoleh kontak HP Allyra.
Seminggu telah berlalu sejak hari itu. Meski tidak rutin, aku sempat beberapa kali menelpon Aya. Selalu ketika aku bercerita dengan Aya meski tidak lama, selalu saja sambutan hangat darinya. Percakapan yang tidak lama itu selalu terasa semakin mengikat perasaan masing-masing. Mungkin saat ketika pandangan mata pada saat yang pertama telah mempertalikan hati kami masing-masing. Seakan takdir telah menjanjikan pertemuan hari itu, karena meski bertemu dengan banyak wanita selama ini, tiada kesan dan terasa biasa saja. Yah, saat itu kami seakan telah saling memahami hati masing-masing, hanya saja kata cinta yang tetap kami pendam, aku menghormatinya dan kecintaannya kepada-Nya.
...
Minggu, Aku telah sampai di gedung bioskop tempat yang aku dan Aya berjanji untuk bertemu. Begini, semalam Aya menghubungi ku, dia ingin menonton sebuah film yang amat ia tunggu-tunggu, dan Allyra saat itu sedang ada acara keluarga katanya. Pilihan yang ia percaya selain Allyra adalah aku. Maka jadilah kami berjanji menonton hari itu. Saat pemutaran film, jujur saja aku tidak terlalu fokus dengan filmnya, berbeda sekali dengan Aya yang seakan tersihir dengan film. Alih-alih menonton, yang aku lakukan adalah memandangi Aya, berbagai ekspresi polosnya akibat reaksi dari film. Oh Tuhan, pandanganku yang terlalu mengagumi telah membuat aku lupa, dia bukan hak untuk aku pandangi dengan terlalu lama. Meski demikian, memandangnya adalah ketenangan bagi jiwa ku. Ya Rabb, tertitip do’a bahwa ku harap dialah takdir-ku.

Aku mengantar Aya pulang ke rumahnya, dia penduduk asli kota ini. Saat diperjalanan, tidak banyak yang kami ceritakan, namun cukup menyenangkan. Saat itu, ketika telah sampai di depan rumahnya, sebelum masuk rumah, Aya mengucapkan kata-kata yang sedikit ganjil, namun aku tidak terlalu mengindahkannya

“Jo’, maaf ya hari ini aku memaksamu pergi, aku takut tidak punya waktu lebih untuk bisa pergi bersama”.
Aya mengucapkannya dengan lancar dan sambil tersenyum sebelum akhirnya ia menghilang dari sebalik pintu rumahnya. Aku masih sempat meliht senyumnya sesaat sebelum pintu menghilangkan dirinya. Senyum yang tetap indah.

...

Pagi itu aku seperti biasa mengunjungi perpustakaan kota guna mencari referensi untuk skripsi ku. Hari itu senin pagi, sehari setelah aku dan Aya pergi menonton. Sejak hari itu, aku belum lagi berkomunikasi dengan Aya. Setelah menyelesaikan pencarian referensiku, aku memutuskan pulang ke kos. Sebelum pulang aku menyempatkan membeli koran karena tak sempat membaca koran ketika tadi di perpustakaan.

Di kos, terlihat Toni yang tengah duduk di meja belajarnya sembari membaca buku. Toni termasuk mahasiswa yang suka membaca, buku apapun ia baca termasuk buku-buku dengan tema berat. Meski begitu, Toni amat jarang membaca koran. Koran kemaren yang belum sempat aku baca ternyata masih bersih suci karena tak tersentuh. Karena merasa mubazir, maka aku memutuskan untuk membaca koran yang kemaren aku beli itu. Aku membuka helai demi helai koran tersebut. Ketika sedang khusyuknya membaca, aku terkejut ketika membaca sebuah berita kecelakaan lalu lintas.

“Ton, kemaren tanggal 14 kan?”

“Tanggal? Sebentar aku cek HP dulu”. Sesaat kemudian Toni memastikan bahwa benar itu tanggal 14 Februari 2016.

“Memangnya kenapa Jo?”

“Baca berita ini Ton!” sambil aku menyerahkan koran tersebut ke Anton.


Tabrakan Maut, Dua Gadis Muda Tewas di Tempat
Minggu, 14 februari 2016

... “telah terjadi tabrakan maut antara sebuah kijang Inova dengan sebuah sepeda motor yang ditunggangi oleh dua orang perempuan muda (Sabtu,13/2). Kedua korban tewas ditempat saat itu juga .... Korban meninggal Allyra Rahma (21) dan Cahya Farizka Badi’ah (21) tewas merupakan mahasiswa di salah satu PTN di kota ini”...


Toni sontak melemparkan koran itu, wajahnya pucat pasi. Ia menatap ku dengan wajah bercampur antara takut terkejut, dan ekspresi-ekpresi yang tidak mengenakkan lainnya. Kami saling memandang dengan ekpresi takut, bulu kuduk kami merinding, meski begitu, ada perasaan yang tak tertahan dalam diriku. Ada sebuah gelombang yang mulai mendesak-desak dari mataku. Toni kelihatan bingung, dia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak ingin salah bicara.
“Jo’, kemaren lu pergi nonton sama Aya kan?”

Aku tak bersuara, jawabanku hanya anggukkan, sedangkan mata telah mulai memerah.
“Jadi, ...” Toni menarik nafas panjang, ia tak mampu melanjutkan perkataannya. Adapun aku, mata ini sudah berair. Anton mengambil HP-nya, ia menghubungi seseorang. Setelah kata “Halo” dan “Bisa bicara dengan Allyra”, Toni hanya diam dan mengangguk-angguk sampai akhirnya ia mematikan HP-nya. Ia mendatangiku lagi.

“Bagaimana Ton?”

Toni menarik napas panjang lagi, kemudian mengangguk pelan.

“Iya Jo’, mereka yang meninggal dalam kecelakaan itu, barusan orang tua Allyra yang jawab”.

Suasana menjadi sunyi senyap. Air mata yang mengalir ku coba mengusapnya, namun ia sulit berhenti. Benar baru sebentar aku mengenal Aya, namun yang terasa seakan telah ribuan tahun saling mengenal sehingga kenyataan ini amat berat. Benar jika baru satu kali kami pergi berdua, namun seakan tak terhitung  masa rasanya kami telah bersama hingga aku tak siap menerima apa yang terjadi. Putik yang baru saja tumbuh, telah pula dicabut.

...

Senja itu aku duduk sendiri di tempat dimana pertama kali mataku menemukan Aya. Sejak tadi aku hanya memandangi lalu lalang dan sesekali menatap langit. Sebotol minuman penyegar menemaniku, yang tak habis-habis karena hanya sekali dua kali aku menyeruputnya. Ketika senja mulai semakin naik, dan ketika aku menundukkan wajah ku, aku melihat ada kaki menghampiriku dan sebuah tangan yang terulur kepadaku. Aku mengangkat wajahku perlahan, menatap sosok itu, dia Allyra! Saat itu, aku justru tersenyum, tidak bisa mengatakan apa-apa meski bulu kuduk dan tangan ku berdiri semua, namun tak ada perasaan apa-apa. Allyra tersenyum pula saat itu.

“Bagaimana kabar mu Jo’?”

“Aku baik, Kau?

“Seperti yang kau ketahui”

“Bagaimana Aya?

“Dia baik-baik saja di sana, dia titip salam”

“Salam juga untuk Aya”

Allyra tertawa kecil “Jo’, Aya minta maaf karena waktu itu dia tak menjelaskan apa-apa”

Aku terdiam sejenak, menyelami tiap pesan dari Allyra “Iya, aku paham kok Lyra”.

“Syukurlah kalau begitu”. “Sepertinya tidak ada yang perlu di khawatirkan”.

“Aya bilang, meski hanya sesaat, namun semua yang terjadi seakan telah lama. Seakan telah bersama sejak ribuan masa ...

“Selamat tinggal, Jo”.

Ketika kata-kata itu itu masih terdengar jelas ditelinga ku, sosok Allyra telah tak nampak lagi. Aku kembali sendiri, menikmati minumanku dan gurat wajah senja yang makin pudar. Setidaknya aku paham maksud perkataanmu waktu itu Aya, hanya yang membuatku selalu berpikir, siapakah dari dirimu yang saat itu bersamaku di bioskop?



Minggu, 24 September 2017

4.12.

 Introduce of Me

Pada sebuah tempat yang penuh dengan intrik. Redstars sedang berkumpul bersama Arainan. “Aku tak bisa memaksanya, dan bukan prinsipku untuk menyerang dari belakang” ucap Arainan. “Si mesum ini juga punya harga diri rupanya” balas Anwar. Arainan nampak kesal mendengarnya.
“Begini saja, kau ikuti strategi ku, strategi ini cocok dengan jiwa mesummu itu”.
“Sial, tapi kalau cocok boleh deh, apa ide mu?
Dan tak lama setelah itu, dua pertarungan besar akan meramaikan SMA 4 yang damai ini.
***

Malam itu Adi sangat sibuk dengan game Playstation 1 nya. “Di, makan dulu nak, kamu belum makan sejak sore tadi” seru ibu yang sampai mendatangi kamar Adi. Adi masih asyik saja dengan permainannya, suara alunan radio menjadi hiburannya malam itu. alunan lagu sendu membuat suasana bermain Adi jadi kusyuk. Tiba-tiba suasana jadi hening, alunan lagu dari radio hilang. “Di, makan dulu, kamu masih belum makan sejak tadi sore!” kali ini Ibu masuk kamar Adi dan langsung mematikan radio. “Eh Ibu, iya bu, nanggung dikit lagi” seru Adi sambil tetap melanjutkan pekerjaan. “Sekarang, Adi!!!” bentak Ibu. Kali ini tanpa ba bi bu Adi langsung meloncat dari arena bermainnya. “Iya bu”. Adi tak berani melawan kalau Ibu sudah membentak seperti itu. “Dasar anak jaman sekarang harus di bentak dulu baru jalan” keluh ibu.
Ibu menghampiri Adi di meja makan.
“Di, kapan rapor semester satu ini dibagikan?.
“Sabtu depan bu, sekarang sekolah lagi classmeeeting, ibu bisa datang kan?”
“Hmmm, tentu, ibu akan datang tapi mungkin ibu mesti ke toko sebelum itu, tidak apa-apa kan?”
“Iya bu, lagipula bagi rapornya paling cepat jam 09.00”
“Iya Di” jawab ibu sambil tersenyum. Sebagai orang tua tunggal, ibu hanya malam hari saja bertemu dengan Adi di rumah, karena sejak pagi hingga sore ibu harus ke toko di pasar. Pagi-pagi sekali ibu sudah mesti bangun untuk memasak. Untungnya Adi sudah terbiasa mandiri sejak ayah dan ibunya bercerai sejak ia di Sekolah Dasar. Bagi ibu, menyediakan sedikit waktu untuk putranya adalah sebuah kebahagiaan.
“Libur nanti, Aji ingin kesini katanya Di” ucap ibu lagi. Adi tertahan sejenak. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
“Ayah juga bu?” tanya Adi. Ibu menggeleng, raut wajahnya menampakkan kesedihan. Adi yang menyadari itu menyesali pertanyaannya. Tanpa sengaja ia telah melukai perasaan ibunya.
“Maaf bu, Adi tidak bermasud menyakiti hati Ibu”. Ibu menggeleng, ibu mencoba tersenyum.
“Tak apa nak, ibu senang karena Aji akan kesini, mungkin ibu akan mengajak kalian bertamasya saat Aji kesini”.
“Iya bu?”
“Iya nak”
“Yess! Makasih bu”
“Iya, habiskan makananmu dulu”

Ibu tersenyum melihat kebahagiaan putranya itu, meski terselip duka dari mata ibu. Ibu masih harus menahan hati, ia sadar, Adi tentu rindu ayahnya. Namun ibu masih belum bisa memaafkan kesalahan mantan suaminya. Sakit masih menaungi hati Ibu. Perselingkuhan ayah dengan sekretarisnya waktu itu benar-benar membuat ibu terpukul. Ibu tak punya pilihan selain jalan berpisah, perpisahan yang juga memisahkannya dengan satu putranya lagi yang ikut dengan ayahnya. Ayah menikah dengan sekretarisnya meski tak lama ayah bercerai lagi dengan sekretaris tersebut. saat ini ayah pun sama seperti ibu, hanya berdua dengan Aji, adik Adi.
***

Adri menikmati makan malam bersama dengan Bu Darmi, pembantu sekaligus orang yang telah menjaga Adri sedari kecil. Bu Darmi selalu menemani makan malam Adri jika Adri sedang makan malam di rumah, karena biasanya Adri selalu makan malam di luar. Meski begitu, Adri selalu membawakan Bu Darmi makanan. Tapi kali ini Adri telah meminta Bu Darmi untuk memasak makanan kesukaannya. Adri melahap makanan yang ada semuanya. Ia sengaja tak jajan hari ini.
“Ayah dan Ibu, kapan katanya akan pulang Mbok?”
Bu Darmi terdiam, ia tak ingin merusak suasana makan Adri dengan jawabannya.
“Makan dulu Mas, nanti saja ceritanya. Mbok buatin jus dulu ya”. Sambil Bu Darmi beranjak menuju dapur. Bu Darmi lah orang yang menjaga rumah besar ini, rumah besar yang terlalu besar untuk keluarga kecil ini. Kedua orang tua Adri selalu sibuk dan pulang ke rumah adalah hal yang jarang. Kalaupun pulang, paling malam dan pagi harus berangkat lagi. Hal demikian akhirnya membuat Adri enggan di rumah. Rumah tak senyaman itu untuk Adri.
“Mbok, aku udah nih, udah habis semua”
“Iya Mas, ini minumnya”
“Makasih Mbok”
“Mas, kenapa tanya Bapak sama Ibu? Bapak sama Ibu tadi siang menelpon kalau mereka akan ke Itali untuk seminggu ke depan”.
Adri menghembuskan nafas panjang, ia maklum, ia menghabiskan minumnya. “Nggak apa-apa Buk, nanya aja kok, hehehe”. Bu Darmi memperhatikan Adri. Ia tahu ada yang disembunyikan Adri, Bu Darmi sangat tahu akan Adri karena baginya Adri sudah seperti anaknya sendiri. “Mas, kalau ada apa-apa, bilang sama Mbok, mungkin Mbok bisa bantu”. Adri terdiam, senyumnya masam. “Nggak apa-apa mbok, aku Cuma rindu mereka” Ucap Adri sambil berdiri. “Mbok, aku ke kamar dulu ya”. Kemudian Adri berlalu menuju kamarnya. “Iya Mas”. Bu Darmi selalu merasa kasihan akan tuan mudanya itu, tapi setidaknya Adri tak keluar malam ini, karena biasanya jika permasalahan orang tuanya, Adri akan keluar malam dan pulang entah jam berapa. Bu Darmi-lah yang setia menanti kepulangan tuan mudanya meski kadang tak pulang sama sekali. Dalam kamar Adri hanya menatap keluar, ke jalanan dari jendela kamarnya di lantai dua. Jalanan amat ramai saat itu, dan Adri hanya menatap dalam kediaman. Maaf Mbok, kebutuhan anak akan orang tua adalah hal yang tak tergantiakan, suara Adri lirih.
***

Rumah Andra, malam. Suasana hangat terpancar dari rumah sederhana ditepi gang kecil itu. Andra beserta ayah dan ibunya tengah menikmati makan malam keluarga. Sudah jadi kebiasaan di rumah Andra untuk makan malam bersama ketika semua orang telah berkumpul, suasana yang tidak setiap hari bisa mereka rasakan terutama jika Andra harus kerja malam hari menjaga mini market tempatnya bekerja. Pembahasan malam itu adalah tentang liburan dan rencana-rencana ke-depannya. “Bu, nanti yang pergi ambil rapor Andra siapa?”. Ibu Andra membuka suara. “Biar Ibu yang menjemputnya Ndra, kalau bapakmu dia kan kerja dari pagi”. “Sekalian ibu juga ingin bertemu dengan teman-teman yang sering kau ceritakan pada Ibu itu, siapa namanya? Adi dan Heri, bukan?”. Andra menahan tawa mendengar ucapan Ibunya. “Hahaha, bukan Heri bu, tapi Eri, Erika, dia cewek bu, anaknya cantik dan baik”. Ujar Andra sambil tersenyum. “Oh iya itu, jadi nggak sabar ketemu teman-temanmu Ndra”. Andra tersenyum-senyum saja mendengarnya. “Oh ya, libur nanti kamu jadi kerja dari siang sampai malam?” tanya Bapak sambil mengambil nasi tambah. Ibu refleks menahan Bapak yang mau mengambil nasi tambah. “Jangan makan banyak Pak, ingat gula darahnya”. “Dikit aja bu, Bapak masih lapar”. Bapak masih berusaha mengambil nasinya.
“Jadi Pak, dan kalau tidak ada halangan, mulai sekolah nanti tabungan Andra akan cukup untuk membeli sebuah sepeda motor baru” ucap Andra sambil tersenyum.
“Bagus itu Ndra, Bapak bangga sama kamu”. Balas Bapak sambil masih mengunyah makanannya.
“Makannya di rem dong Pak”. Ibu kembali mengingatkan
“Hehe, santai Bu, Bapak lagi senang nih”
Dan keributan-keributan kecil yang menghangatkan selalu mewarnai meja makan keluarga ini hingga malam menjelang dan lelap menina-bobo-kan.
***

Hari ke-3 Class Meeting, suasana yang menyenangkan karena beberapa perlombaan sudah mulai memasuki babak terakhir. Suasana yang akan amat dinanti-nanti bagi yang suka olahraga dan seni dalam menampilkan keahliannya. Bagi yang tidak berminat terhadap Class Meeting, bisa dipastikan berada di kantin, di dalam kelas berkumpul dan bercerita, atau tempat-tempat lainnya yang bisa saja melakukan hal-hal yang melanggar, toh saat-saat seperti ini keaman dan pengawasan dari pihak sekolah sudah berkurang. Kebebasan Class Meeting juga dimanfaatkan oleh Red Stars dan Arainan dalam mencapai tujuan. Arainan mendatangi gerombolan siswi kelas satu tempat dimana Lara, teman dekat Randi sedang berkumpul bersama teman-temannya. Dengan senyum penuh percaya diri Arainan mendatangi Lara, ia berdiri tepat dihadapan gadis itu. khalayak waktu itu terhening sesaat, waktu ter-jeda karenanya, tak terkecuali Lara. Ia terkejut akan kedatangan Arainan yang mengabaikan siapapun selain dia. Arainan menghadapkan wajahnya ke wajah Lara, batas wajah antara keduanya hanya sepersekian senti saja. Lara menahan napas sesaat ketika ia menghirup aroma rokok dari hembusan napas Arainan. Lara panik, ia pucat, keringatnya membasahi wajah ayu-nya. Arainan tersenyum dan tanpa sepatah kata hanya menatap tajam ke arah Lara. Saat-saat yang mendebarkan bagi Lara sebelum akhirnya ia menghentakkan tubuhnya berdiri, dan berlari meninggalkan Arainan. Semuanya terjadi begitu cepat dan semesta sekitar mereka tetap membisu, Arainan menatap kepergian gadis itu, yang ia sendiri tak tahu namanya. Senyum kemenangan tampil di wajah Arainan ketika arah lari yang di tuju oleh Lara justru memunculkan sosok yang amat ia cari, Randi.

Randi yang saat itu tengah berjalan menuju kelas tersenyum melihat Lara berlari kearahnya. Senyum Randi perlahan berubah ketika ia jelas melihat air mata mengaliri wajah gadis itu. “Lara” panggil Randi, meski saat itu Lara tak menghiraukan panggilan Randi, ia terus berlari sambil menutupi mulutnya, menahan isak menuju kamar mandi. Randi tersengat, emosinya naik, ia cari arah datangnya Lara tadi. Di antara gerombolan siswi teman sekelasnya, Randi menemukan sosok Arainan, yang tersenyum puas. Kini Randi dan Arainan telah bertemu muka, saling bertatapan, raut kebencian tampak jelas dari wajah Randi ketika senyum licik Arainan menghiasi wajahnya. “Jangan salah paham ya, aku hanya menyukai senyuman gadis tadi dan ingin menikmatinya sejenak, hehehe” ucap Arainan penuh kemenangan. Randi masih diam, tatapan matanya tajam menatap Randi. “Ayolah bung, dia hanya teman mu kan? Tak perlu marah begitu, lagipula ...” belum sempat Arainan menyelesaikan kata-katanya, sebuah tinju mengarah kewajahnya, refleks yang bagus, Arainan menghindarinya. Arainan mundur selangkah, dan siswi-siswi yang tadi hanya melihat mulai berteriak tak tentu melihat perkelahian itu. “Kau, aku akan membuatmu menyesal kribo sialan” tatap Randi sambil menunjuk Arainan. “Hehe, bagus kalau begitu, aku tunggu kau di Hutan Kota sore ini” Kemudia Arainan berlalu pergi. Randi menatap kepergian Arainan. Bagi orang-orang yang terbiasa berkelahi seperti mereka, sekolah memang bukan tempat yang nyaman untuk melakukannya.
“Hei Ran, itu Lara sudah kembali” tunjuk salah satu siswi tadi. Randi menoleh kebelakang, ia berlari ke arah Lara. Ia hampiri gadis itu, ia pegang dua tangannya, ia tatap wajahnya, wajah yang telah basah oleh air, tapi ketakutan masih tampak dari mata itu. Randi menggandeng tangan Lara, mengajaknya pergi. “Kita pergi Lara”. Lara hanya menurut, bagi Lara, Randi adalah teman yang bisa ia percaya lebih dari apapun, pun bagi Randi, Lara adalah segalanya untuk hatinya.
***

Lapangan sepak bola. Sedang ada pertandingan antara kelas X.1 dan XII IPA 2. Siswi-siswi kelas X.1 oleh siswa-siswa yang bertanding diminta untuk memberi dukungan, memberikan semangat. Tidak hanya itu, siswa kelas X.1 yang tidak ikut main pun disuruh memberi dukungan. Jadilah suasana pertandingan itu ramai akan suporter dari siswa kelas X.1, berbanding terbalik dengan kelas XII IPA 2 yang minim pendukung. Bahkan Adi pun ada disana, sebagai suporter bersama Andra yang memaksa Adi untuk menonton pertandingan. Suasana amat riuh pada pertandingan itu. Serangan dari kedua tim silih berganti mengancam masing-masing lawan, sebuah pertandingan yang penuh semangat dan sangat menghibur. Ini pertandingan semifinal di cabang sepak bola dalam kegiatan Class Meeting ini. Empat tim yang lolos ke semifinal ini terdiri dari kelas X.1, XII IPA 2, XII IPS 3, dan XI IPS 2. Kelas X 1 adalah satu-satunya kelas X yang lolos ke semifinal karena ternyata banyak pemain-pemain yang bagus saat masih di SMP, calon-calon penerus tim sepakbola sekolah, begitulah kata khalayak si SMA N 4 ini.

“Liat tu Di, si Joko Udin, dia memang hebat sekali mainnya”. “Tim sepak bola SMP ku saja dikalahkan oleh dia dulunya”. Ucap Andra sambil menunjuk-nunjuk Joko Udin yang dengan lincahnya melewati lawan-lawannya. Adi hanya menyaksikannya. Meski kurang suka olahraga dan tak paham sepakbola, namun ia paham bahwa permainan teman-teman sekelasnya sungguh bagus untuk dilihat. Hanya saja, lawan juga merupakan tim yang bagus. “Iya iya, dia memang hebat, Sutrisna juga bagus mainnya, tapi lawan juga kuat, susah nih buat menang”. Sahut Adi. Andra reflek menoleh ke Adi, tatapan tajam. “Itulah gunanya kau ada disini, keluarkan suaramu! Dukung mereka biar lebih bersemangat! Ucap Andra penuh semangat sambil menarik-narik tangan Adi keatas untuk membentuk yel-yel. “Ngajak berantem ya?” seru Adi ketus menarik paksa tangannya sambil berjalan pergi. “Yah dia kabur, ngambekan nih” sambil Andra menyusul dari belakang.
***

Disebuah sudut sekolah, Redstars dan Arainan masih merencanakan hal-hal buruk untuk keberhasilan tujuan mereka.
“Gimana tadi? Sudah lumayan bagus kan buat mancing si Randi biar dia keluar dari kandang dan melawan ku?”
“Itu lebih dari cukup Nan, gimana menurutmu Ron?”
Baron yang ditanya masih diam. Baron masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Arainan tadi. Ia merasa bersalah pada Lara karena ialah yang memberi informasi pada Anwar Faisal soal Lara dan Randi. Ia masih tertegun hingga Choki menepuk pundaknya. Baron gelagapan saat itu. Semua orang saat itu disana memperhatikan sikap Baron. Mereka sama-sama paham bahwa Baron adalah laki-laki yang amat menghormati perempuan. Dan apa yang terjadi tadi, adalah pukulan buatnya. Arainan berjalan menghampiri Baron.

                “Nak, aku berterima kasih atas info darimu, aku tadi itu tidak serius, jika bisa aku tidak ingin melakukan cara itu”. Baron masih terdiam. Dia menatap Arainan. Tatapan Arainan jelas dan tajam, tak ada kebohongan dalam tatapannya. Baron menarik nafasnya dalam-dalam. “Maaf, aku terlalu terbawa perasaan” seru Baron lagi. “Aku keluar dulu” Dan Baron pun melangkah keluar dari tempat itu, gudang kosong dibelakang sekolah. Anwar Faisal dan yang lain membiarkan saja, mereka fokus pada rencana selanjutnya, target selanjutnya Anwar Faisal, Adri Ramdhan.
***
4

Minggu, 20 Agustus 2017

4.11

Counting Stars

Adri berlarian menuju bangku tempat ia duduk, menunduk dan bersembunyi. Ia tampak menghindari sesuatu. “Kalau ada yang nyari aku, bilang aku gak ada” pinta Adri. Adi yang heran cuek saja. Adi malah melangkahkan kakinya ke luar kelas, perutnya lapar dan harus segera di isi. “Bilang saja pada yang lain, aku mau keluar”. “Kau mau kemana? Mau ke tempat itu?” tanya Adri. “Nggak, mau ke warung, nggak ada janji ke sana hari ini”. “Yaaaah”. Adri ber”yah” panjang. Ia tetap menunduk dan bersembunyi entah dari apa dan siapa. “Hei Ketua Kelas, nanti kalau ada yang mencariku, bilang aku tak ada”. Adri masih melanjutkan permintaannya. Ketua Kelas X.I, Amran melirik Adri, sesaat kemudian ia melenguh panjang, “Iyaaaaa” jawabnya malas.

Dalam perjalanan menuju warung makan, Adi melewati kelas X.5. Saat tengah mengencangkan kecepatannya, terdengar suara perempuan memanggil, suara yang tak asing. “Hai Adi” suara lembut dari gadis manis berkacamata yang menyapanya tempo hari. Gadis itu berdiri tepat didepan pintu kelas X.5, ia tersenyum manis dan penuh kehangatan kepada Adi. Dan Adi, saat itu hampir mati berdiri jika saja gadis itu tak memalingkan wajahnya saat itu. Perasaan aneh dan debar-debar itu terasa lagi pada Adi. “Aya, kita ke perpus yuk” sahut suara perempuan yang muncul dari dalam kelas. Perempuan itu cukup manis, meski tak semanis gadis berkacamata yang menyapa Adi. “Ah iya, ayo Nina”. Balas gadis berkacamata itu. “Adi, aku duluan ya” ucap gadis berkacamata itu sambil berlalu dan meninggalkan senyumnya yang amat manis. Adi hanya membalas dengan senyuman, senyum yang kacau balau dan debar-debar yang tak beraturan. Senyum gadis itu masih tertinggal dipikiran Adi meski gadis itu telah tak lagi terlihat. “Manis sekali gadis itu kan?” tiba-tiba suara Andra muncul begitu saja, entah darimana?

Adi yang salah tingkah jadi kehilangan senyum indah itu oleh kehadiran Andra. “Hahaha, ketahuan kau Di, kau telah memulai sebuah perjalanan cinta yang panjang dengan gadis itu”. Tatap Andra tajam. “Sok tahu kau Ndra, tadi itu tak sengaja ketemu, lagipula aku masih tak tahu apa-apa tentangnya”. Mendengar itu Andra jadi ingat akan sesuatu yang hampir ia lupakan dalam beberapa minggu ini. “Oh iya Di, aku baru ingat, aku akan ceritakan padamu semua tentang gadis manis tadi”. “Oh”. Jawab Adi singkat dan penuh ketidaktertarikan, meski sebenarnya tidak begitu. “Aku serius lo, tapi traktir aku makan ya, hehhe” dan mereka terus berjalan menuju warung.

***

Di sebuah kedai yang cukup jauh dari sekolah, tampak dua orang siswa lawas bertemu, bertemu tanpa sengaja tepatnya. “Jauh juga tempat makanmu sekarang War” ucap suara itu yang melihat Anwar Faisal tengah melahap makanannya. “Ngapain orang yang sudah tidak bisa apa-apa lagi di sekolah kemari, sudah bosan sekolah?” sahut Anwar kesal. “Hahaha, selera humormu tetap saja buruk War”. “Aku dengar lo kabar soal kau dan Redstar kena hajar ulah anak kelas satu, hahhaha” balas Arainan. “Jangan rusak nafsu makanku deh, jangan habiskan jatah peringatanku hanya karena menghajarmu Nan”. “Hahaha, kau masih tetap emosional saja, aku hanya ingin duduk-duduk dan bercerita saja denganmu”. “Kalau tentang pacar-pacarmu, sebaiknya enyah saja kau Nan”. “Bukan, ini soal anak-anak baru yang menyebalkan”. “Hmmm??? Kau juga kena ya Nan? Ahaha, si kribo ini kena juga” dan pecahlah tawa Anwar dan Arainan waktu itu.

***

“Jadi namanya Cahya Rona dan ia siswa pindahan dari kota lain sewaktu kelas tiga SMP?”. Ucap Adi. “Iya Di, dia primadona SMP 3 sejak saat itu, tapi sampai saat ini ia masih tetap sendiri tanpa pasangan” jawab Andra. “Pasti info-mu Ndra?”. “Pastilah Di”. Adi mengangguk-angguk saja, yang menjadi pertanyaannya kenapa gadis itu kenal dengannya masih belum juga terjawab, bahkan oleh Andra. “Aku masih belum tahu Di kenapa dia bisa kenal denganmu, awalnya aku pikir kau se SMP dengannya, ternyata tidak”. Adi memang tak banyak bergaul saat SMP selain karena selama SMP sering pindah-pindah sekolah karena berbagai alasan, ia tak pernah sekolah di SMP 3. SMP terakhir tempatnya lulus adalah SMP 13 yang terletak di perbatasan kota serta batas provinsi dengan provinsi sebelah. SMA 4 sendiri terletak jauh dari perbatasan dengan jarak tempuh satu setengah jam perjalanan dengan mobil. Setidaknya saat ini Adi belum ada tanda akan pindah lagi setelah terakhir pindah ke daerah pertengahan ini setelah tamat SMP lalu. “Ini misteri yang harus aku pecahkan!” sahut Andra penuh percaya diri. “Udah ah, balik ke kelas yuk, nggak penting” ujar Adi sambil bergegas ke kelas setelah membayar makanannya. “Tunggu oi”. Andra bergegas menyusul. “Ngomong aja nggak penting, dalam hati senang tuh karena udah tahu siapa namanya” gerutu Andra sambil berlari menyusul Adi.

***

“Bagaimana Ran? Kau mau kan duel dengan ku sore ini?” Tantangan Baron waktu itu masih mengganggu pikiran Randi. Ia sudah lama tidak berkelahi, kelas dua SMP adalah terakhir kali Randi berkelahi, saat ia dan geng-nya dikalahkan. Randi masih mencari-cari cara untuk menghindari perkelahian itu. Waktu itu jam pulang sekolah tinggal setengah jam lagi, Baron menanti dengan was-was. Tantangan yang ia layangkan pada Randi masih belum beroleh kata pasti. “Aku tidak tertarik, lagi pula seharusnya Adri yang mestinya kau lawan, bukan aku”. Demikian jawaban Randi waktu ia menolak. Tapi Baron tetap ingin menantang Randi, soal Adri, ia tak ingin melangkahi Anwar yang sudah lebih dahulu ingin membalas dendam dengan Adri.  Tiga puluh menit yang terasa amat panjang untuk Baron dan terasa singkat bagi Randi.

Lain tempat. Arainan dan Anwar justru sedang memikirkan strategi untuk melampiaskan kekesalannya terhadap anak-anak kelas satu yang bandel. “Jadi War, target kau anak kelas satu yang bernama Adri itu? Kalau aku, bocah yang rambutnya runcing-runcing itu, dia sudah tidak sopan dengan seniornya, dia harus diajari sopan santun!” Arainan amat gemas saat itu, ia benar-benar tak lagi sanggup menahan diri. “Kau ini, kalau sekali lagi bikin masalah di sekolah, kau bisa dikeluarkan, sudah bosan sekolah?” balas Anwar. “Aku akan melakukannya di luar sekolah, cepat atau lambat!”. Anwar sepakat dengan Arainan saat itu. Tekad dalam hatinya untuk balas dendam telah memuncak, lagipula kondisinya kini telah benar-benar fit karena lebih satu bulan ia kesulitan mencari Adri yang seakan hilang. “Nan, kau bantu aku mencari bocah itu, dia selalu lolos dari mata ku!”. “Pasti!”. Dan kedua senior SMA 4 memulai pergerakannya.

***

Suasana pulang amat riuh, seperti pasar. Adi masih menanti angkutan umum. Ia ingin ke pasar, ke toko ibunya. Karena malas untuk pulang ke rumah, sepulang sekolah Adi memutuskan untuk langsung ke pasar. “Adi, kebetulan banget” Eri sangat senang saat itu, matanya berbinar-binar, senyumnya memancar. “Kenapa Ri?”. Dengan senyum penuh kejahilan, Eri mulai merayu-rayu Adi “Aku mau ke toko buku Di, tapi nggak ada yang nemenin, si Andra udah kabur, si Adri gak keliatan dari tadi, temenin ke toko buku yaaa” sambil dengan gaya memohon manja Eri memaksa Adi. Adi yang salah tingkah dan serba salah tak tahu bagaimana hendak menolak. Dan tak lama Adi telah naik angkutan umum bersama Eri menuju toko buku, dengan penuh keterpaksaan.

***

Baron dengan setia menanti Randi di gerbang sekolah. Setelah amat lama menanti, Randi berjalan keluar melewati gerbang, tidak sendirian, ia berjalan bersama dengan seorang gadis. Mereka terus saja berjalan tanpa peduli dengan sekelilingnya, termasuk Baron. Baron yang merasa diabaikan mengikuti dari belakang, sesekali ia berdehem, “Ehem ehem”, tapi Randi cuek saja. Cukup ampuh memang, Baron tak bisa berbuat banyak. Randi tahu jika Baron adalah seorang lelaki yang tidak suka mengganggu perempuan. Meski begitu, karena kesal, Baron yang sedari tadi mengikuti Randi menendang pantat Randi hingga Randi tersungkur. Bisa kau bayangkan bukan bagaimana rasanya tersungkur saat kau sedang berjalan berdua dengan wanita? Dan saat itu cukup ramai. Ini bukan soal rasa sakit, tapi lebih ke malu. Emosi Randi naik, ia menoleh ke belakang, dan Baron telah jauh berlari, sambil mengejek-ngejek Randi dari jauh. Ingin Randi mengejar Baron, tapi ia telah lebih dahulu di tahan oleh Lara, gadis yang bersamanya. Wajah Randi saat itu memerah, iya memerah karena masih terbayang olehnya saat jatuh tersungkur tadi, saat ia asyik bercerita dengan Lara, tiba-tiba ia tersungkur, di tengah keramaian. Randi jadi salah tingkah, tapi hatinya penuh amarah : ku hajar kau Baron!

***
4

Sabtu, 15 April 2017

4.9

Introduce, for more

Tiga hari menjelang ujian semester SMA 4 dan SMA Negeri lainnya di “Kota Ini” tersiar kabar tentang pertarungan besar. Iya, pertarungan besar. Pertarungan yang mempertemukan antara Ryo Anggara dan sang penantang ialah Ari Rahman Gunaryo atau yang lebih terkenal dengan ARG. Baiklah, sebelum jauh membahas pertarungan besar ini ada baiknya kita perkenalkan terlebih dahulu siapa sebenarnya dua orang ini. Ryo Anggara tak lain adalah salah satu orang terkuat bagian dari best ten “Kota Ini” yang satu era dengan Diandra Denis dan Tomi Andika. Dia adalah pemimpin dari geng motor Sevenars, salah satu geng terkuat “Kota Ini”. Geng yang telah kokoh berdiri sampai lima generasi ini muncul sebagai geng motor yang menjaga stabilitas “Kota Ini” dari penjahat-penjahat bermotor yang berusaha merusak keamanan. Ryo Anggara sendiri merupakan ketua generasi kelima dan Ari Rahman tak lain ada calon penerus dari Ryo Anggara.

Sevenars merupakan sebuah geng motor yang telah berdiri selama lima generasi dan tengah menuju generasi keenam. Merupakan organisasi motor yang cukup disegani oleh organisasi sejenis dan merupakan gambaran positif dari geng motor. Sevenars adalah geng motor yang tak segan membantu mengamankan situasi “Kota Ini” dengan membantu pihak kepolisian. Operasi malam yang menjadi agenda rutin Sevenars telah memperoleh izin dari pihak kepolisian dan bagi kepolisian “Kota Ini” keberadaan Sevenars telah turut membantu kerja mereka dalam mengamankan kota ketika malam. Sebuah geng dengan prestasi membanggakan dan penuh citra positif.
Ari Rahman (ARG) sendiri adalah rising star di Sevenars, kekuatannya tak diragukan. Ia satu generasi dengan Anwar Faisal dan sekolah di SMK swasta “Kota Ini”. Apa yang dilakukan ARG, menantang ketua adalah hal yang baru bagi tradisi pengangkatan ketua di Sevenars. Tindakan ARG mulanya menimbulkan kontroversi, para senior yang merupakan anggota inti menentang cara ARG. Hiruk pikuk internal Sevenars yang mulai menimbulkan konflik diselesaikan oleh Ryo Anggara dengan menerima tantangan ARG. “Tidak masalah bagaimana cara pemilihan ketua, yang penting dia punya kemampuan dan dia tahu apa yang dia lakukan. Apapun hasil pertarungan nanti, kita semua harus mendukungnya karena selanjutnya dialah yang akan mengibarkan bendera Sevenars di “Kota Ini””. Demikianlah jalan yang ditempuh Ryo Anggara dalam menyelesaikan konflik internal gengnya.

Minggu, jam 06.00 WIB di Hutan Kota. Demikianlah bunyi pesan singkat yang beredar lewat Nokia generasi pertama. Seisi dunia hitam kota heboh dengan berita ini. Berita yang menyebar dengan amat cepat juga terdengar ke telinga para generasi baru dunia hitam kota hingga ke telinga Adri. Ada Hamdan saat itu bersama Adri, mereka sedang nongkrong bareng di salah satu kedai kopi malam itu.
“Ndan, generasimu sudah hampir berakhir tuh, sana cari pengganti yang bisa memimpin SMA 07”. Hamdan sejatinya dua tahun lebih tua dari Adri. Baginya pertarungan antara Ryo Anggara dan ARG adalah permulaan dari tergerusnya masa jaya mereka, dirinya, Tomi Andika, Diandra Denis, Ryo Anggara dan mereka yang selama ini telah berjuang bersama baik kawan maupun lawan. Hamdan yang mendengar pernyataan Adri menyedot rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya panjang. Sambil bersandar dia memperhatikan langit malam. Selintas kenangan-kenangan selama sekolah muncul dalam kepalanya seperti cuplikan kilas balik yang muncul sepotong demi sepotong. Mengenang itu semua, Hamdan menyunggingkan senyum. Ia seruput kopinya. “Jamanku sudah hampir selesai rupanya. Sudah waktunya Yazid yang mengambil alih kepemimpinan”. Adri hanya diam mendengarkan.

Adri hanya tersenyum, jika SMA 7 punya Yazid, lalu SMA 4 punya siapa? Redstars? Adri geli sendiri memikirkannya. “Aku rasa Yazid akan menjadi best ten dari generasi selanjutnya, dia tak akan kalah dari Arainan yang kuat dari SMA mu Dri”. Kembali Hamdan melanjutkan ucapanya.
“Arainan?”. Nama itu asing bagi Adri. Yang ia tahu SMA 4 hanya punya Diandra Denis dan Tomi Andika. Ia malas untuk menyebut Redstars. Andra pun tidak menyebutkan nama itu saat ia menjelaskan tentang kekuatan SMA 4. “Kenapa? Jangan bilang kau tak mengenalnya Dri?”. Adri Cuma mengerinyitkan dahinya. “Ternyata benar kau tak mengenalnya, wajar sih, si mesum itu lebih layak di sebut playboy kampung dibanding orang kuat, tapi meski begitu, harus di akui dia itu kuat”. “Aku rasa dia jauh di atas Anwar Faisal kuatnya”. Adri semakin bingung, masih ada yang sekuat itu digenerasi seniornya tapi tak pernah terdengar. Ia semakin penasaran tapi juga senang, SMA 4 punya orang kuat lagi setelah generasi hebat diatasnya pergi. Dia menyunggingkan senyumnya. “Kalau begitu SMA 4 masih akan bersaing dalam posisi best ten kota ini kan”. “Itu saja yang kau pikirkan ternyata, tapi aku ragu karena meski Arainan kuat, dia tak fokus kesana, ia lebih peduli pada pacar-pacarnya yang entah ada berapa”. “Sial”. Umpat Hamdan keras. “Hahaha, tidak masalah Ndan, yang penting SMA 4 masih punya harapan, dan di era ku nanti, SMA 4 akan merajai kota ini”. Dengan penuh percaya diri Adri mengepalkan tangannya. Hamdan hanya menatapnya senyum, semangat yang bagus, siapa yang bisa menghentikanmu di generasimu? Pikir Hamdan diam. Sembari mereka berbincang soal-soal apa saja, malam terus melarut.
***
“Di, ada berita bagus buatmu”. Ucap Andra ketika mereka bertiga berjalan menuju surga kami. “Apa?”. Andra tersenyum lebar sebelum memberitahukan kabar yang ia bawa. “Hehe”. Itu senyum jahat yang amat menyebalkan. “Kau kenapa Ndra? Kau terlihat sedang menyimpan rencana busuk”. “Kasar sekali mulutmu Di”. “Hehe, Di, sebenarnya aku sudah tahu ...”. Tiba-tiba saja perkataan Andra terpotong oleh suara panggilan seseorang. “Hei, boleh aku ikut?”. Adi, Erika, dan Andra kaget setelah melihat kearah suara itu. Adri ternyata yang memanggil mereka. Adri mendekati mereka bertiga yang terpaku. Adi dan Andra tetap heran, Erika justru menyambut hangat. “Ayo Dri, jangan sungkan”. Mereka berempat berjalan beriringan, suasana menjadi hening dan kaku.

“Tumben sekali kamu mau ikut kami Adri”. Sapa Eri sesampainya di surga kami. “Ah tidak, sedang malas sendirian”. Jawab Adri sekenanya. Minggu nanti kami mau ke pantai lagi loh, kami mau bakar-bakar gitu, ikut ya Dri”. “Aku, hmmm, aku ada urusan sepertinya”. “Ikut saja Dri, lebih ramai kan lebih asik”. Adi menambahkan. “Iya Dri, kamu kan sudah janji mau ikut kami”. Kali ini Eri semakin semangat mengajak Adri. Adri yang tidak tertarik mulai kebingungan mencari alasan untuk menolak. Dia mengerinyitkan dahinya, kapan aku berjanji akan ikut mereka pikir Adri dalam hati. Adri akhirnya tidak menyahut namun mengalihkan pembicaraan kepada Adi dan Andra. “Kalian bawa bekal?”. “Yaaa!!! Jawab Adi dan Andra serentak. “Aku juga bawa kok Dri. “Eri mengeluarkan bekalnya dari tas kecil bekalnya. Adri manyun, sejenak ia hendak beranjak. Namun belum sempat ia berdiri, Eri menawarkan bekalnya pada Adri, bekal yang ternyata telah ia pisahkan menjadi dua bagian. Adri yang pada akhirnya tak bisa menolak menerima juga bekal itu dengan wajah yang memerah. Adi menahan tawa melihat ekspresi tak biasa Adri, sedang Andra masam saja mukanya melihat hal itu. Namun istirahat hari itu, mereka berempat makan bersama dan permulaan tentang keempat anak tersebut telah selangkah lebih maju.

“Terima Kasih bekalnya tadi, Ery, ucap Adri saat mereka berempat akan kembali ke kelas masing-masing”. Ery tersenyum saja saat itu. Sedang Adi dan Andra bersamaan tersenyum-senyum saja melihat ekspresi Adri yang terlihat seperti orang yang malu-malu, mukanya masih merah saja. “Apa kalian lihat-lihat?”. Sergap Adri pada Adi dan Andra. Serentak Adri dan Andra menggeleng, namun dalam hati menahan tawa. “Aku ke kelas dulu” sambil Adri memalingkan wajahnya menuju kelas. “Jangan lupa Dri, minggu jam 3 di Pantai dekat batu karang besar yaaa, bawa bahan bagianmu jangan lupa juga”. Ucap Ery yang dijawab Adri “yaaaaaaaa” sambil melambaikan tangannya dengan posisi membelakangi. “Dia manis sekali dengan wajah memerah seperti itu, hehe”. Ery bahagia sekali karena merasa telah bisa membuat Adri malu-malu demikian. Adi dan Andra tersenyum senyum saja. “Kalian berdua juga jangan lupa bawa bahan bagian kalian”. Setelah sepakat ini itu mereka kembali ke kelas masing-masing. Singkatnya hari minggu nanti mereka berempat akan ke pantai dan membakar jagung bersama-sama. Adapun Adri, ia tak kuasa menolak ajakan Ery. Adri seperti tak bisa berkutik jika berhadapan dengan Ery.

***

Jumat, 16 Desember 2016

4.8

Step by step

Malam itu temaram, mendung lagi-lagi mengunjungi langit malam “Kota Ini” seakan ia enggan berpisah lama dengannya. Suasana sunyi ikut meramaikan pesta hening malam itu. Pada sebuah kamar dalam sebuah rumah, Adi tengah menatap lekat jauh dari kursi tempatnya terpaku. Ia menatap jauh melewati jendela kamarnya. Sebenarnya ia baru saja menyelesaikan PR, meja belajarnya yang diposisikan pas pada jendela kaca kamar membuatnya sesaat tertawan akan hitam pekat malam itu. Tiba-tiba rintik hujan mulai terjun satu persatu, perlahan menggores jendela kaca kamarnya. Alunan rintik perlahan memati-kan pesta sunyi malam dipikiran Adi. Adi menghela napas panjang, mula-mula ia mulai menikmati aroma hujan yang hanya sekejap telah bergemuruh dan lebat.

Menatap hujan yang kian mengguyur membuat Adi mengingat kembali peristiwa pagi tadi disekolah, ketika ia disapa oleh seorang gadis manis dengan kaca mata yang membingkai diwajahnya. Ia masih ingat akan senyum indah seindah bulan merekah keemasan dimalam hari, ia masih ingat akan gelap hitam bola mata dari sebalik optik yang memagarinya, seindah kilapan mutiara hitam. Ia masih mengingat jelas kilau hitam rambut gadis itu ketika ia memperhatikannya ketika perlahan menghilang dari tatapan. Wajah gadis itu, baginya amat lekat dalam lensa matanya, terekam jelas dalam benaknya, akan amat sulit bagi Adi melupakan wajah gadis itu, indah senyumnya, kilau dua bola matanya, amat susah untuk dilupakan. Sembari mengagumi keindahan, Adi pun diliputi keheranan akan siapa agaknya gadis itu. Seingatnya, tak pernah ia kenal dengan perempuan itu sebelumnya, pun demikian, perempuan itu tahu namanya. Semakin Adi mengingat, semakin ia tidak menemukan jawaban. Teman SD? Entahlah, rasanya bukan. Teman SMP? Ia ragu, ia tak banyak bergaul, jadi dia akan tahu siapa saja orang yang kenal dengannya. Ia masih bingung dan juga penasaran.
Hujan tetap keras, hingga larut. Pikiran-pikiran yang muncul dalam benak Adi akan anak gadis tadi pagi berakhir dengan rasa penasaran yang amat sangat.

...

Di lain tempat, ketika hujan masih begitu lebatnya tampaklah sebuah sepeda motor terparkir pada sebuah kedai kaki lima yang menjual gorengan di tepi jalan. Sepeda motor Ninja berbadan hitam yang tak lain adalah milik Adri semakin mengkilat akibat air hujan serta kerlap-kerlip lampu jalanan. Adri yang terlambat pulang ketika hujan terpaksa ‘berteduh’ di kedai gorengan. Meski terpaksa, gorengan-gorengan itu dapat juga menghangatkan ketika dingin mengaliri udara malam. Sehabis mengunjungi Red Stars di Rumah Sakit, Adri sibuk dengan berbagai urusannya sehingga pulang malam adalah kebiasaan baginya. Dan malam ini, hanyalah malam kesekian kalinya ia pulang malam.

...

Jarum jam menunjukkan tepat di angka 10:00 WIB. Erika telah terlelap dalam mimpinya. Setelah mengerjakan beberapa PR, lelah karena menghabiskan sore bersama Adi dan Andra di pantai membuatnya cepat melelapkan diri.


Senin, 26 September 2016

Sebelum Terlambat











Selamat! seminar hasilnya sukses ya,
Maaf tidak bisa datang karena harus
melakukan wawancara pagi ini. Cieee
Sarjana :) 

Pesan singkat dari mu, sahabatku siang ini adalah apa yang paling aku tunggu-tunggu sepanjang hari ini. Tanpa aku sadari, senyum bahagia telah mewarnai wajahku. Ada banyak pikiran-pikiran yang merasuki kepala-ku, aku akan diwisuda bulan depan. Aku akan kembali ke kampung, dan akan lama bisa bertemu denganmu lagi? Bagaimana jika aku mendapat pekerjaan di kota lain? Di provinsi lain? Pertanyaan-demi pertanyaan terus memasuki otak-ku, dan sepertinya aku mulai khawatir dengan fakta kelulusan ini, aku takut jauh darimu sahabatku, hatiku.

Terlalu memikirkan hal-hal yang tak pasti membuatku mengabaikan pesan darimu, Affran, sahabatku. Aku, Shatia Putri, telah lama mengenalnya, Affran Putra. Kami tak sekedar teman, setidaknya itu yang aku rasakan. Mengenalnya sejak awal kuliah, pada pembagian kelompok sebuah tugas mata kuliah, saat aku salah menuliskan namanya, jujur saja, karena aku agak malas karena namanya yang hanya dua suku kata yang sama dengan namaku, dan nama panjang yang ternyata sangat mirip membuat aku tanpa sadar telah menulis namanya menjadi “Affran Putri”. Dia yang kaget dengan perubahan namanya serta merta memprotes kepada teman-teman sekelompok karena memang dia tidak tahu siapa yang mencatat list nama-nama anggota kelompok.

“Itu Shatia yang buat, ngomong sana”. Saat itu Anggun yang memberitahunya.
Seandainya Anggun tidak memberitahu Affran, mungkin kisahku dan dia saat ini akan berbeda. Setelah tahu, dia dengan santainya berteriak memanggil namaku.
           “Shatia, mana orangnya?”
Aku menoleh kearah suara itu, dan yah, saat itulah dia yang berdiri cukup jauh mendatangiku. Setelah dekat, aku merasakan suatu yang berbeda. Saat dia telah berdiri mantap dihadapanku, saat kedua mataku tepat menatap matanya yang hitam kecoklatan, tepat saat itu duniaku seakan berhenti, bising kelas karena pembagian kelompok menjadi sunyi diotakku. Dan entah kenapa, dia juga diam selama itu, selama aku juga diam. Pada akhirnya, suara cemprengnya itu yang mengembalikan suasana bising dan memutar kembali roda kehidupan diotakku.

       “Shatia Putri, hem” sambil menghembuskan nafas ia menyebutkan namaku sembari melihat catatan nama-nama anggota kelompok.
        “ Namaku Affran Putra, bukan Affran Putri, Cuma namamu yang pakai kata putri, tolong dibenarkan   
          yaaaa”.
        “Eh, iya iya maaf, aku salah, maaf ya Affran, maaf”.
        “Ya, tidak masalah”

Dia tersenyum saat itu kepadaku, setelahnya hanya punggungnya yang bisa aku lihat ketika ia kembali ke tempat duduknya. Satu hal yang membuat aku heran, aku meminta maaf kepadanya, bukan sebuah kebiasaan buatku meminta maaf terhadap hal yang seperti itu, tapi hari aneh ini masih belum berakhir ternyata, setidaknya itu terjadi lagi usai kuliah bubar.

         “Affran, aku minta maaf soal yang dikelas tadi ya”.

Itu adalah permintaan maaf yang kedua dalam satu hari dari ku kepada orang yang sama. Tapi sungguh, aku sangat serius dalam hal ini. Dan dia, terlihat heran dengan sikapku, dengan mengerinyitkan dahi, dengan tersenyum dia meng-iya-kan maaf ku. Dan lagi, setelah itu yang aku lihat adalah punggungnya saja sampai akhirnya ia menghilang.

Terima kasih, kamu segera nyusul ya!
Jangan lama-lama, nanti aku di ambil
orang ;p.

Aku membalas pesannya, seperti biasa, hari-hari kami adalah hari-hari menyenangkan dengan penuh canda tawa. Aku tidak tahu pasti kapan, tapi sejak aku mengenalnya, sedikit demi sedikit kami mulai dekat. Perlahan, semester ke semester kami semakin dekat. Hanya sebatas itu, baik aku maupun dia, tidak sedikitpun pernah membahas tentang perasaan, tentang cinta. Dan entah kenapa, kami merasa begitu bahagia satu sama lain dengan keadaan ini, namun bukan berarti kami tak pernah ada masalah, itu tidak mungkin, apalagi untuk hubungan yang telah lebih dari setahun. Hubungan persahabatan.

Hei, besok sibuk?
Pergi yuk?

Kembali datang pesan darinya.

Pernah suatu ketika, aku marah kepadanya, marah tapi tidak bisa mengungkapkannya. Waktu itu aku tengah pergi belanja ke pasar. Sedang asik menikmati pemandangan dari angkot, tanpa sengaja aku melihat dia sedang makan bersama disebuah kafe dengan seseorang yang aku ketahui bernama Rati Intan Sofia. Rati Intan Sofia memang bukan nama asing bagiku, terlebih aku sering mendengar jika Affran sering diperolok-olok oleh teman-teman di kelas bahwa memiliki hubungan dengannya. Meskipun itu hanya bercanda, terkadang itu menyakitkan bagiku, meski begitu, aku mesti ikut tertawa juga bersama teman-teman kan? Soalnya akan terbaca sekali hatiku olehmu Affran jika aku terlihat tidak senang. Begitulah rasanya ketika menyukai seseorang, terlebih jika dia dekat denganmu, ketika kau merasa terluka, ketika ingin marah, bahkan kau tidak bisa, kau tak berhak karena kau bukan siapa-siapa selain teman.


Kemana? Memang besok
kamu kosong?

Aku yang sempat memutuskan kontak dan membatasi hubungan dengannya pada akhirnya menyesal juga. Tapi syukurlah ketika keadaan membaik, maksudku ketika Rati ternyata telah berpacaran dengan orang lain, bagiku itu kabar gembira. Setelah itu komunikasi kami kembali membaik, maaf ya Affran, aku egois sekali waktu itu, itu karena kamu sepertinya tidak merasakan perasaanku terhadapmu. Pada akhirnya aku tahu juga bahwa kau tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Rati. Meski begitu,selama ini Rati berhasil membuat aku cemburu. Untungnya kamu itu laki-laki yang mau memaafkan setiap kesalahanku. Aku pasti akan selalu tersenyum jika mengingat peristiwa-peristiwa dulu.

Keliling-keliling aja, toh
bulan depan kamu wisuda.
dan setelahnya, kamu belum
tentu akan tetap di kota ini

Sebenarnya, jika denganmu, aku mau pergi ke mana pun tanpa perlu berbagai alasan. Sungguh! Soal cemburu, aku sempat cemburu dengan sahabatku sendiri karena mu. Kau memang terlihat mudah untuk dekat dengan perempuan ya, aku sendiri heran. Kadang menjengkelkan sekali melihat mu sangat akrab dengan Arin, teman akrabku, tapi syukurlah ternyata saat aku mendengar bahwa Arin telah berpacaran, itu bukan denganmu. Yang lebih membuat bahagia adalah bahwa Arin mendukung sekali aku denganmu, entahlah, aku tidak tahu apa yang telah kamu dan Arin bicarakan tentangku, tapi aku senang ketika Arin mendoakan aku dan kamu.

Oke, besok jam 2 ya Tia

Pesan darimu datang lagi, kau memutuskan sendiri rupanya, pasti kau merindukan aku kan? Hehe

Oke, jam 2 Ran :)
...

Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...