Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label poem. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Mei 2019

Yang Ke-dua

Malam ini telah dimulai
Aku tak secepat itu akan terkulai
Dan kau, mari ku belai

Kita kan rengkuh malam panjang
Berdua, tanpa seorang pun

Aku mesti berjuang keras
Karena kau tak sekedar diam
Kau, nakal juga

Kupikir, ini hanya akan sesaat
Seperti yang sudah-sudah
Kini kau nambah
Aku, tak boleh kalah

Sepertiga malam
Iya, aku t'lah lelah
Kau, nampak kalah
Dan Lucah telah kita jamah

Kini, lelah mesti dilepas
Dan kau, puisi
Besok tinggal ku nikmati




Juli, 2016. Malam
Coretan ke-dua


Jumat, 12 April 2019

Jeda yang tak membatasi

Biarlah
Biar aku mencintai dalam kesendirian dan membisu
Menikmati mu lebih dari memiliki
Kesunyian yang menyajikan cerita semu belaka
Dan cinta lebih melukai sejak saat kau mengikrarkannya

Biarkanlah
Biar diam menjadi penawar atas semua angan
Ia merakit sedikit demi sedikit kenyataan
Kemudian menjadikan taman penuh kenang- kenangan
Kita ...

Sehingga saat ini
Mengenang adalah cara terbaik untuk tersenyum
Meski tanpa sepatah kata 
Kenangan mendatangkan ketenangan
Juga luka yang menenggelamkan
Ada yang akhirnya mesti berubah, di ubah

Tentang perasaan
Masih seperti dahulu
Memang tak sehangat kopi yang baru kau seduh
Tak pula sedingin es krim kesukaanmu
Cukup untuk meredam gelisah
Pas untuk menenangkan gundah
Seperti saat ku tenang akan senyum
Dan teduh pandang bola mata mu

Tentang cara
Cinta lebih bijak mengungkapkan dari rindu yang menggebu
Tentang jarak
Tak jeda yang membelenggu
Tak ruang membebaskan sebebas-bebasnya mau

Jadi biarkanlah
Biarkan aku memandang mu
Menatapmu
Kau tak perlu tahu
Aku menyukai nya ..


Minggu, 17 Maret 2019

Menceritakan Kenangan



Disinilah aku duduk
Menikmati langit
Memandangi debur ombak
Bercengkrama dengan angin
Mengisahkan kenangan

Nanti, kapankah kesempatan kita?
Duduk bersama, kau menggantikan angin
Menemaniku, mengingatkan akan kenangan-kenangan
Yang aku terlupa padanya

Karena kenangan-kenangan itu
Tidak hanya milikku
Ada kau, yang melengkapi
Menjadikannya sebuah cerita ...


Selasa, 12 Februari 2019

Rasa Itu Ada




Kadang kita bisa menjadi begitu bodoh.

Tanpa sadar.

Melakukan hal-hal diluar keinginan.

Melakukan hal-hal yang tak biasa dilakukan.

Mengorbankan diri demi orang lain.

Bersakit-sakit deminya.

Hinga berdarah-darah.

Sampai melupakan diri-sendiri

Tanpa sadar.

Tak merasakan apa-apa.

Justru menikmati

Dengan senyuman

Namun, ketika semua tak sesuai harapan

Ketika hati terluka olehnya

Barulah kau mengerti

Bahwa rasa sakit itu ada

Dan hati itu tak lagi sama ...



Kamis, 06 Desember 2018

Bersyukurlah





Disini, dengan sendu yang basah
Duduk sejenak memupus resah
Ada banyak perenungan dalam tiap perhentian
Menelisik kembali peristiwa-peristiwa yang telah berlalu

Di antara banyak luka dan pilu
Satu- satu kebaikan akan merebak
Setiap sakit yang terlewati
Menanti manis yang indah
Selama kau percaya
Dan ketika banyak kekecewaan
Akan terlupa oleh sedikit kebaikan yang datang

Manusia itu sederhana
Sesulit apapun
Sebanyak apapun masalah
Ketika satu kebaikan datang, jutaan rasa sakit pun tergerus olehnya
Mungkin demikianlah mengapa satu kebaikan saja amatlah berarti
Pun kecil bagimu, mungkin lebih terasa bagi penerima
Bersyukurlah

Selasa, 06 November 2018

Kehendak Semesta












Mencintai
Demikianlah ia tersurat dalam dada
Begitulah yang terasa pada sanubari
Yang aku kisahkan pada-Nya dalam do’a-do’a
Karena sebentuk perbuatan tak mampu tersirat
Tak dapat!

Adalah diam bahasa cinta padamu
Segores senyum pertanda perasaanku
Selebihnya, kehendak semesta yang bekerja
Menjembatani antar jiwa-jiwa
Kehendak -Nya menghubungkan takdir-takdir hamba

Menyembunyikan kekaguman, mengertilah
Tidak bersama dalam ikatan tak pasti
Bentuk aku meninggikan mu
Memuliakan mu
Dari nafsu
Yang mereka obral dalam nama cinta

Maafkanlah nona, aku hanya hamba yang tak berhak menjanjikan kepastian ...


Jumat, 12 Oktober 2018

Menggenggam Cinta



Yang dirasuki ialah jiwa
Yang disusupkan ialah rasa
Dialiri setetes demi setetes
Sehingga meng-airi yang kering lagi keras
Melunakkan hati melembutkan perasaan

Mencinta
Melepaskan seluruh perasaan
Membebaskan semua beban
Menghapuskan kebencian

Menerima setiap ketulusan
Memeluk erat angan
Menjagai rindu-rindu
Merawat luka-luka
Serta meng-ikhlaskan kepergian

Mencintai
Memiki, namun tak mengurung
Menjaga tanpa membelenggu
Memeluk tidak mendekap
Menggenggam, tak kuat namun erat
Ungkapkan, dengan tanpa lisan
Tunjukkan, tiada sesumbar

Cinta
Tak mesti ramai, usah dipestakan
Meski nyata ia ada, malam tak pernah memaksa bintang untuk selalu keluar
Cinta, tak mesti dihujatkan
Mestilah ia ditunaikan
Sebaik-baik penuntasan
Ialah akad

...

Minggu, 16 September 2018

Sajak



Sajakku tak lagi bersuara
Ia diam, bungkam
Kata-kataku tak lagi bergema
Ia tenggelam,
dalam keheningan
Membiaskan perenungan

Setiap pemikiran
Setiap ingatan
Membeku ditenggorokan
Menyisakan teriakan kekosongan

Sajakku t’lah mati
Dibawah kaki-kaki ironi
Ia menjadi tragedi
Atas standar masa kini

Sajak-sajakku hanya milikku
Membayangkan kau yang tak terjangkau
Hal dan perihal mengacau
Kini itu masa lampau
Bisa kau kenang, jika mau
Sajakku tak hanya milikku
Jika aku mau

Sajak-sajakku adalah aku
Bisa juga kau, dia, atau mereka
Atau bukan apa-apa
Tidak selalu aku

Selasa, 28 Agustus 2018

Rindu yang Terucap dari Bibirmu

Ada rindu
Ketika jauh menapaki dua hati
Ketika jarak mematri
Seumpama pilu dan haru
Rindu tercipta dari titik-titik angan dan kehilangan
Kemudian kita merayakannya sebagai kenangan

Kepergian selalu menghadirkan kontradiksi
Sesak melepaskan
Dan harapan untuk kembali
Ber- angan akan elegi berubah melodi simponi

Tentang rindu dari sebalik bibirmu, nona
Semua bisa bilang rindu
Tapi, hakikat rindu
Hanya di lafadz saja
Sedang temu sekedar wacana-wacana
Semudah melantukan
Semudah melupakan


Selasa, 07 Agustus 2018

Dalam Rumah-Mu Aku Ditenangkan

Kerinduan
Mampu mengantar mu pada kesunyian
Kediaman yang menuntun batin pada pertanyaan-pertanyaan
Kerinduan menjadi langkah ketika kehampaan menjelang

Kecintaan melahirkan kerinduan
Namun semua bertitik dari temu pada temu
Lalu bagaimana aku kan merindukan?
Sedang yang aku tahu hanya sebatas dari yang aku dengar
Referensi ku ialah bacaan-bacaan yang logika ku tak mampu memahami setiap aksara maupun makna
Engkau tersirat dalam surat-surat
Terucap dalam do'a-do'a

Mencinta yang tak kasat mata
Merindu yang tak berwujud
Aku tak sepantasnya mereka yang mampu merasakan perasaan itu
Mereka yang selalu ada ketika panggilan itu menggema

Aku percaya, cinta itu ada untukku
Aku saja yang terlalu angkuh 'tuk memyadari
Meski begitu, aku tak pernah ditinggalkan

Ketika keadaan tak memihak
Dunia pun seakan menjauh
Engkau tetap menenangkan
Betapa baru ku sadari bahwa hanya di saat terendah dalam kisahku
Engkau ada

Kejatuhan membimbingku pada banyak luka
Ketika itu pula aku membimbing diriku pada kesendirian
Namun, aku tak pernah benar-benar dibiarkan pergi
Dalam kesunyian aku tak sepi
Dalam kesunyian aku tidak sendiri
Dalam kesunyian aku ditenangkan
Dalam kesunyian aku menyadari
Bahwa Engkau, ada!
Dan rumah-Mu akan selalu menantiku

Dalam rumah-Mu
Aku ditenangkan ...




Kamis, 19 Juli 2018

Memeluk Rindu

Dan pada akhirnya
Kita akan sampai pada saat itu
Saat saat sendiri tanpa siapa pun
Menatap sayu sekeliling
Ruang yang tak lagi sama
Canda tawa yang telah tiada
Meja makan yang terasa lebih hening
Sarapan pagi yang tidak lebih sunyi dari kesepian
Aku kehilangan

Aku tahu masa masa ini akan datang
Menyadari lebih sulit ketimbang mengira-ngira
Merasakan lebih sakit dari hanya sekedar memahami
Ketika ia datang, perpisahan itu selalu menyesakkan
Aku tak bisa menahan kepergian
Sebisa ku hanya menunda
Aku tidak sekuat yang ku harapkan
Aku petualang yang buruk
Pecinta yang rapuh
Dan perindu yang angkuh

Aku, mengkhianati temu dan merayakan rindu

Menghabiskan malam-malam penuh rindu dengan berkaleng-kaleng bir
Menceritakan banyak kenangan pada bayang bayang di dinding
Aku kehilangan diriku
Membiarkan air mata jatuh tanpa perintah
Membiarkan isak me-mekak tanpa persetujuan
Aku, jatuh

Pada pagi yang cerah
Ketika mentari mencurahkan kasih hangat
Aku sibuk membolak-balik kenangan
Mencari-cari dalam pesan-pesan dahulu
Membacai surat-surat
Mengacak acak isi rumah
Berharap ada yang tersisa dan bisa membawa mu kembali
Meski begitu, aku lupa
Bahwa ruang tempatmu bersemayam bukan rumah
Bukan pula pesan pesan dan surat surat
Tidak lagi

Seharusnya aku menyadari lebih cepat
Tempatmu tak akan berubah
Kehilangan membuatku melupakan segalanya
Tapi cinta akan selalu mengembalikan ingatan
Perasaan pada pemiliknya
Kau, ada disini, di tempat seharusnya kau berada
Dalam pelukan
Di hatiku
Selalu

Sabtu, 02 Juni 2018

Nomaden


Tanah kelahiran bisa jadi bukanlah tempat untuk tumbuh dan berkembang
Tempat menetap pun tak dijanjikan sebagai tempat terakhir
Kita hanya pejalan yang mengikuti takdir
Dan akan selalu menjadi musafir

Perjalanan panjang yang telah menanti
Akhir cerita yang tak pasti
Lika-liku pendakian
Orang-orang baru
Pertemuan
Perpisahan
Selalu ada yang datang, demikin pula dengan pergi
Kita tak bisa menolak pertemuan
Pun tak kuasa akan perpisahan

Pada suatu waktu
Kita yang mengantar
Di waktu yang lain,
Kita yang diantar
Betapa hidup begitu sederhana
Namun begitu banyak makna tiap-tiap peristiwa
Maka, bersyukurlah

Teruskanlah perjalanan
Selama hayat senantiasa memeluk jasad
Teruskan pengamalan
Sebelum tempo jatuh tenggat

nomaden


Sabtu, 30 September 2017

Do’a yang Takut


Aku bukanlah hamba yang taat
Ketika hati memilih mu
Diam-diam ia sering mendo’a atas nama mu

Aku takut,
Terlalu sering do’a ku
Dia akan marah
Bukan apa-apa
Dia itu pencemburu

Aku semakin takut saja
Do’a ku akan mu terlalu meminta
Sedang Dia juga mesti di cinta
Tak boleh sekedar saja, harus di atas segalanya


Aku takut, Dia marah karena do’a-do’a ku terlalu menginginkan mahluk-Nya.


Sabtu, 26 Agustus 2017

Tanda

Benar, aku sedang mempersulit diri sendiri
Aku memperhatikanmu,
meski tiada sepatah kata
ataupun tanpa sebuah sapaan

Maaf,
Aku rindu, dan itu tak akan aku sembunyikan.
Aku akan merindu.
Itu adalah sebuah kepastian
Dan kau akan tahu

Aku akan rindu,
Lewat tanda terpasang
Kau akan mengenali
Karena ia, juga tentangmu
Nona



simbol

Minggu, 18 Juni 2017

Mereka yang Bercinta Hanya dalam Hati




Aku melihat mereka nan mencinta dengan cara berbeda
Mencinta dalam dambaan tanpa sepatah kata untuk-nya
Mengirim pesan-pesan kebaikan pada langit
Mengabarkan kedukaan melalui hujan
Berbagi lewat do’a dan aksara
Atas nama dia, kasih (dalam hati) nya

Adalah kekuatan tak hingga
Ketika anugerah dalam genggaman tetap tertutup rapat
Meski sejatinya yang tercinta telah dapat dimaknai hatinya,
sikapnya.

Adalah keberanian
Ketika rasa yang begitu tinggi
Bisa-bisanya ia tenangkan, bahkan ketika Dia telah menjemput rasa itu

Adalah keteguhan
Ketika makna-makna yang tersabdakan terabaikan
Lalu dengan sendirinya tetap menyimpan perasaan itu
Tanpa dendam dan kebencian

Mereka, yang penuh ketulusan
Terlihat seperti orang-orang bodoh, mengorbankan diri
Mengurung pribadinya dalam ruang rindu penantian tanpa kepastian
Mengabaikan diri sendiri
Demi kebahagiaan dan demi-demi lain teruntuk-nya
Yang tercinta

Mereka, yang tetap dengan keyakinannya
Bersedia terluka dan kecewa
Merelakan airmata jatuh berkali-kali
Diabaikan, terabaikan
Pun demikian, tetap mengasihi
Seolah tak peduli bahwasanya hati mereka pun butuh akan dirawat
Butuh akan kebahagiaan

Sulit untuk bisa menerima
Kenyataan memang kadang mengharukan
Kediaman cinta, terunjuk dalam perbuatan-perbuatan
Dan balasannya, terkadang mewujud peng-abai-an
Hati itu tak pernah lelah
Entah apa yang mereka yakinkan pada diri sendiri

Mencintai dalam diam
Biarlah perbuatan yang menunjukkan
Betapa pun lisan tak pernah mengisahkan

Mereka yang kuat akan cinta yang demikian
Patut mendapat upah yang pantas
Namun hukum cinta tak lah demikian

Mereka tahu akan hal itu

Karenanya,
Mereka yang mencinta dengan cara demikian
Selalu mencintai dari kedalaman jiwa

Dengan ketulusan hati

cinta dalam diam

Minggu, 23 April 2017

Demikianlah Cinta


Kita
Adalah “harapan” yang tak akan bersama
Memang takdir mengatur pertemuan
Tak berarti ia akan menyatukan

Demikianlah cinta
Ia menautkan rasa padaku, padamu
Walau sejatinya tak pernah ia menjanjikan penyatuan
Yang kita lakukan,
Menjalankan pilihan
Menurutkan keinginan

Jangan sesali perpisahan
Semenyakitkannya ia
Pertemuan dahulu tentulah kebersamaan penuh kebahagiaan
Dan senyum itu,
tentu anggur yang ingin  kau nikmati di tiap-tiap malam di penghujung angan

Jangan menyalahkan pertemuan
Meski di akhirnya lah perpisahan
Jangan lupakan, sesakitnya kehilangan
Sebelumnya ia-lah manis yang senantiasa engkau agungkan

Tak banyak cinta yang akan terkenang
Yang berkesanlah yang terngiang
Ada
Untuk pemahaman
Juga pembelajaran
Jangan menyesali yang telah lekang
Ketika saatnya, kau akan bebas terbang


Kau bebas mengenang apa yang ingin kau kenang

Minggu, 26 Februari 2017

Rindu dalam Logika


Seanggun  rindu di deret jemarimu itu
Selembut angkuh didadamu kini

Menutupi perasaan menipu diri
Menjadikan rindu imaji tak hingga

Jarak
Adalah meter-meter persegi yang membatasi
Ruang-ruang waktu yang kita tempuhi
Bukankah temu adalah do’a-do’a ditiap malammu?
Akan ganjil-ganjil yang mesti kita genapi

Dan kini, pertemuan menjadi paradoks
Rindu dalam genggammu tak lagi rasional
Katamu ”Rindu ini nikmat bila ia tetap merindu”,
“dan pengkhianatan atas nama temu”,
menjadikan gebu-gebu itu tak lagi bernilai”.

Katamu “Cinta tak dinilai atas kuantitas temu”.
Cinta dimatamu ialah kualitas atas tahun-tahun sesak penuh rindu,
Dan dua hati tetap bertahan
Meski bilangan-bilangan rayu radikal menjamu
Ia kokoh pada satu cinta
Aku dihatimu, kamu dihatiku

Aku benci aksiomamu
Rindumu adalah cinta tak terdefinisikan
Dan pertemuan menjadi statistik-statistik atas angka-angka yang tak akan menjelaskan apa-apa
Aku gagal memahami realitas logikamu

Sebelum rindu menjadi elegi
Aku pergi
Biar kau puas menghitung nikmat-nikmat
Dan aku puas mengumpat

Sabtu, 14 Januari 2017

Kita Hanya Terlambat Bertemu


Kita hanya terlambat bertemu
Sebelum perasaan satu sama lain menjadi haru
Ia dulunya adalah tatapan malu-malu
Dan senyum senyum tersipu

Kita hanya terlambat bertemu
Yang membiarkan perasaan tumbuh terus menerus
Yang membiarkan perjumpaan-perjumpaan meng-akrabkan
Yang membiarkan hangat menenangkan hati masing-masing
Yang membiarkan nyaman satu sama lain

Kita hanya terlambat bertemu
Hingga akhirnya keadaan menyadarkan kemesraan
Kau miliknya, dan aku milik yang lain
Kita hanya terlambat bertemu

Untuk waktu-waktu yang telah melahirkan rindu-rindu
Untuk masa-masa yang telah meminjamkan kebersamaan
Perpisahan kini akan mengembalikan kita
Memulangkan yang hilang ke asalnya
Mengembalikan perasaan kepada sang empunya

Untuk perasaan yang tak sampai
Untuk cinta yang tak tergapai


Kita hanya terlambat bertemu

kita hanya terlambat bertemu, rindu

Kamis, 24 November 2016

Aku Baik-baik Saja

Kali ini
Biarlah aku berbohong
Sampai nanti
Ia tak lagi menjadi kebohongan
Dan nanti
Engkau yang bagi ku adalah angan
Akan menjadi ke-biasa-an

Aku,
Pada akhirnya akan melupakan
Kamu,
Jangan ada penyesalan


Minggu, 16 Oktober 2016

Di tolak



Aku belum menyatakannya
Baru mendengar saja
Pun dari orang lain pula
Tapi, hati ku sudah patah
Rasanya ...

Aku masih belum mengungkapkannya
Namun reaksi
Telah pasti
Hatiku,
Luka lagi

Kita tertawa sama-sama
Menjelang malam berdua
Mengantuk bersama
Hanya hati masing-masing yang tetap berbeda

Kita sama-sama terluka
Kau,
Terluka karena dia
Aku,
Karena kau yang memilih dia




Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...