Tampilkan postingan dengan label words of heart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label words of heart. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2018

Jarak




Tentang jarak, tentang rindu yang akan terus memuncak, tentang perasaan yang kian bergejolak, tentang suara-suara dalam diri yang bersorak-sorak, namun tersekap dalam dekap dan menguap dalam gelap.
Tentang jarak, ruang yang membatasi temu.
Bagaimana menyebut rindu yang amat sangat? Jika rasa itu tak pernah bisa dirangkai dengan aksara, tak kalimat yang bisa mewujudkan, tak kata-kata yang dapat mengungkapkan, aku rindu!
Perihal jarak ini memang pelik. Ia bisa memancing khawatir dalam diri, kegelisahan-kegelisahan. Mengertilah, dua orang dengan perasaan yang sama paham betul hal ini. Jarak tak hanya ujian akan rindu dan kasih, ia juga ujian kepercayaan. Siapa yang menunggu siapa, siapa yang mempercayai siapa, siapa yang menjaga siapa, siapa yang mengharap siapa?
Jarak ini, adalah caramu mengusahakan seseorang dengan do.a setelah berbagai upaya dan tindakanmu dahulu, sisanya kepercayaan. Untukmu juga, akan didoakan dan mesti menjaga kepercayaan. Karena jarak adalah ujian untuk dua orang dengan perasaan yang sama.
Jarak ini, caraku menjagamu dari kejauhan, memintamu dalam do’a-do’a.

jarak


Sabtu, 16 September 2017

Tentang Perpisahan, tentang Kepergian dan yang Ditinggalkan


Aku pernah terhenti pada satu titik terlalu lama
Kemudian Dia datang dan membuat garis waktu ku kembali berjalan meski pelan
Lalu Kau hadir dan membuat duniaku menjadi lebih dinamis
Dan tak lama lagi mungkin Kau juga akan pergi
Sama seperti Dia ...

Aku pernah benar-benar terhenti amat lama pada sebuah titik, dimana waktu didalam hatiku berhenti dan tak berjalan kemanapun. Waktu itu, aku terbiasa dengan kesendirian dan menghabiskan waktu bersama hobi dan teman-teman. Dunia yang jauh dari hiruk-pikuk konflik perasaan.

            Namun, setenang apapun kehidupan, rasanya akan membosankan jika dilalui dengan melakukan hal-hal yang itu-itu saja. Akan sangat membosankan jika yang kamu lakukan setiap harinya hal yang itu-itu saja, bangun pagi, sekolah, pulang, makan, main, pulang, tidur dan selalu begitu. Jadi, aku mulai mencari-cari hal baru dan ...

Yah, anggap saja aku menemukanmu, entah menemukan, dipertemukan, atau saling menemukan, yang pasti aku mengenalmu, meski aku telah mengenal Dia.
Saat bertemu denganmu, waktu ku sebenarnya sudah berjalan meski pelan, Dia menggerakkannya perlahan. Setidaknya saat itu aku sedikit punya arah.

Ada banyak hal setelah pertemuan itu, aku perlahan mulai sedikit menemukan alur waktu ku. Hal-hal yang dulu berjalan dengan amat tenang, mulai bergerak tak beraturan, kadang waktu itu bisa berjalan amat kencang, terkadang pula ia bisa amat pelan dan kadang bisa amat diam. Maksudku, aku tak lagi menjalani hari yang seperti itu-seperti itu saja. Hanya satu pertemuan mampu menghadirkan banyak hal, kadang memang begitu kan? Banyak hal-hal besar dimulai dari hal-hal sederhana? Jika tidak bagimu, mungkin kamu kurang memaknai dan mensyukuri hal-hal kecil yang kamu terima. Bukan berarti aku ini orang yang selalu bersyukur kok, hanya aku selalu berusaha untuk melakukannya.

Aku tak akan ceritakan apa saja yang sudah aku lalui bersamamu. Itu cukup jadi milik ku, namun jika kau juga menganggap itu penting untukmu, kau juga boleh menyimpannya. Jujur saja, setelah banyak hal yang aku lalui bersamamu, aku masih tak berani untuk menganggapmu milikku, itu berlebihan, atau bisa saja sikap dan perasaan yang terlalu memiliki akan melukaimu, toh sampai hari ini aku tak pernah tahu apa yang ada dalam hati mu? Meski aku sangat ingin tahu, biarlah, aku tak ingin terlalu memikirkannya, aku takut jika nanti isi hatimu tak sesuai dengan yang aku inginkan. Aku masih belum siap terluka lagi, meski telah bertahun terakhir kali aku kehilangan, rasanya masih akan sama saja kan? Sebenarnya bukan hanya soal rasa sakit, tapi soal kehilangan orang yang penting bagimu, itu jauh lebih menyakitkan.

Dan setelah banyak waktu-waktu yang menyenangkan bersamamu. Waktu-waktu yang terlalu menyenangkan sampai aku lupa, selalu ada akhir dari sebuah awal, selalu ada perpisahan setelah pertemuan entah cepat entah lambat. Waktu dalam kepalaku sempat terhenti saat kau menyampaikan kata pergi, percayalah, aku selalu takut dengan kata-kata itu, setidaknya akhir-akhir ini. Pergi, hal yang sering aku lakukan dulunya karena aku memang sering berpindah-pindah tempat dari dulunya. Ternyata kata itu kini menjadi momok untuk ku, yang saat ini terlalu lama menetap di satu titik. Aku jadi mulai berpikir, mungkin aku perlu mempersiapkan diri untuk mendengar kata-kata “Pergi”.

Saat kata “pergi” itu terdengar, otakku sesaat berhenti bekerja, dan semesta disekelilingku diam, hening. Hanya helaan nafas panjang yang membuat waktu ku kembali berjalan, semesta disekelilingku kembali berotasi. Ternyata mengalami tak pernah mudah meski kau sudah mempersiapkan diri. Yah, merasakan selalu lebih dari sekedar memahami.

Sambil aku masih memikirkan kepergianmu, aku mulai merasa waktu ku mulai mengalami penurunan percepatan, meski belum terlalu signifikan. Aku dan kau itu cuma bersama, menghabiskan waktu bersama namun tak sesering itu, temu itu jarang. Namun tak sesedarhana itu kan? Biarlah aku dan kau saja yang tahu.

Aku berterima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan itu. Aku menulis kata-kata ini dengan sambil tersenyum, aku bersyukur diberi kesempatan untuk mengenalmu.

Jadi, ketika kau pergi, aku tak punya kuasa untuk menahannya. Juga tak punya hak untuk melarang, sama sekali tak punya. Yang aku bisa cuma berharap, lain dari itu mendoakan. Sisanya menjalani hidupku yang masih punya banyak hutang kepada orang tua.

Aku berharap waktu ku tak kembali terhenti seperti dulu, semoga. Dan kau, semoga baik-baik saja dimanapun berada. Jangan terlalu memikirkan perasaanku, kau lebih perlu memikirkan masa depanmu. Aku akan baik-baik saja, sendiri itu temanku, meski ditinggalkan itu sulit, aku pasti bangkit.

Maaf untuk waktu-waktu yang sempat melukaimu tanpa sengaja, semoga kau bahagia. Jika tempat baru mu terlalu kejam, kau selalu punya rumah untuk kembali, tanpa peduli seberapa lama kau meninggalkannya, tanpa peduli sejauh apa dunia yang telah kau jelang. Jika orang-orang disana terlalu melukai, kau selalu punya keluarga untuk berbagi dan menguatkan meski kau jarang menemui, atau sulit untuk sekedar berkabar.

Dan aku, jangan sungkan jika kau rindu...




Minggu, 03 September 2017

Aku Jatuh Cinta


Roulette Aku Jatuh Cinta
 

Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan
Segalanya berubah
Dan rasa rindu itu pun ada
Sejak kau hadir disetiap malam ditidurku
Aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku

Sudah sekian lama ku alami pedih putus cinta
Dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara
Dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku
Kau berbeda dari yang ku kira

Aku jatuh cinta
Kepada dirinya
Sungguh-sungguh cinta
O ... apa adanya
Tak pernah ku ragu
Namun tetap selalu menunggu
Sungguh aku jatuh cinta kepadanya

Coba-coba dengarkan apa yang ingin aku katakan
Yang selama ini sungguh telah lama terpendam
Aku tak percaya membuatku tak berdaya
Untuk ungkapkan apa yang ku rasa

Aku jatuh cinta
Kepada dirinya
Sungguh-sungguh cinta
O ... apa adanya
Tak pernah ku ragu
Namun tetap selalu menunggu
Sungguh aku jatuh cinta kepadanya

Kadang aku cemburu
Kadang aku gelisah
Seringnya ku tak mampu lalui hari

Tak dapat ku pungkiri
Hatiku yang terdalam

Betapa aku jatuh cinta kepadanya

by: Roulette

Minggu, 06 Agustus 2017

Tentang Mengira-ngira


Sudah lumrah manusia mengira-ngira akan suatu hal, menerka-nerka apa yang akan terjadi. Dalam matematika pun kita belajar tentang peluang, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bermuara dari memperkirakan tapi memiliki hitung-hitungan tersendiri. Ada banyak hal yang bisa dikira-kira oleh manusia entah itu perihal nasib, masa depan, maupun hasil suatu pertandingan. Bahasa kerennya adalah prediksi. Lalu bagaimana tentang mengira-ngira kepribadian atau perilaku seseorang? Entahlah, aku tak berani mengira-ngira atau merasa tahu tentang perilaku seseorang. Aku menyebutnya menilai perilaku orang lain.

Berbicara tentang mengira perilaku orang lain akan memunculkan dua pandangan tentang orang tersebut, pandangan positif atau negatif. Jika pandangan positif yang muncul, syukurlah, setidaknya itu turut menjaga nama baik orang tersebut. Namun, jika pandangan negatif yang muncul, bisa jadi kita sedang memfitnah orang lain, atau pastinya kita sedang menggunjingkan orang lain. Perkara tentang mengira-ngira perilaku orang ini, sebelum kita melakukannya, sudahkah kita mengenal baik orang itu? Sudahkah kita bergaul banyak dengannya? Sudahkah kita menghabiskan waktu barang sejam dua jam dengannya selama satu hari setiap harinya? Sudahkah kita melakukan perjalanan panjang dengannya? Sebenarnya masih banyak indikator lain untuk menilai dan menerka-nerka perilaku orang lain.

Jika kita bahkan sangat jarang bergaul dengannya, janganlah coba untuk menerka tentang sikapnya. Melakukan itu membuat kita menjadi orang yang sok tahu. Sedang kita sendiri pun tak suka dengan orang yang sok tahu. Semisal ini, kita kenal seseorang, orang itu kenal dengan kita, tapi pergaulan biasa saja dan tak terlalu intens. Pada suatu ketika dia mengira-ngira soal sikap kita seperti ini, seperti itu dan seterusnya yang banyak sekali tak sesuai. Penilaiannya tentang kita justru membuat kita heran sehingga kita berpikir “siapa dia? Akrab tidak, bergaul juga biasa-biasa saja, tapi seakan tahu apapun tentang ku, sok tahu”. Tentu kita tak senang dengan penilaian semacam itu apalagi dari orang yang tak terlalu akrab. Tapi periksa dulu, kamu tak senang karena yang dia katakan tentangmu memang tidak sesuai atau karena kamu tak terima padahal yang ia katakan benar tentangmu?

Jika pun yang ia katakan tentangmu benar, kamu pun belum tentu bisa menerimanya kan? Lalu bagaimana bisa kamu membicarakan kejelekan seseorang pada orang lain? Karenanya, jawablah yang baik-baik saja jika pertanyaan seputar perilaku seseorang jika itu bukan perkara besar. Apabila pertanyaan mengenai perilaku berkaitan tentang hal besar seumpama pernikahan, perniagaan, jawablah setahu mu. Misalkan seorang wanita bertanya kepadamu tentang bagaimana perilaku laki-laki yang hendak melamarnya karena laki-laki itu ialah temanmu, kenalanmu, sahabatmu, maka jawablah semampumu baik buruknya ia karena perkara nikah tak lah main-main. Jangan pula kamu memberi jawaban palsu karena ternyata kamu juga menyukai wanita yang sama. Jikalau kamu tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan, rekomendasikanlah orang lain yang berkompeten.

Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang mata lihat tanpa mencoba terlibat dengannya. Karena jika tak bergaul dengannya, tak akan bisa kamu memastikan bagaimana ia. Kadang ia tak seburuk yang kau duga. Jangan pula menilai seseorang hanya dari apa yang kamu dengar dari orang lain, karena yang kamu dengar kadang hanya ujaran kebencian atau pujian dari fanatisme. Kenalilah lebih dalam, maka kamu akan tahu, mungkin karena itu ada pepatah "Tak kenal maka tak sayang". 

Setahu apa kita terhadap perilaku orang lain, kita tak berhak menghakiminya karena sejatinya kita tak benar-benar tahu bagaimana seseorang itu. Karena tak semua orang menampilkan total dirinya pada orang lain. Kita tidak bisa menilai seberapa kuat seseorang, juga tak bisa mengatakan seberapa lemah dia. Manusia itu keterbatasan yang tak pernah bisa kita pahami batasnya. Jadi, janganlah merasa sangat tahu tentang teman-temanmu, kenalanmu maupun sahabatmu. Bisa jadi sikapmu yang seolah tahu itu dapat menyinggung orang-orang terdekatmu. Ucapkan saja yang baik-baik tentang kenalanmu, temanmu, sahabatmu. Jika kau benar-benar tak tahu, katakan saja tak tahu daripada menerka-nerka yang tak meiliki dasar.

Kata penutup, mengutip, lupa dari siapa dan kata-kata tepatnya, yang jelas maknanya demikian. Ketika kita bermasalah dengan satu orang, itu maklum dan wajar. Tapi jika kita bermasalah dengan hampir setiap orang, coba cek diri kita, sudah benarkah kita? Curigailah diri kita terlebih dahulu sebelum mencurigai orang lain. Kita jarang menyadari bahwa kadang pemikiran kita sendiri yang menjebak kita dalam menolak kebenaran dari luar. Intropeksi diri, kita tak selalu benar, jangan sampai ego membutakan diri.

Bahkan aku pun belum tentu suci dari dosa ketika menulis ini.




Minggu, 18 Juni 2017

Mereka yang Bercinta Hanya dalam Hati




Aku melihat mereka nan mencinta dengan cara berbeda
Mencinta dalam dambaan tanpa sepatah kata untuk-nya
Mengirim pesan-pesan kebaikan pada langit
Mengabarkan kedukaan melalui hujan
Berbagi lewat do’a dan aksara
Atas nama dia, kasih (dalam hati) nya

Adalah kekuatan tak hingga
Ketika anugerah dalam genggaman tetap tertutup rapat
Meski sejatinya yang tercinta telah dapat dimaknai hatinya,
sikapnya.

Adalah keberanian
Ketika rasa yang begitu tinggi
Bisa-bisanya ia tenangkan, bahkan ketika Dia telah menjemput rasa itu

Adalah keteguhan
Ketika makna-makna yang tersabdakan terabaikan
Lalu dengan sendirinya tetap menyimpan perasaan itu
Tanpa dendam dan kebencian

Mereka, yang penuh ketulusan
Terlihat seperti orang-orang bodoh, mengorbankan diri
Mengurung pribadinya dalam ruang rindu penantian tanpa kepastian
Mengabaikan diri sendiri
Demi kebahagiaan dan demi-demi lain teruntuk-nya
Yang tercinta

Mereka, yang tetap dengan keyakinannya
Bersedia terluka dan kecewa
Merelakan airmata jatuh berkali-kali
Diabaikan, terabaikan
Pun demikian, tetap mengasihi
Seolah tak peduli bahwasanya hati mereka pun butuh akan dirawat
Butuh akan kebahagiaan

Sulit untuk bisa menerima
Kenyataan memang kadang mengharukan
Kediaman cinta, terunjuk dalam perbuatan-perbuatan
Dan balasannya, terkadang mewujud peng-abai-an
Hati itu tak pernah lelah
Entah apa yang mereka yakinkan pada diri sendiri

Mencintai dalam diam
Biarlah perbuatan yang menunjukkan
Betapa pun lisan tak pernah mengisahkan

Mereka yang kuat akan cinta yang demikian
Patut mendapat upah yang pantas
Namun hukum cinta tak lah demikian

Mereka tahu akan hal itu

Karenanya,
Mereka yang mencinta dengan cara demikian
Selalu mencintai dari kedalaman jiwa

Dengan ketulusan hati

cinta dalam diam

Sabtu, 14 Januari 2017

Kita Hanya Terlambat Bertemu


Kita hanya terlambat bertemu
Sebelum perasaan satu sama lain menjadi haru
Ia dulunya adalah tatapan malu-malu
Dan senyum senyum tersipu

Kita hanya terlambat bertemu
Yang membiarkan perasaan tumbuh terus menerus
Yang membiarkan perjumpaan-perjumpaan meng-akrabkan
Yang membiarkan hangat menenangkan hati masing-masing
Yang membiarkan nyaman satu sama lain

Kita hanya terlambat bertemu
Hingga akhirnya keadaan menyadarkan kemesraan
Kau miliknya, dan aku milik yang lain
Kita hanya terlambat bertemu

Untuk waktu-waktu yang telah melahirkan rindu-rindu
Untuk masa-masa yang telah meminjamkan kebersamaan
Perpisahan kini akan mengembalikan kita
Memulangkan yang hilang ke asalnya
Mengembalikan perasaan kepada sang empunya

Untuk perasaan yang tak sampai
Untuk cinta yang tak tergapai


Kita hanya terlambat bertemu

kita hanya terlambat bertemu, rindu

Selasa, 20 September 2016

Ini September

Ini September, dan sekarang adalah minggu. Hujan yang sedari subuh telah memulai pestanya tak membuatku bertahan diperaduan. Tugas terlalu menumpuk, membuat minggu santai seakan senin. Sejak rintik hujan pertama memulai harmoni melodi segelap tadi, sejak itu pula aku berkutat di depan komputer ku, memangkas jarak dari tugas satu ke tugas lainnya.

Ini September yang sibuk. Setidaknya dengan jaringan internet, kesibukan ini memiliki jeda. Tidak hanya aku, siapapun akan melakukan hal yang sama, ada internet artinya bisa menghibur diri lewat jejaring media sosial yang bervariasi jenis dan kegunaannya. Ini mungkin rahasia kecil, tapi rasanya ini lebih baik menjadi rahasia bersama, aku akan lebih lama menghibur diri di dunia maya ketimbang mengerjakan tugas-tugasku.

Meja kerja dikamarku telah sejak tadi menjadi peraduanku. Meski jam telah menunjuk pukul 09:00 WIB, efek harmoni hujan membuat suasana seakan pukul 06:00 WIB. Aku sibuk mengacak-acak dunia maya. Sebentar-sebentar terhibur akan kekonyolan yang di-posting oleh orang-orang, kadang juga menjadi serius dengan berbagai pemberitaan, kadang juga heran dengan tindakan-tindakan remaja masa kini di dunia maya. Membuka dunia maya sama saja dengan membuka buku seribu satu kisah, mulai dari yang kamu sukai sampai sesuatu yang tidak penting untukmu.

Iseng-iseng itu terhenti pada sebuah foto, pada sebuah nama. Nama yang tidak asing, meskipun saat ini, jika bertatap mata, bertemu secara nyata, nyatalah akan asing terasa. Saat itu, melihat nama dan foto-nya tersenyum di layar komputer, membuat aku tersenyum, seakan membalas senyumnya, sejujurnya sama sekali tidak. Melihat nama itu akan melayangkan ku jauh pada ingatan silam, ingatan masa-masa remaja yang kebanyakan orang bilang adalah masa-masa menyenangkan dalam hidup, mungkin saja.

Mungkin sudah lima atau enam tahun berlalu sejak saat itu, sejak saat terakhir aku melihatnya. Sudah lama sekali ternyata. Seingatku, ini bulan-nya. Melihat tanggal hari ini, sepertinya beberapa hari lagi adalah hari-nya. Aku hanya tersenyum-senyum sendiri memikirkannya. Bukan apa-apa, setelah lima atau enam tahun, baru hari ini aku mengingat kembali hari dan bulan nya.

Aku merasa sangat jahat kepada dirinya, dia memang bukan satu-satunya, tetapi, dia itu yang pertama kan?

Apa ada hal yang membuat aku tak begitu ingin mengingatnya? Entahlah, jika dengan pemikiran saat ini, aku merasa apa yang terjadi dahulu bersamanya, tidak ada masalah yang benar-benar besar, hanya pemikiran pada masa itu yang belum mampu mencerna setiap masalah yang datang. Kita, pada saat itu sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah, sama-sama tidak mau mendengarkan satu sama lain. Kita terlalu muda untuk menanggung sebuah beban kehidupan bersama.

Pada akhirnya, kita berpisah, kan? Iya!

Aku tak mengingat banyak setelah itu. Selain karena setelahnya kita jadi jarang berbicara lagi, sekedar bersapa tegur saja telah sulit pula jadinya. Apa selalu begitu fenomena mereka yang telah berpisah? Mungkin iya, bisa juga tidak. Kata orang, itu tergantung masing-masing orang dalam berpikir. Jika sama-sama mampu berpikir dewasa, mungkin hubungan setelah berpisah akan tetap terjalin dengan baik, namun jika tidak, ya begitulah.

Kita jadi jarang bicara lagi, apa karena setelahnya kau menjalin hubungan dengan teman ku?

Terakhir kali aku bisa melihatnya, terakhir kali aku bisa berbicara dengannya, aku pikir itu yang pertama aku bisa berbicara lagi dengannya setelah berpisah. Itu hanya perkiraanku. Ternyata tidak, karena setelahnya, kau pergi tanpa bisa aku mengantar.

Ini September, dan hujan masih memainkan seriosa pagi ini. Karena ini September, jadi ...

Selamat ulang tahun, kawan ..... ........





Senin, 25 Januari 2016

Seperti itulah rasanya

Pada sebuah kata perpisahan
Bukan tentang cinta dua sejoli
Ini tentang orang-orang yang sangat berharga
Tentang teman, sahabat, saudara, keluarga

Sabtu, 31 Agustus 2013

Melukis Kenangan



Berdiri di depan kanvas putih
mencoba melukis mu yang tak pernah bisa kulukis
namun tak pernah bisa hilang dari ingatanku!

Senin, 03 Desember 2012

Cara ku

memang menyebalkan
berjalan tanpa jalan
melangkah tanpa bayangan
kau pun pasti bertanya-tanya
kau pun pasti tersiksa
dengan caraku

Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...