Sabtu, 12 Maret 2016

Aku dan Kau

Aku
Seorang yang telah memutuskan
Untuk menyukaimu
Sejauh ini, itu saja dahulu
Soal akan jadi apa, kau dan aku yang akan memutuskannya ...
Nanti!

Kau
Pilihanku
Yang lain
Biar orang lain yang urus
Jadi,
Soal cinta
Soal kita
Jalan terus ...

Kita
Semoga saja menjadi

Padang, Januari

Rabu, 09 Maret 2016

Sapaan Rindu




Malam menjelang, langit temaram berhiaskan kerlip bintang memasygulkan panorama malam itu. Aku duduk di kursi di depan rumah memandangi suasana malam. Memperhatikan cantiknya rembulan malam, seakan-akan ia pun memperhatikanku. Sesekali aku menghisap kretek milikku, mengobati dinginnya malam yang menusuk tulang. Selain mantel penghangat suasana, kretek ini merupakan teman penghapus sepi bagiku. Semula aku bukanlah penghisap kretek, bahkan terkesan jauh dari benda yang cukup populer dikalangan pemuda tersebut. Baru setahun ini aku dekat dangan rokok, pun sudah merasa akrab dengannya.

Malam yang cukup aneh bagiku. Suasana yang demikian tenang dengan panorama langit yang begitu mempesona membuat ku seakan berada di dunia lain. Aku tak seperti berada di Kota Langit ku yang kecil. Kota ku memang kecil, tapi jika malam datang, suasana hening dan tenang adalah hal yang langka. Memang tidak terlalu ramai layaknya kota-kota besar, namun kau tidak akan takut untuk keluar malam di Kota kecilku ini. Hampir setiap sudut akan kau temui sumber cahaya baik dari rumah-rumah penduduk maupun dari warung-warung maupun toko yang masih buka.

“Malam yang indah, meski tak biasa” gumamku sambil tetap menyeruput kenikmatan dari nikotin-nikotin kretek yang mulai menipis. Perlahan suasana dingin mulai menjalar, buru-buru ku nyalakan kretek yang baru.
“Hmmmm, sepertinya aku mulai kecanduan nikotin berasap ini” pikirku. “Kalau dulu, kau pasti bakal mengomeliku sampai bosan gara-gara berniat merokok. Tapi sekarang, aku justru terbiasa dengan lintingan-lintingan tembakau ini. Itu dulu kan, Fa”. Tiba-tiba terbersit kenangan tiga tahun lalu, kenangan saat masih bersama Farha Syifa, orang yang dulu pernah menemani hari-hariku, Ghazi Fahmi.

Senin, 07 Maret 2016

Nostalgia



Langkahku mulai melambat
Pelan-pelan lelah kian merambat
Cukup jauh,
Aku melangkah
Cukup jauh,
Jarak dan waktu membawa ku dari mu

Aku harus berhenti,
Sejenak dan beristirahat
Menatap sekeliling
Mengagumi yang tak pernah ku tatap
Menikmati yang tak pernah ku pesan

Aku lelah
Hidup di antara pelarian dan pencarian
Lari dari sosok yang erat membelenggu,
Merantai merongrong hatiku
Mencari,
Sosok baru yang bisa melepas,
 Membumihanguskan rantai-rantai belenggu

Rabu, 02 Maret 2016

4. 4




Kemunculan

Sekolah ku, SMA 4 adalah salah satu sekolah besar di Kota ini. Aku hanya akan menyebutkan kota ini dengan “Kota Ini”, itu saja. Aku menyebutnya ‘kota ini’ karena sebenarnya tempat ini bukanlah kota, hanya sebuah kabupaten dengan wilayah yang luas dan sedang dalam tahap berkembang. Sekolah ku ini berada di salah satu kecamatannya, namun kisah ini terjadi lebih di satu kecamatan.
SMA 4, bukan sekolah favorit tapi banyak yang ingin masuk ke sini. Sekolah yang memiliki keseimbangan antara akademik, non akademik, dan kenakalannya. Sekolah yang saat ini aku, Andra dan Adri masuki. Kenakalan remaja, merupakan salah satu hal yang biasa di kota ini, perkelahian, mabuk-mabukan,merokok, minggat dari sekolah, itu hanya segelintir dari kisah gelap kota ini. Bagi mereka yang berada atau terlibat dalam kenakalan ini, inilah sisi lain kota ini, mereka menyebut diri mereka orang-orang dunia hitam kota, padahal mereka hanya anak-anak nakal yang suka berkelahi.
***

Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...