Sabtu, 26 Agustus 2017

Tanda

Benar, aku sedang mempersulit diri sendiri
Aku memperhatikanmu,
meski tiada sepatah kata
ataupun tanpa sebuah sapaan

Maaf,
Aku rindu, dan itu tak akan aku sembunyikan.
Aku akan merindu.
Itu adalah sebuah kepastian
Dan kau akan tahu

Aku akan rindu,
Lewat tanda terpasang
Kau akan mengenali
Karena ia, juga tentangmu
Nona



simbol

Minggu, 20 Agustus 2017

4.11

Counting Stars

Adri berlarian menuju bangku tempat ia duduk, menunduk dan bersembunyi. Ia tampak menghindari sesuatu. “Kalau ada yang nyari aku, bilang aku gak ada” pinta Adri. Adi yang heran cuek saja. Adi malah melangkahkan kakinya ke luar kelas, perutnya lapar dan harus segera di isi. “Bilang saja pada yang lain, aku mau keluar”. “Kau mau kemana? Mau ke tempat itu?” tanya Adri. “Nggak, mau ke warung, nggak ada janji ke sana hari ini”. “Yaaaah”. Adri ber”yah” panjang. Ia tetap menunduk dan bersembunyi entah dari apa dan siapa. “Hei Ketua Kelas, nanti kalau ada yang mencariku, bilang aku tak ada”. Adri masih melanjutkan permintaannya. Ketua Kelas X.I, Amran melirik Adri, sesaat kemudian ia melenguh panjang, “Iyaaaaa” jawabnya malas.

Dalam perjalanan menuju warung makan, Adi melewati kelas X.5. Saat tengah mengencangkan kecepatannya, terdengar suara perempuan memanggil, suara yang tak asing. “Hai Adi” suara lembut dari gadis manis berkacamata yang menyapanya tempo hari. Gadis itu berdiri tepat didepan pintu kelas X.5, ia tersenyum manis dan penuh kehangatan kepada Adi. Dan Adi, saat itu hampir mati berdiri jika saja gadis itu tak memalingkan wajahnya saat itu. Perasaan aneh dan debar-debar itu terasa lagi pada Adi. “Aya, kita ke perpus yuk” sahut suara perempuan yang muncul dari dalam kelas. Perempuan itu cukup manis, meski tak semanis gadis berkacamata yang menyapa Adi. “Ah iya, ayo Nina”. Balas gadis berkacamata itu. “Adi, aku duluan ya” ucap gadis berkacamata itu sambil berlalu dan meninggalkan senyumnya yang amat manis. Adi hanya membalas dengan senyuman, senyum yang kacau balau dan debar-debar yang tak beraturan. Senyum gadis itu masih tertinggal dipikiran Adi meski gadis itu telah tak lagi terlihat. “Manis sekali gadis itu kan?” tiba-tiba suara Andra muncul begitu saja, entah darimana?

Adi yang salah tingkah jadi kehilangan senyum indah itu oleh kehadiran Andra. “Hahaha, ketahuan kau Di, kau telah memulai sebuah perjalanan cinta yang panjang dengan gadis itu”. Tatap Andra tajam. “Sok tahu kau Ndra, tadi itu tak sengaja ketemu, lagipula aku masih tak tahu apa-apa tentangnya”. Mendengar itu Andra jadi ingat akan sesuatu yang hampir ia lupakan dalam beberapa minggu ini. “Oh iya Di, aku baru ingat, aku akan ceritakan padamu semua tentang gadis manis tadi”. “Oh”. Jawab Adi singkat dan penuh ketidaktertarikan, meski sebenarnya tidak begitu. “Aku serius lo, tapi traktir aku makan ya, hehhe” dan mereka terus berjalan menuju warung.

***

Di sebuah kedai yang cukup jauh dari sekolah, tampak dua orang siswa lawas bertemu, bertemu tanpa sengaja tepatnya. “Jauh juga tempat makanmu sekarang War” ucap suara itu yang melihat Anwar Faisal tengah melahap makanannya. “Ngapain orang yang sudah tidak bisa apa-apa lagi di sekolah kemari, sudah bosan sekolah?” sahut Anwar kesal. “Hahaha, selera humormu tetap saja buruk War”. “Aku dengar lo kabar soal kau dan Redstar kena hajar ulah anak kelas satu, hahhaha” balas Arainan. “Jangan rusak nafsu makanku deh, jangan habiskan jatah peringatanku hanya karena menghajarmu Nan”. “Hahaha, kau masih tetap emosional saja, aku hanya ingin duduk-duduk dan bercerita saja denganmu”. “Kalau tentang pacar-pacarmu, sebaiknya enyah saja kau Nan”. “Bukan, ini soal anak-anak baru yang menyebalkan”. “Hmmm??? Kau juga kena ya Nan? Ahaha, si kribo ini kena juga” dan pecahlah tawa Anwar dan Arainan waktu itu.

***

“Jadi namanya Cahya Rona dan ia siswa pindahan dari kota lain sewaktu kelas tiga SMP?”. Ucap Adi. “Iya Di, dia primadona SMP 3 sejak saat itu, tapi sampai saat ini ia masih tetap sendiri tanpa pasangan” jawab Andra. “Pasti info-mu Ndra?”. “Pastilah Di”. Adi mengangguk-angguk saja, yang menjadi pertanyaannya kenapa gadis itu kenal dengannya masih belum juga terjawab, bahkan oleh Andra. “Aku masih belum tahu Di kenapa dia bisa kenal denganmu, awalnya aku pikir kau se SMP dengannya, ternyata tidak”. Adi memang tak banyak bergaul saat SMP selain karena selama SMP sering pindah-pindah sekolah karena berbagai alasan, ia tak pernah sekolah di SMP 3. SMP terakhir tempatnya lulus adalah SMP 13 yang terletak di perbatasan kota serta batas provinsi dengan provinsi sebelah. SMA 4 sendiri terletak jauh dari perbatasan dengan jarak tempuh satu setengah jam perjalanan dengan mobil. Setidaknya saat ini Adi belum ada tanda akan pindah lagi setelah terakhir pindah ke daerah pertengahan ini setelah tamat SMP lalu. “Ini misteri yang harus aku pecahkan!” sahut Andra penuh percaya diri. “Udah ah, balik ke kelas yuk, nggak penting” ujar Adi sambil bergegas ke kelas setelah membayar makanannya. “Tunggu oi”. Andra bergegas menyusul. “Ngomong aja nggak penting, dalam hati senang tuh karena udah tahu siapa namanya” gerutu Andra sambil berlari menyusul Adi.

***

“Bagaimana Ran? Kau mau kan duel dengan ku sore ini?” Tantangan Baron waktu itu masih mengganggu pikiran Randi. Ia sudah lama tidak berkelahi, kelas dua SMP adalah terakhir kali Randi berkelahi, saat ia dan geng-nya dikalahkan. Randi masih mencari-cari cara untuk menghindari perkelahian itu. Waktu itu jam pulang sekolah tinggal setengah jam lagi, Baron menanti dengan was-was. Tantangan yang ia layangkan pada Randi masih belum beroleh kata pasti. “Aku tidak tertarik, lagi pula seharusnya Adri yang mestinya kau lawan, bukan aku”. Demikian jawaban Randi waktu ia menolak. Tapi Baron tetap ingin menantang Randi, soal Adri, ia tak ingin melangkahi Anwar yang sudah lebih dahulu ingin membalas dendam dengan Adri.  Tiga puluh menit yang terasa amat panjang untuk Baron dan terasa singkat bagi Randi.

Lain tempat. Arainan dan Anwar justru sedang memikirkan strategi untuk melampiaskan kekesalannya terhadap anak-anak kelas satu yang bandel. “Jadi War, target kau anak kelas satu yang bernama Adri itu? Kalau aku, bocah yang rambutnya runcing-runcing itu, dia sudah tidak sopan dengan seniornya, dia harus diajari sopan santun!” Arainan amat gemas saat itu, ia benar-benar tak lagi sanggup menahan diri. “Kau ini, kalau sekali lagi bikin masalah di sekolah, kau bisa dikeluarkan, sudah bosan sekolah?” balas Anwar. “Aku akan melakukannya di luar sekolah, cepat atau lambat!”. Anwar sepakat dengan Arainan saat itu. Tekad dalam hatinya untuk balas dendam telah memuncak, lagipula kondisinya kini telah benar-benar fit karena lebih satu bulan ia kesulitan mencari Adri yang seakan hilang. “Nan, kau bantu aku mencari bocah itu, dia selalu lolos dari mata ku!”. “Pasti!”. Dan kedua senior SMA 4 memulai pergerakannya.

***

Suasana pulang amat riuh, seperti pasar. Adi masih menanti angkutan umum. Ia ingin ke pasar, ke toko ibunya. Karena malas untuk pulang ke rumah, sepulang sekolah Adi memutuskan untuk langsung ke pasar. “Adi, kebetulan banget” Eri sangat senang saat itu, matanya berbinar-binar, senyumnya memancar. “Kenapa Ri?”. Dengan senyum penuh kejahilan, Eri mulai merayu-rayu Adi “Aku mau ke toko buku Di, tapi nggak ada yang nemenin, si Andra udah kabur, si Adri gak keliatan dari tadi, temenin ke toko buku yaaa” sambil dengan gaya memohon manja Eri memaksa Adi. Adi yang salah tingkah dan serba salah tak tahu bagaimana hendak menolak. Dan tak lama Adi telah naik angkutan umum bersama Eri menuju toko buku, dengan penuh keterpaksaan.

***

Baron dengan setia menanti Randi di gerbang sekolah. Setelah amat lama menanti, Randi berjalan keluar melewati gerbang, tidak sendirian, ia berjalan bersama dengan seorang gadis. Mereka terus saja berjalan tanpa peduli dengan sekelilingnya, termasuk Baron. Baron yang merasa diabaikan mengikuti dari belakang, sesekali ia berdehem, “Ehem ehem”, tapi Randi cuek saja. Cukup ampuh memang, Baron tak bisa berbuat banyak. Randi tahu jika Baron adalah seorang lelaki yang tidak suka mengganggu perempuan. Meski begitu, karena kesal, Baron yang sedari tadi mengikuti Randi menendang pantat Randi hingga Randi tersungkur. Bisa kau bayangkan bukan bagaimana rasanya tersungkur saat kau sedang berjalan berdua dengan wanita? Dan saat itu cukup ramai. Ini bukan soal rasa sakit, tapi lebih ke malu. Emosi Randi naik, ia menoleh ke belakang, dan Baron telah jauh berlari, sambil mengejek-ngejek Randi dari jauh. Ingin Randi mengejar Baron, tapi ia telah lebih dahulu di tahan oleh Lara, gadis yang bersamanya. Wajah Randi saat itu memerah, iya memerah karena masih terbayang olehnya saat jatuh tersungkur tadi, saat ia asyik bercerita dengan Lara, tiba-tiba ia tersungkur, di tengah keramaian. Randi jadi salah tingkah, tapi hatinya penuh amarah : ku hajar kau Baron!

***
4

Minggu, 06 Agustus 2017

Tentang Mengira-ngira


Sudah lumrah manusia mengira-ngira akan suatu hal, menerka-nerka apa yang akan terjadi. Dalam matematika pun kita belajar tentang peluang, tentang kemungkinan-kemungkinan yang bermuara dari memperkirakan tapi memiliki hitung-hitungan tersendiri. Ada banyak hal yang bisa dikira-kira oleh manusia entah itu perihal nasib, masa depan, maupun hasil suatu pertandingan. Bahasa kerennya adalah prediksi. Lalu bagaimana tentang mengira-ngira kepribadian atau perilaku seseorang? Entahlah, aku tak berani mengira-ngira atau merasa tahu tentang perilaku seseorang. Aku menyebutnya menilai perilaku orang lain.

Berbicara tentang mengira perilaku orang lain akan memunculkan dua pandangan tentang orang tersebut, pandangan positif atau negatif. Jika pandangan positif yang muncul, syukurlah, setidaknya itu turut menjaga nama baik orang tersebut. Namun, jika pandangan negatif yang muncul, bisa jadi kita sedang memfitnah orang lain, atau pastinya kita sedang menggunjingkan orang lain. Perkara tentang mengira-ngira perilaku orang ini, sebelum kita melakukannya, sudahkah kita mengenal baik orang itu? Sudahkah kita bergaul banyak dengannya? Sudahkah kita menghabiskan waktu barang sejam dua jam dengannya selama satu hari setiap harinya? Sudahkah kita melakukan perjalanan panjang dengannya? Sebenarnya masih banyak indikator lain untuk menilai dan menerka-nerka perilaku orang lain.

Jika kita bahkan sangat jarang bergaul dengannya, janganlah coba untuk menerka tentang sikapnya. Melakukan itu membuat kita menjadi orang yang sok tahu. Sedang kita sendiri pun tak suka dengan orang yang sok tahu. Semisal ini, kita kenal seseorang, orang itu kenal dengan kita, tapi pergaulan biasa saja dan tak terlalu intens. Pada suatu ketika dia mengira-ngira soal sikap kita seperti ini, seperti itu dan seterusnya yang banyak sekali tak sesuai. Penilaiannya tentang kita justru membuat kita heran sehingga kita berpikir “siapa dia? Akrab tidak, bergaul juga biasa-biasa saja, tapi seakan tahu apapun tentang ku, sok tahu”. Tentu kita tak senang dengan penilaian semacam itu apalagi dari orang yang tak terlalu akrab. Tapi periksa dulu, kamu tak senang karena yang dia katakan tentangmu memang tidak sesuai atau karena kamu tak terima padahal yang ia katakan benar tentangmu?

Jika pun yang ia katakan tentangmu benar, kamu pun belum tentu bisa menerimanya kan? Lalu bagaimana bisa kamu membicarakan kejelekan seseorang pada orang lain? Karenanya, jawablah yang baik-baik saja jika pertanyaan seputar perilaku seseorang jika itu bukan perkara besar. Apabila pertanyaan mengenai perilaku berkaitan tentang hal besar seumpama pernikahan, perniagaan, jawablah setahu mu. Misalkan seorang wanita bertanya kepadamu tentang bagaimana perilaku laki-laki yang hendak melamarnya karena laki-laki itu ialah temanmu, kenalanmu, sahabatmu, maka jawablah semampumu baik buruknya ia karena perkara nikah tak lah main-main. Jangan pula kamu memberi jawaban palsu karena ternyata kamu juga menyukai wanita yang sama. Jikalau kamu tak mampu memberikan jawaban yang memuaskan, rekomendasikanlah orang lain yang berkompeten.

Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang mata lihat tanpa mencoba terlibat dengannya. Karena jika tak bergaul dengannya, tak akan bisa kamu memastikan bagaimana ia. Kadang ia tak seburuk yang kau duga. Jangan pula menilai seseorang hanya dari apa yang kamu dengar dari orang lain, karena yang kamu dengar kadang hanya ujaran kebencian atau pujian dari fanatisme. Kenalilah lebih dalam, maka kamu akan tahu, mungkin karena itu ada pepatah "Tak kenal maka tak sayang". 

Setahu apa kita terhadap perilaku orang lain, kita tak berhak menghakiminya karena sejatinya kita tak benar-benar tahu bagaimana seseorang itu. Karena tak semua orang menampilkan total dirinya pada orang lain. Kita tidak bisa menilai seberapa kuat seseorang, juga tak bisa mengatakan seberapa lemah dia. Manusia itu keterbatasan yang tak pernah bisa kita pahami batasnya. Jadi, janganlah merasa sangat tahu tentang teman-temanmu, kenalanmu maupun sahabatmu. Bisa jadi sikapmu yang seolah tahu itu dapat menyinggung orang-orang terdekatmu. Ucapkan saja yang baik-baik tentang kenalanmu, temanmu, sahabatmu. Jika kau benar-benar tak tahu, katakan saja tak tahu daripada menerka-nerka yang tak meiliki dasar.

Kata penutup, mengutip, lupa dari siapa dan kata-kata tepatnya, yang jelas maknanya demikian. Ketika kita bermasalah dengan satu orang, itu maklum dan wajar. Tapi jika kita bermasalah dengan hampir setiap orang, coba cek diri kita, sudah benarkah kita? Curigailah diri kita terlebih dahulu sebelum mencurigai orang lain. Kita jarang menyadari bahwa kadang pemikiran kita sendiri yang menjebak kita dalam menolak kebenaran dari luar. Intropeksi diri, kita tak selalu benar, jangan sampai ego membutakan diri.

Bahkan aku pun belum tentu suci dari dosa ketika menulis ini.




Senin, 17 Juli 2017

Lima Puluh Kota/Payakumbuh


Kapalo Banda

Masih dari Kabupaten Lima Puluh Kota. Kali ini tempat yang akan kita bahas adalah Kapalo Banda Taram. Apa itu Kapalo Banta Taram? Kapalo Banda Taram adalah sebuah objek wisata air yang alami dengan dikelilingi oleh pemandangan alam yang indah. Kapalo Banda Taram terletak di Kenagarian Taram, Kecamatan Harau, sekitar 20 menit jika dari pusat Kota Payakumbuh dengan kendaraan bermotor dan berjam-jam kalau jalan kaki.

Kapalo Banda Taram sendiri merupakan objek wisata air yang diinovasikan dengan adanya rakit-rakit yang digunakan untuk mengarungi air Taram. Ya, ini adalah wisata berakit-rakit ke hulu yang menyenangkan lagi menentramkan, menghilangkan stress.

Ini penampakannya, abaikan saja uni dalam gambar

Kapalo Banda Taram


Yah, pemandangan hijau dan perbukitan akan menyambut setiap pengunjung. Soal rakit, selalu tersedia, kita hanya perlu menyewa rakit dengan kisaran harga Rp. 15.000-20.000, tergantung musim, seperti musim libur, harga kadang tidak stabil. Jangan sampai rakit yang anda naiki juga tidak stabil nantinya ya.

Kapalo Banda Taram


Taram




Kamu bisa menikmati rakit bersama dengan teman-temanmu disini, jika takut sendirian, tapi kalau sendirian kesannya jomblo sekali, jadi ajaklah teman-teman jika kamu tak punya pasangan kesini ya.


Penampakan lainnya

kapalo banda taram





Kapalo Banda Taram merupakan obyek wisata yang cukup unik dan menarik untuk dikunjungi. Wisata sekaligus olahraga, iya, olahraga mendayung rakit. Lokasi ini selalu ramai didatangi oleh pengunjung baik dari dalam kota maupun luar kota apalagi kalau hari libur, sampai tumpeh-tumpeh.

Dari pada hanya mendengar dan membaca, jika ada waktu berkunjung ke Sumatera Barat dan Kab. Lima Puluh Kota, sempatkan kesini.


Air Terjun Lubuk Bulan

Masih bermain dengan air, tapi ini butuh tenaga dan stamina ekstra. Air Terjun Lubuk Bulan, searah dengan air terjun Jara, sama-sama berlokasi di Mungka, namun melalui jalur pendakian yang cukup tinggi dan panjang, sekitar 180 menit dengan berjalan kaki. Bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor, itu jika anda telah berpengalaman berkendara mendaki bukit sih, jalan tanah loh ya, bukan aspal atau semen.

Sedikit penampakan rutenya


Lubuk Bulan

Itu adalah pemberhentian yang ke sekian hasil pendakian. Jalan tahap awal seperti ini. Percayalah, ini ketinggian yang mampu membuatmu jadi patah-patah jika terjun bunuh diri. Dan ini baru 10% dari jarak yang mesti dilalui

Sambil beristirahat, kamu bisa menyaksikan keindahan alam Payakumbuh dengan deret bukit bukit yang menghijau. Keren!

Rute selanjutnya, masuk semak.




Istirahat yang kesekian dari kesekian kalinya. Melihat rute ini, membawa kendaraan bermotor memungkinkan bagi anda yang telah mahir menghadapi jalan pendakian. Jika anda berjalan kaki, persiapkan amunisi makanan dan minuman yang banyak, tak ada yang jualan makanan dan minuman disini, daun dan rumput saja yang ada.

Dan

Air Terjun Lubuk Bulan

Itu adalah wajah-wajah bahagia karena tak menyangka perjalanan akan sejauh itu. Awalnya kami berpikir akan memakan waktu satu atau dua jam saja, ternyata lebih.

Dan, ini kenampakkan lainnya

Air Terjun Lubuk Bulan


Yah, itulah sedikit kenampakan dari Kapalo Banda Taram dan Lubuak Bulan. Biaya masuk Lubuk Bulan sekitar Rp.5000-10.000an, tergantung suasana dan musim.

Berkunjunglah dan dapatkan ceritamu sendiri!

Minggu, 02 Juli 2017

Mengintai dari Tirai Kamar



Dinginnya angin malam ini
Menyapa tubuhku
Namun tidak dapat dinginkan hatiku
Yang kau hangatkan

Terasa tercabarnya kelakian ku ini
Dengan sikapmu
Mentanglah aku ini insan kekurangan
Senangnya kau mainkan

Siapalah aku ini
Untuk memintal buih yang memutih
Menjadi permadani
Seperti mana yang tertulis dalam novel cinta

Juga mustahil bagiku menggapai bintang di langit
Menjadikan hantaran
Syarat untuk milikimu
Semua itu sungguh aku takkan mampu

Silap aku juga kena jatuh cinta
Insan sepertimu seanggun bidadari
Seharusnya aku cerminkan diriku
Sebelum tirai kamar aku buka
Untuk mengintaimu

Song by:
Exist :
Mengintai Dari Tirai Kamar





                                                                                  

Minggu, 18 Juni 2017

Mereka yang Bercinta Hanya dalam Hati




Aku melihat mereka nan mencinta dengan cara berbeda
Mencinta dalam dambaan tanpa sepatah kata untuk-nya
Mengirim pesan-pesan kebaikan pada langit
Mengabarkan kedukaan melalui hujan
Berbagi lewat do’a dan aksara
Atas nama dia, kasih (dalam hati) nya

Adalah kekuatan tak hingga
Ketika anugerah dalam genggaman tetap tertutup rapat
Meski sejatinya yang tercinta telah dapat dimaknai hatinya,
sikapnya.

Adalah keberanian
Ketika rasa yang begitu tinggi
Bisa-bisanya ia tenangkan, bahkan ketika Dia telah menjemput rasa itu

Adalah keteguhan
Ketika makna-makna yang tersabdakan terabaikan
Lalu dengan sendirinya tetap menyimpan perasaan itu
Tanpa dendam dan kebencian

Mereka, yang penuh ketulusan
Terlihat seperti orang-orang bodoh, mengorbankan diri
Mengurung pribadinya dalam ruang rindu penantian tanpa kepastian
Mengabaikan diri sendiri
Demi kebahagiaan dan demi-demi lain teruntuk-nya
Yang tercinta

Mereka, yang tetap dengan keyakinannya
Bersedia terluka dan kecewa
Merelakan airmata jatuh berkali-kali
Diabaikan, terabaikan
Pun demikian, tetap mengasihi
Seolah tak peduli bahwasanya hati mereka pun butuh akan dirawat
Butuh akan kebahagiaan

Sulit untuk bisa menerima
Kenyataan memang kadang mengharukan
Kediaman cinta, terunjuk dalam perbuatan-perbuatan
Dan balasannya, terkadang mewujud peng-abai-an
Hati itu tak pernah lelah
Entah apa yang mereka yakinkan pada diri sendiri

Mencintai dalam diam
Biarlah perbuatan yang menunjukkan
Betapa pun lisan tak pernah mengisahkan

Mereka yang kuat akan cinta yang demikian
Patut mendapat upah yang pantas
Namun hukum cinta tak lah demikian

Mereka tahu akan hal itu

Karenanya,
Mereka yang mencinta dengan cara demikian
Selalu mencintai dari kedalaman jiwa

Dengan ketulusan hati

cinta dalam diam

Minggu, 11 Juni 2017

4.10


The People

Hutan Kota, Minggu, Pukul 5.30 WIB

Pagi yang tidak terlalu gelap itu, Hutan Kota telah ramai oleh remaja-remaja tanggung yang hendak menyaksikan salah satu duel terbaik tahun ini. Duel besar beda generasi, namun akan sangat membara. Berduyun-duyun manusia datang satu per satu atau kelompok demi kelompok. Tidak hanya anak SMA, anak SMP pun turut meramaikan duel itu. Duel pergantian generasi ini juga dihadiri oleh orang-orang kuat baik yang akan habis masa atau yang akan segera mengambil alih kedudukan suatu era, sangat ramai hingga akan sangat mudah memicu tawuran antar geng. Namun demikian, pertarungan semacam ini tak pernah berakhir dengan tawuran, “Di Kota Ini” telah ada semacam perjanjian tak tertulis yang telah dipahami bersama bahwa setiap ada duel maka jangan sampai ada keributan karena sanksi yang menimpa adalah bagi kelompok yang menjadi pemicu akan dimusuhi oleh seluruh kota. Entahlah, namun yang demikian pernah terjadi sehingga tak ada yang berani melanggarnya.

“Aku tidak menyangka, di pagi yang indah untuk tidur ini kau memaksaku untuk keluar Ndra” gumam Adi yang tengah mengikuti langkah cepat Andra. Andra memaksa untuk menginap di rumah Adi kemarin. Andra ternyata penasaran dengan duel ARG dan Ryo Anggara, dan karena rumah Adi hanya berjarak setengah jam perjalanan dengan berjalan kaki dari Hutan Kota, maka jadilah rumah Adi tempat persinggahan Andra. Adi sendiri masih tak tahu kemana tujuan mereka, ia hanya terpaksa mengikuti Andra yang katanya ingin joging. Ketika akan sampai di Hutan Kota, Adi terhenti, dari kejauhan ia lihat ramai-ramai anak-anak SMA. “Kau lihat kan Di? Itu tujuan kita”. Seraya Andra menambah cepat langkahnya. “Oi pelan dikit napa!” seru Adi sambil berlari mengejar Andra.

Sesampainya di Hutan Kota mereka telah melihat puluhan remaja tanggung menatap ke satu tempat, tempat dimana ARG telah duduk menanti Ryo Anggara yang belum hadir saat itu. “Di, ayo kita cari tempat yang cukup tinggi biar bisa melihat semuanya dengan jelas”. “Tempat tinggi?” tanya Adi. “Iya di”. “Pohon yang tinggi”. Mendengar jawaban itu dengan mengerinyitkan dahi Andra menatap Adi “Hmmm ... Ide mu boleh juga”. Selang beberapa saat mereka telah asik menatap sekeliling dari sebuah pohon yang cukup tinggi. “Posisi yang bagus kan Di?”. “Lumayan, tapi ini ada apa?”. “Ada pertarungan besar Di”. Seru Andra bersemangat. “Kau lihat orang yang tengah berdiri ditengah-tengah itu?”. Adi menatap ke arah telunjuk Andra. “Dia itu Ari Rahman Gunaryo, calon ketua baru dari geng motor terbesar “Kota Ini” akan bertarung dengan Ryo Anggara, ketua-nya sendiri yang akan pensiun”. “Ryo Anggara?. “Iya, Ryo Anggara, kenapa, kau kenal?”. “Ah tidak Ndra”. “Ramai sekali ya, jadi ingat masa lalu” sahut Adi tanpa sadar. “Iya, eh kau ngomong apa barusan Di?”. “Enggak, nggak ada. Eh ada yang datang Ndra!”. “Ryo datang!”.

Ryo Anggara datang. Ia melangkah pasti menuju “panggung” tempat dia akan beraksi. Suasana hening, aura dan wibawa seorang ketua meliputi suasana sekitarnya. “Kau datang, ketua”. Sahut ARG. “Tidak usah basa basi Ri, kita langsung saja”. “Sebentar deh, kalian jangan terlalu bernafsu” seseorang muncul dari tengah kerumunan. “Sebuah duel harus ada wasitnya, dan wasit mesti dari pihak netral kan? Bagaimana menurut kalian semua penonton?” seru orang itu. Semua orang berteriak mengiyakan. “Boleh juga Ndan, bagaimana menurutmu Ri?. “Baiklah ketua, itu tidak masalah”. “Bagus kalau begitu, aku Hamdan Dullah akan memimpin duel ini”. Hamdan mencoba menjadi saksi dari era-nya yang akan berakhir. “Baiklah, siap, mulai!!!”. Batas telah dilepaskan, duel telah dimulaikan. “Jangan menahan diri ketua”. “Kau juga Ri”. Dan keduanya mulai saling serang satu sama lain. Pukulan demi pukulan telah beberapa kali dilayangkan, silih berganti menyentuh sasaran dan tak sedikit pula yang hanya menyentuh angin.

4


“Dari sekian banyak manusia di tempat ini, ternyata ada dua ekor monyet yang ikut nonton ya?” sebuah suara yang tak asing mengusik kesenangan Adi dan Andra. Dengan kesal Andra yang terbawa suasana panas menghardik suara itu “Bacot oi!”. Dan seketika itu juga Andra justru kaget bercampur takut ketika suara itu adalah suara Adri. “Eh, Adri, ha ha hai Dri”. Andra melunak. “Oi Dri, naik yok, ada tempat kosong nih”. Tanpa menunggu jawaban Adri telah naik dan ikut menikmati pertarungan dari ketinggian. Sebuah pukulan keras mendarat di wajah ARG, pukulan yang amat keras. ARG roboh, ia terlentang dengan nafas tersengal. Duel telah berjalan sekitar 10 menit, dan ARG akhirnya terkena pukulan keras. Penonton riuh dan suasana bertambah panas, ARG kembali berdiri, ia menyeka darah diwajahnya. Dan suara penonton bertambah riuh lagi, dan lagi.

“Hei Dri, mumpung kau disini, aku akan memberimu info soal orang-orang kuat yang akan memulai era baru, mereka semua berkumpul disini lo”. Seperti biasa, Andra muncul dengan informasi-informasi dunia hitamnya. “Heh, sepertinya menarik, tunjukkan Ndra”. Adi hanya geleng-geleng kepala, cuma ini yang membuat dia bersemangat ternyata gumam Adi. “Dengarkan dan ingat baik-baik Dri:

Saat itu hutan kota amat ramai, yang datang tak sekedar orang-orang biasa. Banyak anak-anak yang tergolong kuat di generasi mereka yang ikut menonton duel tersebut. Hampir semua sosok potensial dari “Kota Ini” hadir menyaksikan duel, hampir semua dari sudut kota mereka berdatangan. “Kota Ini” terdiri dari sembilan SMA Negeri, dua STM dan satu SMA Swasta, artinya ada 12 kekuatan dan kekuasaan di “Kota Ini”, itu belum termasuk dengan geng-geng yang dibentuk bukan karena latar belakang pendidikan seperti Sevenars, Black City, dan banyak lagi geng yang tidak diketahui. Kali ini, aku hanya akan menjelaskan orang-orang kuat yang aku kenal saja, susah untuk menunjukkan siapa mereka karena mereka tidak memakai seragam sekolah. Oke, kita mulai, pertama-tama dari Sevenars, ARG adalah ketua mereka setelah ini tidak peduli kalah atau menang dia dalam duel ini.”

Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...