Sabtu, 16 Juni 2018

Musafir

Tiada tujuan yang kau arah
Mata angin tak kau hiraukan
Ke barat kau melangkah
Ke timur juga kau tuju
Ke utara kau pergi
Ke selatan pun kau berlari

Musafir
Hidupmu bebas tiada ikatan
Musafir
Berkelana sepanjang waktu
Musafir
Apakah yang kau cari
Hooo ...
Musafir
Apakah arti hidumu

Tiada siang maupun malam
Kau pergi sekehendak hatimu




Panbers - Musafir

Sabtu, 02 Juni 2018

Nomaden


Tanah kelahiran bisa jadi bukanlah tempat untuk tumbuh dan berkembang
Tempat menetap pun tak dijanjikan sebagai tempat terakhir
Kita hanya pejalan yang mengikuti takdir
Dan akan selalu menjadi musafir

Perjalanan panjang yang telah menanti
Akhir cerita yang tak pasti
Lika-liku pendakian
Orang-orang baru
Pertemuan
Perpisahan
Selalu ada yang datang, demikin pula dengan pergi
Kita tak bisa menolak pertemuan
Pun tak kuasa akan perpisahan

Pada suatu waktu
Kita yang mengantar
Di waktu yang lain,
Kita yang diantar
Betapa hidup begitu sederhana
Namun begitu banyak makna tiap-tiap peristiwa
Maka, bersyukurlah

Teruskanlah perjalanan
Selama hayat senantiasa memeluk jasad
Teruskan pengamalan
Sebelum tempo jatuh tenggat

nomaden


Senin, 09 April 2018

Jarak




Tentang jarak, tentang rindu yang akan terus memuncak, tentang perasaan yang kian bergejolak, tentang suara-suara dalam diri yang bersorak-sorak, namun tersekap dalam dekap dan menguap dalam gelap.
Tentang jarak, ruang yang membatasi temu.
Bagaimana menyebut rindu yang amat sangat? Jika rasa itu tak pernah bisa dirangkai dengan aksara, tak kalimat yang bisa mewujudkan, tak kata-kata yang dapat mengungkapkan, aku rindu!
Perihal jarak ini memang pelik. Ia bisa memancing khawatir dalam diri, kegelisahan-kegelisahan. Mengertilah, dua orang dengan perasaan yang sama paham betul hal ini. Jarak tak hanya ujian akan rindu dan kasih, ia juga ujian kepercayaan. Siapa yang menunggu siapa, siapa yang mempercayai siapa, siapa yang menjaga siapa, siapa yang mengharap siapa?
Jarak ini, adalah caramu mengusahakan seseorang dengan do.a setelah berbagai upaya dan tindakanmu dahulu, sisanya kepercayaan. Untukmu juga, akan didoakan dan mesti menjaga kepercayaan. Karena jarak adalah ujian untuk dua orang dengan perasaan yang sama.
Jarak ini, caraku menjagamu dari kejauhan, memintamu dalam do’a-do’a.

jarak


Jumat, 24 November 2017

Pesisir Selatan Explore II

Bicara Pesisir Selatan maka tak akan lepas dari pantai. Yup, Pesisir Selatan adalah salah satu kabupaten yang berada di wilayah tepian pantai Pulau Sumatera. Pesisir Selatan kaya akan pantai pasir putih yang akan memanjakan mata dan laut biru yang menenangkan. Tak perlu berpanjang lebar, langsung saja cek TKP ...


Pantai Batu Kalang

Batu Kalang merupakan pantai pasir putih dengan bebatuan yang menghiasi tepiannya. Pantai ini berada di Kecamatan Tarusan, tak jauh dari kawasan puncak Mandeh. Kalau dari Kota Padang, diperlukan waktu sekitar satu jam untuk ke tempat ini. Berikut penampakannya





Batu Kalang menyajikan keindahan biru laut dan pasir putih yang memanjakan mata. Disekitar pantai juga terdapat banyak pedagang makanan yang menyediakan beraneka makanan. Kamu bisa mandi juga disini dan menjelajah karena pantai ini cukup panjang wilayahnya. Pantai ini juga dapat dinikmati dari ketinggian karena terdapat jalan yang sedikit mendaki jika kamu mencoba menelusuri pantai ini. Dan pemandangan dari atas akan menyajikan penampakan yang berbeda, namun tetap indah.

Kawasan Mandeh

Kawasan Mandeh merupakan pesona wisata yang lengkap karena terdiri dari pulau pulai kecil yang indah. Namun saya tidak akan membahas tentang pulau-pulau di kawasan Mandeh, saya hanya akan sedikit berbagi tentang Puncak Mandeh. Puncak Mandeh merupakan sebuah puncak yang darinya kamu bisa menyaksikan pemandangan laut dan pulau pulau kecil yang berada di kawasan Mandeh. Puncak Mandeh menampilkan view laut dan pulau-pulau yang amat menawan, terutama saat sore dan ketika matahari mulai tenggelam.






Puncak Mandeh merupakan spot yang bagus untuk menyaksikan sunset. Karena suasana alamnya saat matahari terbenam sangat mempesona.

Oke, sekian dulu untuk momen ini. Well, menikmati langsung selalu jauh lebih nyata ketimbang hanya mendengar, so, come in.









Sabtu, 21 Oktober 2017

Aia Mato Mande


Jikok malam tibo
Sadiah tadanga
Isak jo tangih
Ratok tangih hati nan tingga
Badan baduo tingga surang
Sadiah ...
Tinggalah mande baurai aia mato
Oi kanduang ...
Tinggalah made baurai aia mato

Sampai hati ayah bajalan
Larek di ladang urang
Parak kito lah rimbo

Sakik sanang kami jo mande
Manyambuang hiduik hanyo mande
Sunyi ...
Ganti ayah hanyo aia mato mande
Oi kanduang ...
Tinggalah mande baurai aia mato

Mande
Usahlah mande manangih juo

Hapuihlah sudah aia mato mande

Sabtu, 30 September 2017

Do’a yang Takut


Aku bukanlah hamba yang taat
Ketika hati memilih mu
Diam-diam ia sering mendo’a atas nama mu

Aku takut,
Terlalu sering do’a ku
Dia akan marah
Bukan apa-apa
Dia itu pencemburu

Aku semakin takut saja
Do’a ku akan mu terlalu meminta
Sedang Dia juga mesti di cinta
Tak boleh sekedar saja, harus di atas segalanya


Aku takut, Dia marah karena do’a-do’a ku terlalu menginginkan mahluk-Nya.


Minggu, 24 September 2017

4.12.

 Introduce of Me

Pada sebuah tempat yang penuh dengan intrik. Redstars sedang berkumpul bersama Arainan. “Aku tak bisa memaksanya, dan bukan prinsipku untuk menyerang dari belakang” ucap Arainan. “Si mesum ini juga punya harga diri rupanya” balas Anwar. Arainan nampak kesal mendengarnya.
“Begini saja, kau ikuti strategi ku, strategi ini cocok dengan jiwa mesummu itu”.
“Sial, tapi kalau cocok boleh deh, apa ide mu?
Dan tak lama setelah itu, dua pertarungan besar akan meramaikan SMA 4 yang damai ini.
***

Malam itu Adi sangat sibuk dengan game Playstation 1 nya. “Di, makan dulu nak, kamu belum makan sejak sore tadi” seru ibu yang sampai mendatangi kamar Adi. Adi masih asyik saja dengan permainannya, suara alunan radio menjadi hiburannya malam itu. alunan lagu sendu membuat suasana bermain Adi jadi kusyuk. Tiba-tiba suasana jadi hening, alunan lagu dari radio hilang. “Di, makan dulu, kamu masih belum makan sejak tadi sore!” kali ini Ibu masuk kamar Adi dan langsung mematikan radio. “Eh Ibu, iya bu, nanggung dikit lagi” seru Adi sambil tetap melanjutkan pekerjaan. “Sekarang, Adi!!!” bentak Ibu. Kali ini tanpa ba bi bu Adi langsung meloncat dari arena bermainnya. “Iya bu”. Adi tak berani melawan kalau Ibu sudah membentak seperti itu. “Dasar anak jaman sekarang harus di bentak dulu baru jalan” keluh ibu.
Ibu menghampiri Adi di meja makan.
“Di, kapan rapor semester satu ini dibagikan?.
“Sabtu depan bu, sekarang sekolah lagi classmeeeting, ibu bisa datang kan?”
“Hmmm, tentu, ibu akan datang tapi mungkin ibu mesti ke toko sebelum itu, tidak apa-apa kan?”
“Iya bu, lagipula bagi rapornya paling cepat jam 09.00”
“Iya Di” jawab ibu sambil tersenyum. Sebagai orang tua tunggal, ibu hanya malam hari saja bertemu dengan Adi di rumah, karena sejak pagi hingga sore ibu harus ke toko di pasar. Pagi-pagi sekali ibu sudah mesti bangun untuk memasak. Untungnya Adi sudah terbiasa mandiri sejak ayah dan ibunya bercerai sejak ia di Sekolah Dasar. Bagi ibu, menyediakan sedikit waktu untuk putranya adalah sebuah kebahagiaan.
“Libur nanti, Aji ingin kesini katanya Di” ucap ibu lagi. Adi tertahan sejenak. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya.
“Ayah juga bu?” tanya Adi. Ibu menggeleng, raut wajahnya menampakkan kesedihan. Adi yang menyadari itu menyesali pertanyaannya. Tanpa sengaja ia telah melukai perasaan ibunya.
“Maaf bu, Adi tidak bermasud menyakiti hati Ibu”. Ibu menggeleng, ibu mencoba tersenyum.
“Tak apa nak, ibu senang karena Aji akan kesini, mungkin ibu akan mengajak kalian bertamasya saat Aji kesini”.
“Iya bu?”
“Iya nak”
“Yess! Makasih bu”
“Iya, habiskan makananmu dulu”

Ibu tersenyum melihat kebahagiaan putranya itu, meski terselip duka dari mata ibu. Ibu masih harus menahan hati, ia sadar, Adi tentu rindu ayahnya. Namun ibu masih belum bisa memaafkan kesalahan mantan suaminya. Sakit masih menaungi hati Ibu. Perselingkuhan ayah dengan sekretarisnya waktu itu benar-benar membuat ibu terpukul. Ibu tak punya pilihan selain jalan berpisah, perpisahan yang juga memisahkannya dengan satu putranya lagi yang ikut dengan ayahnya. Ayah menikah dengan sekretarisnya meski tak lama ayah bercerai lagi dengan sekretaris tersebut. saat ini ayah pun sama seperti ibu, hanya berdua dengan Aji, adik Adi.
***

Adri menikmati makan malam bersama dengan Bu Darmi, pembantu sekaligus orang yang telah menjaga Adri sedari kecil. Bu Darmi selalu menemani makan malam Adri jika Adri sedang makan malam di rumah, karena biasanya Adri selalu makan malam di luar. Meski begitu, Adri selalu membawakan Bu Darmi makanan. Tapi kali ini Adri telah meminta Bu Darmi untuk memasak makanan kesukaannya. Adri melahap makanan yang ada semuanya. Ia sengaja tak jajan hari ini.
“Ayah dan Ibu, kapan katanya akan pulang Mbok?”
Bu Darmi terdiam, ia tak ingin merusak suasana makan Adri dengan jawabannya.
“Makan dulu Mas, nanti saja ceritanya. Mbok buatin jus dulu ya”. Sambil Bu Darmi beranjak menuju dapur. Bu Darmi lah orang yang menjaga rumah besar ini, rumah besar yang terlalu besar untuk keluarga kecil ini. Kedua orang tua Adri selalu sibuk dan pulang ke rumah adalah hal yang jarang. Kalaupun pulang, paling malam dan pagi harus berangkat lagi. Hal demikian akhirnya membuat Adri enggan di rumah. Rumah tak senyaman itu untuk Adri.
“Mbok, aku udah nih, udah habis semua”
“Iya Mas, ini minumnya”
“Makasih Mbok”
“Mas, kenapa tanya Bapak sama Ibu? Bapak sama Ibu tadi siang menelpon kalau mereka akan ke Itali untuk seminggu ke depan”.
Adri menghembuskan nafas panjang, ia maklum, ia menghabiskan minumnya. “Nggak apa-apa Buk, nanya aja kok, hehehe”. Bu Darmi memperhatikan Adri. Ia tahu ada yang disembunyikan Adri, Bu Darmi sangat tahu akan Adri karena baginya Adri sudah seperti anaknya sendiri. “Mas, kalau ada apa-apa, bilang sama Mbok, mungkin Mbok bisa bantu”. Adri terdiam, senyumnya masam. “Nggak apa-apa mbok, aku Cuma rindu mereka” Ucap Adri sambil berdiri. “Mbok, aku ke kamar dulu ya”. Kemudian Adri berlalu menuju kamarnya. “Iya Mas”. Bu Darmi selalu merasa kasihan akan tuan mudanya itu, tapi setidaknya Adri tak keluar malam ini, karena biasanya jika permasalahan orang tuanya, Adri akan keluar malam dan pulang entah jam berapa. Bu Darmi-lah yang setia menanti kepulangan tuan mudanya meski kadang tak pulang sama sekali. Dalam kamar Adri hanya menatap keluar, ke jalanan dari jendela kamarnya di lantai dua. Jalanan amat ramai saat itu, dan Adri hanya menatap dalam kediaman. Maaf Mbok, kebutuhan anak akan orang tua adalah hal yang tak tergantiakan, suara Adri lirih.
***

Rumah Andra, malam. Suasana hangat terpancar dari rumah sederhana ditepi gang kecil itu. Andra beserta ayah dan ibunya tengah menikmati makan malam keluarga. Sudah jadi kebiasaan di rumah Andra untuk makan malam bersama ketika semua orang telah berkumpul, suasana yang tidak setiap hari bisa mereka rasakan terutama jika Andra harus kerja malam hari menjaga mini market tempatnya bekerja. Pembahasan malam itu adalah tentang liburan dan rencana-rencana ke-depannya. “Bu, nanti yang pergi ambil rapor Andra siapa?”. Ibu Andra membuka suara. “Biar Ibu yang menjemputnya Ndra, kalau bapakmu dia kan kerja dari pagi”. “Sekalian ibu juga ingin bertemu dengan teman-teman yang sering kau ceritakan pada Ibu itu, siapa namanya? Adi dan Heri, bukan?”. Andra menahan tawa mendengar ucapan Ibunya. “Hahaha, bukan Heri bu, tapi Eri, Erika, dia cewek bu, anaknya cantik dan baik”. Ujar Andra sambil tersenyum. “Oh iya itu, jadi nggak sabar ketemu teman-temanmu Ndra”. Andra tersenyum-senyum saja mendengarnya. “Oh ya, libur nanti kamu jadi kerja dari siang sampai malam?” tanya Bapak sambil mengambil nasi tambah. Ibu refleks menahan Bapak yang mau mengambil nasi tambah. “Jangan makan banyak Pak, ingat gula darahnya”. “Dikit aja bu, Bapak masih lapar”. Bapak masih berusaha mengambil nasinya.
“Jadi Pak, dan kalau tidak ada halangan, mulai sekolah nanti tabungan Andra akan cukup untuk membeli sebuah sepeda motor baru” ucap Andra sambil tersenyum.
“Bagus itu Ndra, Bapak bangga sama kamu”. Balas Bapak sambil masih mengunyah makanannya.
“Makannya di rem dong Pak”. Ibu kembali mengingatkan
“Hehe, santai Bu, Bapak lagi senang nih”
Dan keributan-keributan kecil yang menghangatkan selalu mewarnai meja makan keluarga ini hingga malam menjelang dan lelap menina-bobo-kan.
***

Hari ke-3 Class Meeting, suasana yang menyenangkan karena beberapa perlombaan sudah mulai memasuki babak terakhir. Suasana yang akan amat dinanti-nanti bagi yang suka olahraga dan seni dalam menampilkan keahliannya. Bagi yang tidak berminat terhadap Class Meeting, bisa dipastikan berada di kantin, di dalam kelas berkumpul dan bercerita, atau tempat-tempat lainnya yang bisa saja melakukan hal-hal yang melanggar, toh saat-saat seperti ini keaman dan pengawasan dari pihak sekolah sudah berkurang. Kebebasan Class Meeting juga dimanfaatkan oleh Red Stars dan Arainan dalam mencapai tujuan. Arainan mendatangi gerombolan siswi kelas satu tempat dimana Lara, teman dekat Randi sedang berkumpul bersama teman-temannya. Dengan senyum penuh percaya diri Arainan mendatangi Lara, ia berdiri tepat dihadapan gadis itu. khalayak waktu itu terhening sesaat, waktu ter-jeda karenanya, tak terkecuali Lara. Ia terkejut akan kedatangan Arainan yang mengabaikan siapapun selain dia. Arainan menghadapkan wajahnya ke wajah Lara, batas wajah antara keduanya hanya sepersekian senti saja. Lara menahan napas sesaat ketika ia menghirup aroma rokok dari hembusan napas Arainan. Lara panik, ia pucat, keringatnya membasahi wajah ayu-nya. Arainan tersenyum dan tanpa sepatah kata hanya menatap tajam ke arah Lara. Saat-saat yang mendebarkan bagi Lara sebelum akhirnya ia menghentakkan tubuhnya berdiri, dan berlari meninggalkan Arainan. Semuanya terjadi begitu cepat dan semesta sekitar mereka tetap membisu, Arainan menatap kepergian gadis itu, yang ia sendiri tak tahu namanya. Senyum kemenangan tampil di wajah Arainan ketika arah lari yang di tuju oleh Lara justru memunculkan sosok yang amat ia cari, Randi.

Randi yang saat itu tengah berjalan menuju kelas tersenyum melihat Lara berlari kearahnya. Senyum Randi perlahan berubah ketika ia jelas melihat air mata mengaliri wajah gadis itu. “Lara” panggil Randi, meski saat itu Lara tak menghiraukan panggilan Randi, ia terus berlari sambil menutupi mulutnya, menahan isak menuju kamar mandi. Randi tersengat, emosinya naik, ia cari arah datangnya Lara tadi. Di antara gerombolan siswi teman sekelasnya, Randi menemukan sosok Arainan, yang tersenyum puas. Kini Randi dan Arainan telah bertemu muka, saling bertatapan, raut kebencian tampak jelas dari wajah Randi ketika senyum licik Arainan menghiasi wajahnya. “Jangan salah paham ya, aku hanya menyukai senyuman gadis tadi dan ingin menikmatinya sejenak, hehehe” ucap Arainan penuh kemenangan. Randi masih diam, tatapan matanya tajam menatap Randi. “Ayolah bung, dia hanya teman mu kan? Tak perlu marah begitu, lagipula ...” belum sempat Arainan menyelesaikan kata-katanya, sebuah tinju mengarah kewajahnya, refleks yang bagus, Arainan menghindarinya. Arainan mundur selangkah, dan siswi-siswi yang tadi hanya melihat mulai berteriak tak tentu melihat perkelahian itu. “Kau, aku akan membuatmu menyesal kribo sialan” tatap Randi sambil menunjuk Arainan. “Hehe, bagus kalau begitu, aku tunggu kau di Hutan Kota sore ini” Kemudia Arainan berlalu pergi. Randi menatap kepergian Arainan. Bagi orang-orang yang terbiasa berkelahi seperti mereka, sekolah memang bukan tempat yang nyaman untuk melakukannya.
“Hei Ran, itu Lara sudah kembali” tunjuk salah satu siswi tadi. Randi menoleh kebelakang, ia berlari ke arah Lara. Ia hampiri gadis itu, ia pegang dua tangannya, ia tatap wajahnya, wajah yang telah basah oleh air, tapi ketakutan masih tampak dari mata itu. Randi menggandeng tangan Lara, mengajaknya pergi. “Kita pergi Lara”. Lara hanya menurut, bagi Lara, Randi adalah teman yang bisa ia percaya lebih dari apapun, pun bagi Randi, Lara adalah segalanya untuk hatinya.
***

Lapangan sepak bola. Sedang ada pertandingan antara kelas X.1 dan XII IPA 2. Siswi-siswi kelas X.1 oleh siswa-siswa yang bertanding diminta untuk memberi dukungan, memberikan semangat. Tidak hanya itu, siswa kelas X.1 yang tidak ikut main pun disuruh memberi dukungan. Jadilah suasana pertandingan itu ramai akan suporter dari siswa kelas X.1, berbanding terbalik dengan kelas XII IPA 2 yang minim pendukung. Bahkan Adi pun ada disana, sebagai suporter bersama Andra yang memaksa Adi untuk menonton pertandingan. Suasana amat riuh pada pertandingan itu. Serangan dari kedua tim silih berganti mengancam masing-masing lawan, sebuah pertandingan yang penuh semangat dan sangat menghibur. Ini pertandingan semifinal di cabang sepak bola dalam kegiatan Class Meeting ini. Empat tim yang lolos ke semifinal ini terdiri dari kelas X.1, XII IPA 2, XII IPS 3, dan XI IPS 2. Kelas X 1 adalah satu-satunya kelas X yang lolos ke semifinal karena ternyata banyak pemain-pemain yang bagus saat masih di SMP, calon-calon penerus tim sepakbola sekolah, begitulah kata khalayak si SMA N 4 ini.

“Liat tu Di, si Joko Udin, dia memang hebat sekali mainnya”. “Tim sepak bola SMP ku saja dikalahkan oleh dia dulunya”. Ucap Andra sambil menunjuk-nunjuk Joko Udin yang dengan lincahnya melewati lawan-lawannya. Adi hanya menyaksikannya. Meski kurang suka olahraga dan tak paham sepakbola, namun ia paham bahwa permainan teman-teman sekelasnya sungguh bagus untuk dilihat. Hanya saja, lawan juga merupakan tim yang bagus. “Iya iya, dia memang hebat, Sutrisna juga bagus mainnya, tapi lawan juga kuat, susah nih buat menang”. Sahut Adi. Andra reflek menoleh ke Adi, tatapan tajam. “Itulah gunanya kau ada disini, keluarkan suaramu! Dukung mereka biar lebih bersemangat! Ucap Andra penuh semangat sambil menarik-narik tangan Adi keatas untuk membentuk yel-yel. “Ngajak berantem ya?” seru Adi ketus menarik paksa tangannya sambil berjalan pergi. “Yah dia kabur, ngambekan nih” sambil Andra menyusul dari belakang.
***

Disebuah sudut sekolah, Redstars dan Arainan masih merencanakan hal-hal buruk untuk keberhasilan tujuan mereka.
“Gimana tadi? Sudah lumayan bagus kan buat mancing si Randi biar dia keluar dari kandang dan melawan ku?”
“Itu lebih dari cukup Nan, gimana menurutmu Ron?”
Baron yang ditanya masih diam. Baron masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Arainan tadi. Ia merasa bersalah pada Lara karena ialah yang memberi informasi pada Anwar Faisal soal Lara dan Randi. Ia masih tertegun hingga Choki menepuk pundaknya. Baron gelagapan saat itu. Semua orang saat itu disana memperhatikan sikap Baron. Mereka sama-sama paham bahwa Baron adalah laki-laki yang amat menghormati perempuan. Dan apa yang terjadi tadi, adalah pukulan buatnya. Arainan berjalan menghampiri Baron.

                “Nak, aku berterima kasih atas info darimu, aku tadi itu tidak serius, jika bisa aku tidak ingin melakukan cara itu”. Baron masih terdiam. Dia menatap Arainan. Tatapan Arainan jelas dan tajam, tak ada kebohongan dalam tatapannya. Baron menarik nafasnya dalam-dalam. “Maaf, aku terlalu terbawa perasaan” seru Baron lagi. “Aku keluar dulu” Dan Baron pun melangkah keluar dari tempat itu, gudang kosong dibelakang sekolah. Anwar Faisal dan yang lain membiarkan saja, mereka fokus pada rencana selanjutnya, target selanjutnya Anwar Faisal, Adri Ramdhan.
***
4

Negeri di Awan

Di bayang wajah mu Ku temukan kasih dan hidup Yang lama lelah aku cari Dimasa lalu Kau datang padaku Kau tawarkan Kasih hati yang tul...